Mengunjungi Dapur Umum Penanganan Covid-19 di Liposos

Bulan Puasa Tiba, Jadwal Kerja Tetap Siang Malam

Setiap hari, sekitar sepuluh pegawai menghabiskan waktu di dapur umum Penanganan Covid-19. Mereka bertanggung jawab untuk memenuhi konsumsi warga yang menjalani isolasi. Bagaimana mereka menjalani puasa nanti?

HAMPIR MATANG: Beberapa anggota Tagana Dinsos Jember sedang mengaduk sayur kacang panjang di Liposos, kemarin (24/4). Setiap hari mereka menyiapkan 500 lebih nasi bungkus untuk mencukupi kebutuhan warga yang menjalani isolasi di JSG.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Gelak tawa terdengar dari dalam tenda berbentuk persegi panjang. Beberapa orang bahkan terkekeh begitu melihat salah satu temannya tampak kaku saat memasak. Maklum, tidak semua dari pegawai tersebut bertugas di dapur. Sebagian dari mereka ada yang dari Taruna Siaga Bencana (Tagana) dan ada yang dari Lingkungan Pondok Sosial (Liposos) Dinas Sosial Jember.

IKLAN

Meski sambil bergurau, sepuluh orang yang bertugas memasak makanan untuk penanganan Covid-19 terlihat tetap fokus. Candaan mereka seakan hanya sebagai pemanis agar tak jenuh berada di dalam tenda yang cukup gerah itu. Nantinya, masakan yang telah matang akan dibungkus, dan harus selesai tepat pada waktunya. Jika tidak, maka akan membuat lapar sekian orang yang berada di Jember Spot Garden (JSG) Desa/Kecamatan Ajung. Baik tim Satgas Penanganan Covid-19 ataupun warga yang menjalani isolasi.

“Setiap hari, kami harus memasak tiga kali. Jadi, ini sudah masakan yang kedua untuk makan siang,” kata Edi Suyanto, yang saat itu bersama Dzulmi Aziz dan Kholeq KS. Ketiganya sedang mengolah sayur kacang panjang. Sesekali mereka juga diminta tenaganya untuk membantu pegawai yang lain. Seperti harus mengangkat nasi yang sudah masak, atau bersama-sama membungkus nasi tersebut.

Rasa panas yang cukup menyengat siang itu seakan tak dirasakan. Beberapa orang tetap fokus menyelesaikan tugasnya masing-masing. Ada yang menggoreng ikan, menanak nasi, juga menyiapkan sayuran. Begitu semuanya matang, tinggal dibungkus dan diantarkan ke JSG.

Koordinator Dapur Umum, Kasi Rehabilitasi Sosial Korban Bencana Dinas Sosial Jember Teguh Sulistya menyebut, sebanyak sepuluh orang yang bertugas ada yang khusus memasak. Masing-masing memiliki bagian dan saling membantu. “Ada juga yang bertugas membungkus dan mengantar makanannya ke JSG,” katanya.

Secara teknis, Koordinator Liposos Dinas Sosial Rony Efendi mengungkap, jumlah makanan yang dimasak disesuaikan dengan kebutuhan. Selama beberapa hari terakhir, dalam sehari semalam mereka harus menyiapkan sekitar 525 bungkus nasi. “Satu kali pengiriman saat ini 175 nasi bungkus. Jumlah itu kami lebihkan untuk menjaga kemungkinan adanya kekurangan,” ungkapnya.

Rony, yang berada di Liposos, melanjutkan, kerja sepuluh orang dilakukan secara total siang dan malam. Jika harus beristirahat, maka mereka harus bergantian. Penyiapan untuk masak dilakukan sejak malam sebelumnya. Seperti membeli kekurangan bahan pokok. Kemudian, sebelum subuh sudah mulai dimasak untuk sarapan pagi. “Selanjutnya, pagi masak untuk siang, dan siang masak untuk sore atau malam. Jadi, makannya tiga kali,” ulasnya.

Nah, apa yang telah terjadi itu adalah hari-hari sebelum Ramadan. Rony menjelaskan, jadwal masak selama bulan puasa juga disesuaikan. “Begitu memasuki puasa, jadwal masak dan jadwal makan berubah. Masak malam hari untuk persiapan sahur. Masak siang hari untuk persiapan berbuka puasa,” tuturnya.

Bukan hanya itu, dapur umum juga akan memasak makanan di waktu sore atau setelah magrib. Hal itu dilakukan untuk menyiapkan santapan di malam hari. Dengan demikian, jatah makan untuk mereka yang ada di JSG tetap tiga kali. “Terkecuali, ada warga yang tidak puasa, maka akan disesuaikan. Yang jelas, akan tetap diransum. Pada hari pertama, informasinya lima warga tidak bisa berpuasa,” ulas Rony.

Dengan kerja siang dan malam, Rony menyebut, pekerjaan dilakukan dengan penuh tanggung jawab oleh para pegawai. Mereka yang bekerja memasak pun dikontrol agar tidak lupa makan dan tidak lupa beristirahat. “Jangan sampai pegawai yang di sini juga sakit. Sehingga penyiapan konsumsi tetap bisa maksimal,” pungkasnya.

Reporter : Nur Hariri

Fotografer : Nur Hariri

Editor : Mahrus Sholih