Bisnis Kerupuk Karang Mluwo, Bertahan di Tengah Pandemi

KEMBANG KEMPIS: Para pekerja sedang memisahkan kerupuk yang kering atau siap dijual dengan kerupuk yang masih basah untuk dijemur kembali.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dusun Karang Mluwo, Desa Mangli, Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember sejak dulu dikenal sebagai kawasan bisnis kerupuk. Hal ini ditandai dengan banyaknya rumah yang memasang anyaman bambu di halaman rumahnya, sebagai alat untuk menjemur kerupuk. Begitu juga dengan produknya, yang sudah sampai ke luar kota.

Namun hal itu tak bisa lagi optimal saat ini. Sejak pemerintah menganjurkan masyarakat untuk beraktivitas di rumah, bisnis kerupuk di Karang Mluwo mulai surut. Seperti yang dialami oleh Trisno, 55, salah satu pemilik pabrik kerupuk yang menjalankan bisnisnya sejak 25 tahun yang lalu.

Dia mengaku bisnisnya terancam rugi sejak Maret lalu. Pabrik yang biasanya memproduksi empat kuintal kerupuk dalam sehari, kini hanya bisa memproduksi dua kuintal saja. Bahkan, meski telah mengurangi jumlah produksi, dia juga masih harus menyimpan sisa kerupuk yang tidak laku. “Biasanya saya nggak pernah nyetok. Sekarang malah nyetok sampai dua ton,” ungkapnya.

Kendati demikian, Trisno sempat meliburkan sebagian pekerja di pabriknya selama kurang lebih dua bulan. Dia tak mau jika pekerja dibayar murah karena tidak adanya pelanggan yang membeli kerupuknya. “Diliburkan itu ada empat orang. Selama kira-kira dua bulan, tapi nggak secara terus menerus. Seminggu libur, dua minggu libur, sampai kalau ditotal sekitar dua bulanan itu wes,” kata dia.

Jumlah permintaan kerupuk pun menurun hingga 40 persen. Pelanggan yang biasa membeli kerupuk setiap bulan, kini mulai jarang bahkan ada juga yang berhenti berlangganan. “Ada yang besar itu dari Banyuwangi 20 sak, sekitar enam kuintal. Dari Lumajang juga ada yang 1 ton, biasanya ambil satu bulan, sekarang lebih satu bulan ambilnya,” imbuhnya.

Namun, di balik sepinya permintaan kerupuk, ada kabar baik yang datang untuk para pengusaha kerupuk lainnya. Harga tepung terigu turut menurun sejak bulan Agustus lalu. Diduga akibat panen raya yang berlangsung hingga saat ini. Sehingga, dia bisa memutar otak untuk membeli banyak tepung terigu sebagai stok bahan, untuk membuat kerupuk di hari selanjutnya.

 

Editor: Lintang Anis Bena Kinanti
Reporter: mg2
Fotografer: mg2