Waspadai, Jaringan Teroris Rekrut Pekerja Migran Indonesia

ADVOKASI PEKERJA MIGRAN: Ketua Pusat Studi Migrasi-Migrant Care, Anis Hidayah (dua dari kanan) saat berbicara dalam seminar internasional seputar HAM di Unej.

RADARJEMBER.ID – Kabar ini mungkin bisa menjadi kewaspadaan terutama bagi mereka yang anggota keluarganya berangkat bekerja ke luar negeri sebagai pekerja migran (dulu lazim disebut TKI). Beberapa jaringan radikal internasional banyak menjadikan komunitas buruh migran sebagai sasaran perekrutan atau penyebaran ideologi radikal.

IKLAN

“Sebenarnya ini bukan hal yang baru. Faktanya memang sudah ada, walau hanya sebagian kecil yang terekspose, bahwa mereka telah terpapar paham radikal,” tutur Ketua Pusat Studi Migrasi-Migrant Care, Anis Hidayah.
Fakta tersebut disampaikan Anis saat berbicara dalam seminar internasional bertajuk “Narrating Human Rights: Issues of Migration, Discrimination and Protection of Human Rights in Southeast Asia” yang digelar di Gedung FKIP Universitas Jember.
Penyebaran paham radikal kepada buruh migran tersebut dilakukan antara lain di negara-negara seperti Hongkong, Singapura, Taiwan dan Korea Selatan. “Justru terjadi di negara-negara yang bukan negara Islam. Karena jalur yang mereka pakai adalah media sosial,” lanjut Anis.
Penyebaran paham radikal justru sulit dilakukan di negara-negara kaya yang ada di Timur Tengah. Ini karena, di negara-negara tersebut, cenderung tidak demokratis sehingga dilakukan pembatasan yang cukup ketat terhadap akses penggunaan media sosial. Namun, jaringan radikal tersebut tidak selalu menggunakan media sosial.
“Seperti di Hongkong, pendekatan mereka diperkuat lewat jalur dunia nyata. Mereka mendekati komunitas buruh migran yang banyak berkumpul di Victoria Park, Hongkong saat hari libur,” ujar alumnus Hubungan Internasional – FISIP Unej ini.
Berdasarkan riset dari sebuah lembaga internasional, AIPAC pada tahun 2017, sekitar 40 orang pekeja migran di Hong Kong sudah terpapar paham radikalisme. “Sebenarnya tidak hanya dari Indonesia. Negara lain seperti Banglades, juga ada yang terjerat paham radikal. Tapi fokus kita cuma yang dari Indonesia saja,” jelas Anis.
Selain itu, data dari Kemenlu menunjukkan, pada tahun lalu, lebih dari 200 pekerja migran Indonesia terpapar paham radikal. “Bisa hanya terpapar ideologinya atau bahkan sudah masuk jaringannya,” tutur Anis.
Salah satu penyebab dari terpaparnya pekerja migran dengan ideologi radikal, menurut Anis adalah faktor psikologis dan tekanan kerja. “Karena mereka sendiri saat bekerja merantau ke negeri orang. Karena itu, untuk mencegahnya adalah terpenuhinya hak pekerja untuk mendapatkan hari libur secara rutin,” tegas Anis.
Dengan mendapatkan hak atas libur, para pekerja migran setiap minggunya bisa mendapatkan kesempatan untuk bersosialiasi dengan rekan-rekannya. “Sehingga mereka punya waktu untuk beraktualiasasi menyalurkan minatnya bersama teman-teman sedaerah atau senegaranya di negeri perantauan,” ujar Anis. (ad)

Reporter : Adi Faizin
Fotografer : Adi Faizin

Editor: Winardi Nawa Putra

Reporter :

Fotografer :

Editor :