Persentase Lansia Jember Kecil

Diharapkan Jember Mampu Tangkal Corona

HIDUP SEHAT: Eyang-eyang yang masuk lansia ikut dalam acara festival tanoker tahun kemarin. Lansia menjadi kelompok yang rentan tertular korona seperti di Italia. Untungnya, di Jember persentase penduduk Lansia kecil, tidak seperti di Italia.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Covid 19 atau Virus Corona menjadi pandemi dunia dan kini jumlah kasus tersebut terus melonjak, termasuk di Indonesia. Bahkan, kasus corona di Italia tercatat sebagai negara kedua tertinggi di dunia setelah Tiongkok. Jumlah korban jiwa di Italia juga paling tinggi. Namun, Jember tidak bisa disamakan dengan Italia. Sebab, persentase penduduk lansia tergolong rendah.

IKLAN

Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) dan Ketua Perhimpunan Sarjana dan Profesional Kesehatan Masyarakat Indonesia (PERSAKMI) Khoiron menyatakan bahwa apa yang dilakukan pemerintah dengan menggelorakan hidup sehat dengan rajin cuci tangan adalah langkah yang sangat bagus. Selain itu, ketahanan tubuh atau imunitas harus dijaga. Menjaga imunitas tersebut lewat istirahat yang cukup, makanan sehat, dan tidak stres.

“Walau meningkatkan ketahanan tubuh dengan banyak minum vitamin, tapi kurang istirahat, juga sama saja. Istirahat itu penting, istirahat yang cukup juga menurunkan tingkat stres,” katanya.

Berbicara imunitas, kelompok usia yang imunnya rendah adalah bayi dan lansia. Lanjut Khoiron, jumlah kasus korona di Italia itu tinggi, termasuk jumlah kematian akibat Covid-19 mencapai di angka sekitar 3,4 ribu melebihi di Tiongkok. Alasannya, lantaran kebanyakan penduduk Italia adalah orang tua. Sementara di Jember, jumlah penduduk lansia kecil.

Tercatat ada 2,5 juta jumlah penduduk Jember pada 2019 berdasar data di Badan Pusat Statistik (BPS). Jumlah tersebut terdiri atas kelompok usia 0-14 tahun sebanyak 22,86 persen, 15-64 tahun sebesar 68,78 persen, dan di atas usia 65 sebanyak 8,37 persen. Harapannya, penduduk Jember mampu melawan pandemi global Covid-19. “Banyak usia produktif, tapi tetap jangan lengah,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala BPS Jember Arif Joko Sutejo menambahkan, keberhasilan program kesehatan dan program pembangunan sosial ekonomi dapat dilihat dari peningkatan usia dan harapan hidup penduduk dari suatu negara. “Angka  Harapan Hidup merupakan alat untuk mengevaluasi kinerja pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk dan meningkatkan derajat kesehatan pada khususnya,” jelasnya.

Lanjut Arif, meningkatnya perawatan kesehatan melalui Puskesmas dan daya beli masyarakat akan meningkatkan akses terhadap pelayanan kesehatan. Hal itu juga mampu memenuhi kebutuhan gizi, dan kalori, sekaligus bisa mempunyai pendidikan yang lebih baik. Tujuannya, bisa berkolerasi untuk memperoleh pekerjaan dengan penghasilan yang memadai. Nantinya, dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan memperpanjang usia harapan hidupnya.

Sementara itu, Umur Harapan Hidup (UHH) saat lahir di Jember mengalami peningkatan. Pada 2019 kemarin, UHH mampu mencapai 68,99 tahun, sedangkan 2018 sebesar 68,74 tahun. “Dari tahun ke tahun, terus mengalami peningkatan untuk harapan hidup. Pada 2012 saja, umur harapan hidup hanya 67,65 tahun,” tambahnya. Dia menjelaskan bahwa bayi yang lahir pada 2019 kemarin memiliki umur harapan hidup sampai 68,74 tahun.

Idealnya, kata Arif, angka harapan hidup tersebut dihitung berdasar angka kematian umur. Sayang, kata dia, sistem registrasi penduduk di Indonesia untuk kematian belum berjalan dengan baik. Sementara itu, merujuk konsep Survei Sosial Ekonomi (Susenas) yang ditetapkan BPS, ada yang bernama gangguan sakit. “Gangguan sakit penduduk Jember pada 2018 itu mencapai 48,81 persen,” tuturnya.

Dia menjelaskan, dalam menyurvei masyarakat dalam satu bulan terakhir itu ada gangguan sakit. Bisa flu, sakit gigi, panu, diare, sesak, atau lainya. Namun, dari 48,81 persen sakit yang diterita tidak sampai menganggu aktivitas sehari-hari. Artinya, masih bisa bekerja atau bersekolah. Sementara itu, ada 15,26 persen sakit dari total penduduk yang sampai ganggu aktivitas. Jumlah persentase itu dinamakan angka kesakitan Jember pada 2019 kemarin.

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Hadi Sumarsono