Lahan dan Produksi Kopi Meningkat Drastis

MERAWAT KOPI: Pekebun kopi di daerah Sidomulyo, Silo, sedang memangkas ranting kopi agar produksinya meningkat. Silo menjadi daerah dengan kebun kopi terluas di Jember.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejak dulu, Jember dikenal sebagai daerah perkebunan. Hampir semua tanaman kebun ada di Kota Suwar-Suwir ini. Mulai dari tembakau, tebu, karet, hingga kopi. Sampai-sampai logo Pemkab Jember menggunakan tembakau. Tak hanya itu, branding daerah yang dipromosikan oleh pemkab juga didominasi oleh sektor perkebunan. Yakni 4C, coffee, cocoa, cigarettes, and culture.

IKLAN

Ini artinya, selain tembakau dan cokelat, kopi juga merupakan salah satu produk perkebunan yang bisa diandalkan. Terlebih, saat ini kopi telah menjadi tren kekinian yang digemari generasi muda. Dengan meningkatkan tren minuman hitam pekat itu, apakah petani juga mendapat berkahnya?

Siang itu, Akmin, pekebun kopi di daerah Gumitir, Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, melakukan aktivitas seperti biasanya. Mengandalkan gunting berukuran sedang, dia mulai memotong tanaman. Akmin menyusuri perkebunan kopi miliknya. “Kata orang PTP, agar kopi itu buahnya banyak, harus dipotong rantingnya,” kata dia.

Akmin mengaku, setidaknya lima tahun terakhir edukasi tentang tanaman kopi terus-menerus dia dapatkan. Awalnya, dia mendapat edukasi agar petani melakukan petik merah. Walau begitu, tidak semua pekebun patuh. Akmin juga salah satu pekebun kopi di daerah Silo yang tidak menuruti untuk petik merah. “Terlalu lama, enak sekalian semua dipetik,” ungkapnya.

Kini, dia mulai sadar petik merah bisa meningkatkan kualitas kopi dan tentu saja menaikkan harga jual kopinya juga. Terbukti, permintaan kopi terus meningkat. Meski hal itu juga menjadi masalah baru bagi Akmin dan rekan-rekannya sesama pekebun kopi robusta. “Orang sekarang pinter semua. Kalau nggak petik merah, banyak yang tidak mau,” paparnya.

Sementara itu, akan menambah luasan lahan, dia menambahkan, juga tak semudah yang dikira. Apalagi, lahan kopi miliknya tak semua miliknya sendiri, melainkan negara. Sehingga lambat laun, dia mau belajar dan mendapatkan edukasi tentang cara meningkatkan produktivitas kopi demi menambah penghasilan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jember, Kecamatan Silo menjadi daerah dengan luasan areal perkebunan kopi terbesar di Jember. Luasannya mencapai 40 persen dari total seluruh areal kopi di Jember. Total areal tanaman kopi di Silo pada 2019 lalu mencapai 2.133 hektare. Sementara, untuk Jember secara keseluruhan tercatat di angka 6.629,08 hektare. Bahkan, luasan tanaman kopi di Jember pada 2019 naik dua kali lipat dibandingkan 2018, yang hanya berada di luasan 3.149,53 hektare.

Silo memang daerah paling luas untuk tanaman kopi. Sayangnya, soal produktivitas masih tak sebanding dengan luasannya. Menurut data BPS, Jember Dalam Angka 2020, pada 2019 produksi kopi tertinggi justru dipegang oleh Kecamatan Sukorambi dengan total 1.790 ton dari luasan areal tanaman kopi yang hanya 215 hektare saja.

Sementara, total produksi kopi di Jember juga meningkat drastis. Pada 2018 ada 1,3 juta ton lebih, sementara pada 2019 naik tiga kali lipat menjadi 4.9 juta ton lebih (selengkapnya lihat grafis).

 

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih