Kemarau Kembar

Berharap Hujan, Warga Gelar Salat Istisqa 

BERHARAP TURUN HUJAN: Ratusan warga saat menggelar salat Istisqa di lapangan Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, Rabu kemarin (22/1). 

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Anomali cuaca rupanya mengancam keberlangsungan para petani. Jika pada musim tanam sebelumnya mereka tak kesulitan air, namun saat ini para petani tak lagi bisa mengairi sawah mereka. Minimnya curah hujan menjadi salah satu penyebab hingga tanaman mereka terancam mati kekeringan. Petani menyebut kondisi ini sebagai fenomena ‘Kemarau Kembar’.

IKLAN

Jarangnya hujan yang turun di masa tanam, membuat petani kelimpungan. Sehingga mereka menggagas salat Istisqa, yakni ritual ibadah meminta hujan. Ritual yang dilakukan oleh petani di Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, ini dilakukan secara berjamaah. “Awal tahun sempat hujan, sekali dua kali. Belakangan malah tidak hujan sama sekali,” kata Taufik Abdillah, koordinator acara.

Ia menjelaskan, sebenarnya beberapa hari kemarin sempat gerimis. Warga menyambutnya turunnya air itu dengan antusias. Sayangnya, gerimis itu tak disusul dengan hujan lebat seperti yang diharapkan para petani di desa setempat. Padahal, di desa tersebut banyak warga yang menunggu datangnya hujan. “Selama ini, desa kami belum pernah mengalami kekeringan separah ini. Sehingga kami memohon kepada Tuhan agar diberi hujan lewat salat Istisqa ini,” ucapnya.

Meski ritual itu baru pertama digelar, antusiasme warga cukup tinggi. Banyak warga yang berduyun-duyun mendatangi lapangan desa setempat untuk mengikuti ritual. Bahkan, lebih 800 orang yang ikut salat meminta hujan tersebut. Rata-rata, mereka berasal dari kalangan petani. Selain itu, ada pelajar, jajaran pemerintah desa, dan tokoh masyarakat dari desa sekitar.

“Kami sampaikan bahwa kita harus berdoa. Mohon pada Yang Kuasa melalui salat Istisqa ini. Alhamdulillah, agenda ini tersosialisasikan dengan baik dan mendapat dukungan besar dari masyarakat,” ungkap pria yang juga sebagai Ketua Ansor Ranting Sumberrejo itu.

Dia menambahkan, sesungguhnya tak hanya di desanya saja yang terancam kekeringan. Sejumlah daerah di Jember selatan juga banyak yang mengalami hal serupa. Minimnya hujan mengakibatkan pasokan air irigasi berkurang, bahkan tidak cukup untuk mengairi sawah petani. Kendati ada alternatif menggunakan pompa diesel, namun kata Taufik, hal itu membuat petani kewalahan. Karena ia harus mengairi sawah menggunakan pompa diesel setiap hari. “Kami pakai diesel tekor di tenaga. Tapi jika tidak, padi akan mati,” keluhnya.

Kondisi tersebut tak hanya dikeluhkan Taufik, mayoritas petani lainnya juga bernasib sama. “Sawah saya masih ada yang belum ditanami, karena khawatir hujan tidak turun normal,” tambah Yusuf, salah satu jamaah sekaligus petani di desa tersebut.

Ia mengaku harus menunda bercocok tanam. Meski tak sedikit pula petani di desanya yang telanjur menanam padi. “Akhirnya sekarang banyak petani yang bingung karena kekurangan air,” paparnya.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember di Desa Grenden, Kecamatan Puger, kondisinya juga sama. Ratusan hektare lahan pertanian terancam mengalami kekeringan dan mati akibat kekurangan pasokan air. Padahal, tak sedikit warga yang menggantungkan mata pencahariannya dari bertani.

Reporter : Maulana

Fotografer : Istimewa

Editor : Mahrus Sholih