Sindir Politik Lewat Seni Peran

Suguhkan Konspirasi, Balas Dendam, hingga Saling Memanfaatkan

SENI PERAN: Suasana teater yang identik dengan panggung dan kain hitam dihilangkan oleh Teater Gelanggang. Gedung PKM Unej diubah layaknya gudang. Hasilnya, lebih nyata seperti di film-film penyekapan.

Radarjember.id – Gudang yang berantakan dan disinari sebuah bohlam kuning, menjadi saksi bisu kekejaman Toing dan komplotannya. Keringat bercucuran dan nafas tersengal-sengal Toing, yang diperankan oleh Iqbal, itu menyeret Kuspita dan Qurais ke gudang. Toing begitu sebal Melihat wajah Qurais. Wajah-wajah elit politik itu membuat emosi Toing naik turun dan segera mungkin ingin membalas dendam.

IKLAN

Tak banyak bicara, Toing menghabisi Qurais. Kuspita yang diperankan Lisana, sontak menjerit melihat kekejaman Toing. Kuspita disekap. Mulutnya ditutup rapat-rapat dengan kain hitam. Tiba-tiba, pria berkemeja merah marun masuk ke Gudang. Dia adalah Dokter Bonyot, yang diperankan oleh Jodi. Dia tak lain adalah bosnya si Toing.

Pembicaraan antara Dokter Bonyot dan Toing yang keras semakin membuat suasana mencekam. Di tengah suasana yang menakutkan itu, tingkah Kamto memecah situasi. Dia mengubah suasana teater di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Universitas Jember (Unej) jadi gayeng. Kamto, yang diperankan Pakis sebagai pembantu itu, tingkahnya membuat penonton tergelak.

Begitulah sepenggal teater bertema ‘Siapa’ yang dibawakan oleh Komunitas Teater Gelanggang. Prasta Aditya, sang sutradara mengatakan, teater ini ingin membuka bahwa seni pertunjukan itu luas. Tak harus memakai kain serba hitam yang biasanya dipakai pemain teater kebayakan di Jember. Gedung PKM itu diubahnya menjadi suasana gudang. Lengkap dengan buku berantakan, sofa rusak, televisi tabung, hingga pencahayaan minim seperti gudang pada umumnya.

Dia menjelaskan, sepengal cerita tersebut memang saling balas dendam. Tapi disisi lain, sebetulnya antar aktor itu saling memanfaatkan untuk menuntaskan balas dendam. Dokter Bonyot tak sekedar bos saja, tapi juga memanfaatkan Toing. Begitu pula sebaliknya. Dia menuturkan Qurais, aktor yang dibunuh Toing juga berimbas kepada anaknya yang disekap bernama Kuspita.

Dalam politik, kata dia, orang gampang berbohong dan munafik. Orang yang menghalangi konstelasi politik gampang saja dibunuh. “Gampang dibunuh dengan alasan diamankan,” ujarnya.

Penulis naskah teater, Rois Nur Kholis atau yang akrab disebut Rois Blodot mengatakan, konspirasi politik itu tidak bisa lepas dari persoalan individu. “Politik negeri ini seperti ada garis darah tertentu,” katanya.

Kata dia, konstalasi politik juga ingin menunjukan sebuah dinamika yang tak menemukan titik terang. Selalu mencari tahu siapa yang memulai, dan siapa yang memulai itu semua. Sehingga, kata dia, isinya saling tuduh dan menuduh. Tanpa pernah tahu siapa yang menuduh dan dituduh. “Sehingga pertanyaan itu muncul dan berhenti di kata siapa,” ujarnya. Lewat kata siapa itulah, sosok tak terjawab ini menjadi ancaman bagi mereka.

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih