Siswa Tak Bisa Ikuti Pelajaran

Perlu Solusi Sekolah di Area Blank Spot

SULIT SINYAL: SDN Bintoro 5 Kecamatan Patrang menjadi salah satu sekolah yang masuk area blank spot. Lokasinya yang berada di ketinggian membuat kawasan itu sulit mengakses sinyal seluler.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Penambahan masa belajar di rumah rupanya menyisakan masalah. Sebab, di beberapa sekolah pinggiran yang lokasinya tak terjangkau sinyal atau blank spot, siswa benar-benar libur. Mereka tak bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) secara daring (online). Sebab, guru maupun siswa sama-sama kesulitan mengakses jaringan internet atau komunikasi via seluler.

IKLAN

“Ada beberapa kelas yang kami pantau secara daring melalui grup WhatsApp. Tapi tidak bisa semuanya,” kata Safaruddin Ridwan, guru di SDN Kaliglagah 1, Kecamatan Sumberbaru. Menurutnya, belum optimalnya proses pembelajaran daring itu bukan hanya karena akses sinyal yang sulit, tapi memang ada beberapa wali murid yang tak memiliki ponsel atau gawai. Oleh karena itu, ada beberapa siswa yang benar-benar libur dan tak bisa mengikuti pembelajaran selama masa KBM daring ini diberlakukan.

Hal serupa juga terjadi di SDS Al-Furqon, Desa Pakis, Kecamatan Panti. Ela Indriana, guru di sekolah tersebut, mengatakan bahwa di sekolahnya sedikit sekali wali murid yang memiliki handphone. Akibat keterbatasan itu, KBM daring di sekolahnya juga sulit terpantau. “Selama ini lebih banyak waktu liburnya,” jelasnya.

Merujuk data Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Jember, pada awal 2020 lalu ada sekitar 148 sekolah dasar di Jember yang tidak memiliki akses telekomunikasi. Jumlah tersebut tersebar di 15 kecamatan, bahkan juga ada di daerah yang masuk kecamatan kota. Hal ini lantaran sekolah itu berada di wilayah yang tak terjangkau sinyal atau blank spot.

Meski begitu, beberapa sekolah ada yang mengupayakan proses pembelajaran tetap berjalan. Mereka menerapkan home visit atau kunjungan ke rumah-rumah siswa untuk memastikan proses KBM itu berlangsung. Seperti yang dilakukan Bagus Wahyudi, guru SMPN 4 Silo. Lokasi sekolah berada di kawasan perkebunan PTPN XII Silosanen, Desa Mulyorejo, cukup pelosok. Karenanya, jangankan sinyal seluler, wali murid juga banyak yang tak memiliki handphone.

Bagus harus melakukan home visit untuk memberikan tugas selama masa pandemi Covid-19 ini. “Kalau dibiarkan, anak-anak liburan penuh. Makanya saya datang ke rumah mereka untuk memonitor langsung. Jadi, nggak ada istilah KBM daring untuk siswa di daerah kami,” ungkapnya.

Dinas Pendidikan Jember secara resmi sudah memberikan imbauan agar pihak sekolah melakukan monitoring selama masa KBM daring. “Terkait proses belajar jarak jauh secara daring itu memang harus terus dimonitor peserta didiknya. Baik oleh guru maupun wali murid,” kata Edy Budy Susilo, Kepala Dinas Pendidikan Jember.

Pihaknya telah mengupayakan ada penyesuaian selama KBM daring itu berlangsung. Yakni dengan membagi beberapa kriteria penilaian. Mulai dari penugasan hingga penggunaan aplikasi khusus selama KBM daring. Namun, untuk sekolah yang belum tersedia sarana komunikasi yang memadai, belum ada kebijakan lebih lanjut.

Selain itu, Edy juga meminta para guru dan wali murid agar memantau para siswa sehingga tidak menyalahgunakan waktu selama belajar di rumah, seperti bermain atau mendatangi tempat-tempat wisata. “Daripada nanti malah jadi ODP (orang dalam pemantauan, Red). Kita harus bersabar dan sama-sama berdoa semoga kondisi ini bisa kembali pulih,” pungkasnya.

Reporter : Maulana

Fotografer : Maulana

Editor : Mahrus Sholih