Petani Butuh Tambahan Hand Tractor

Sewa Mahal: Petani membajak menggunakan hand tractor di areal persawahan Mangli, Kaliwates, kemarin (21/4). Keberadaan mesin pembajak sawah yang disediakan pemerintah dinilai tak mencukupi kebutuhan seluruh petani. Jika sewa, ongkosnya lebih mahal.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Perkembangan dunia modern selayaknya diikuti oleh petani di Kabupaten Jember. Salah satunya teknologi pengolah lahan sawah. Akan tetapi, jumlah alat membajak tanah atau hand tractor yang sediakan pemerintah belum bisa dinikmati oleh seluruh petani.

IKLAN

Subandi, petani asal Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi, menjelaskan, sebagian mesin pembajak sawah yang digunakan untuk mengolah lahan masih menyewa kepada pemilik perseorangan. Kalaupun ada traktor yang dikelola kelompok tani, jumlahnya masih belum cukup untuk semua petani. “Pakai hand tractor bisa lebih cepat. Tetapi harga sewa dan ongkosnya mahal,” kata Subandi, yang membajak sawah di Desa Mangli, Kecamatan Kaliwates.

Harga sewa hand tractor dan jasa tenaga yang membajak, menurut dia, butuh dana sebesar Rp 1,2 juta untuk satu hektare lahan. Untuk itu, kata dia, petani bisa lebih berhemat jika tak lagi menyewa alat kepada pemilik perseorangan. “Kalau satu desa hanya ada satu alat, pasti tidak cukup. Jadi, harus menyewa sendiri. Harapannya, mesin pembajak yang disediakan pemerintah bisa lebih banyak lagi,” ucap Subandi.

Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Jember M Satuki menyebut, alat mesin pertanian (alsintan) di Jember seluruhnya telah disalurkan. Terakhir yakni penyaluran alat pemotong padi. “Semuanya sudah disalurkan kepada petani,” katanya.

Lebih jauh, alsintan berupa traktor dan alat pemotong padi telah disalurkan melalui kelompok tani. Alat itu bisa digunakan oleh petani melalui kelompoknya masing-masing. “Kelompok yang mendapat pinjaman alsintan, maka bisa menggunakannya,” jelas Satuki.

Dikatakannya, khusus untuk bantuan jenis hand tractor sejauh ini belum ada kabar lebih lanjut dari pemerintah pusat maupun provinsi. “Kalau ada bantuan, pasti akan kami salurkan sesuai dengan peraturan dan mekanisme yang ada. Bantuan langsung turun kepada kelompok tani,” tegasnya.

Sekadar informasi, jumlah hand tractor di Jember dari pemerintah ada ratusan. Akan tetapi, jumlah tersebut masih belum mampu memenuhi kebutuhan petani. Untuk itulah, sejumlah petani tetap menyewa mesin pembajak sawah kepada perseorangan. Hanya saja, harga sewanya lebih mahal daripada menyewa atau meminjam hand tractor dari pemerintah yang dikelola kelompok tani.

Terpisah, Kabid Sarana Prasarana dan Penyuluhan Pertanian Lulus Dewi optimistis, hasil panen padi pada musim tanam kedua ini bisa meningkat. “Masa tanam awal hasilnya 5,7 ton per hektare. Nah, pada musim tanam kedua ini prediksinya bisa meningkat,” jelasnya.

Lulus menyebut, prediksi hasil panen bisa lebih baik pada musim tanam kedua dilihat dari cuaca. “Musim tanam awal, curah hujan begitu tinggi. Tetapi, pada musim tanam kedua ini hujan sudah stabil. Hama penyakit tanaman padi juga tergolong minim. Semoga saja meningkat,” pungkasnya.

Reporter : Nur Hariri, Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih