Mengaku Autodidak Meretas ATM

Pelaku Dituntut 11 Tahun

DIANCAM BERAT: Terdakwa Cokro Prayitno (kiri) bersama pengacaranya M. Wildan saat agenda pemeriksaan, beberapa waktu lalu.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Jember membacakan tuntutan sepuluh tahun lebih bagi terdakwa Cokro Prayitno. Dalam agenda pembacaan tuntutan, kemarin sore (21/1) di Pengadilan Negeri (PN) Jember, terdakwa kasus pembobol mesin ATM senilai 1,7 miliar dengan cara meretas sistem ini diancam tuntutan 11 tahun kurungan. Pembacaan tuntutan itu dibacakan oleh JPU Kejari Jember yang hadir dalam sidang saat itu, yakni Triyono Yulianto. Cokro dituntut 11 tahun penjara dengan denda Rp 3 miliar subsider tiga bulan.

IKLAN

Dalam persidangan tersebut, terdakwa yang hadir bersama penasihat hukumnya sepakat bakal mengajukan pembelaan terkait tuntutan JPU tersebut. M. Wildan, pengacara terdakwa, seusai persidangan mengatakan, pihaknya bakal melakukan pembelaan terhadap kliennya. “Kami tidak sepakat dengan tuntutan itu. Fakta pemeriksaan terdakwa kalau dia membobol ATM itu karena ada kesalahan sistem, dia pun tidak memakai alat apa pun,” ujar Wildan.

Bahkan, menurutnya, para ahli bank yang dihadirkan oleh JPU dalam sidang sebelumnya mengutarakan bahwa tidak ada akses ilegal dalam perbuatan terdakwa. “Terbuktinya Cokro ini melampaui limit saldo yang bisa diambil. Unsur pasalnya pun menerobos, merusak, skimming, dan melampaui,” paparnya.

Lebih lanjut, Wildan mengaku tidak ada pelanggaran ITE terhadap terdakwa. Hanya ada kesalahan sistem saja. “Intinya dia tidak punya keahlian hacker. Memang sistem ATM-nya lemah, dia punya saldo sedikit dan mentransfer sekali dengan jumlah besar lalu berhasil, dan akhirnya keterusan hingga berulang kali sampai pihak bank melaporkan,” jelas Wildan kepada Jawa Pos Radar Jember.

Sebelumnya, M. Wildan tidak menghadirkan saksi yang meringankan dalam agenda pemeriksaan saksi. Sidang pembelaan dari terdakwa akan dilanjutkan pada pekan depan di PN Jember.

Sebelumnya, terdakwa Cokro Prayitno, pria asal Gianyar Bali ini, diringkus oleh Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri di kediaman istrinya di Majalengka, Jawa Barat, pada 25 Juli 2019 lalu. Meskipun domisilinya di Bali, Cokro menjalankan aksinya di salah satu mesin ATM Kecamatan Tanggul. Oleh karena itu, kasus limpahan dari Kejaksaan Agung ini disidangkan di Jember. Terdakwa membobol rekening giro salah satu bank BUMN dan bank swasta sejak bulan Maret sampai Mei 2019 lalu. Terdakwa melancarkan aksinya meretas mesin ATM.

Sebelumnya, Wildan mengakui bahwa kilennya dapat menarik uang dan mentransfer kepada orang lain dengan saldo minus, hingga mencapai Rp 1,7 miliar tersebut. “Yang diambil oleh terdakwa ini adalah dana pihak ketiga dari bank tersebut. Tidak ada dana dari nasabah lainnya,” pungkasnya.

Reporter : Muchammad Ainul Budi

Fotografer : Muchammad Ainul Budi

Editor : Lintang Anis Bena Kinanti