Sekolah Tandingan di Tengah Pandemi

Eksistensi Taman Baca yang Tidak Dapat Dukungan

BELAJAR LAGI: Sejumlah anak memanfaatkan taman baca sebagai media belajar di luar kegiatan belajar mengajar daring.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pendidikan menjadi sektor yang paling berdampak di tengah situasi pandemi. Kegiatan pembelajaran dipaksa dialihkan dengan sistem daring. Akibatnya, banyak wali murid yang kelimpungan tidak bisa memenuhi fasilitas digital.

Di tengah situasi yang genting ini, beberapa taman baca pun mulai lahir. Sebagian mulai bergeliat lagi sebagai alternatif menghadapi dampak pandemi, khususnya di lingkungan desa. Sayangnya, mayoritas dari taman baca itu alot mendapat lampu hijau dari pemerintah desa.

Taman Baca Triandara adalah satu dari banyak taman baca yang perkembangannya nyaris tak tersentuh pemerintah desa. Taman baca ini muncul pada akhir 2017 silam. Berlokasi di lereng Gunung Argopuro, tepatnya di Dusun Serut, Kecamatan Panti, tempat ini berdiri atas kegelisahan Fransisca Nur Aulia terhadap kondisi pendidikan di desanya.

Menurut dia, banyak anak-anak yang memiliki semangat belajar tinggi, namun tidak ada media atau lembaga yang mengakomodasi. Dia pun mulai membuka taman baca di rumahnya. Berawal dengan memajang lima hingga sepuluh buku di teras rumah dalam sebuah lemari etalase.

Taman baca yang dinamai Taman Baca Triandara ini pun mulai dilirik anak-anak. Kunjungan untuk membaca buku pun mulai bergulir. Lalu, taman baca ini pun mulai merambah dunia pengajaran. Fasilitasnya yang terbatas membuat Fransisca harus membatasi aktivitas belajar mengajar. Sementara, murid-muridnya mulai membeludak. Dari lima anak yang berkunjung menjadi lebih dari 100 murid.

Para orang tua pun memandang taman baca ini dapat memberikan kebutuhan akan pendidikan masyarakat setempat. Apalagi di tengah pandemi ini, eksistensi taman baca miliknya menjadi solusi bagi kalangan keluarga ekonomi menengah ke bawah dan kalangan yang tinggal di daerah terpencil. Hampir seluruh wali murid di Dusun Serut ini menggantungkan nasib pendidikan anaknya kepada taman baca ini. “Sampai mereka menawarkan diri untuk membayar setiap belajar. Akhirnya setiap anak bayar Rp 2 ribu. Itu mereka sendiri yang menentukan tarifnya,” ujar Fransisca, Jumat (20/11) kemarin.

Dalam perkembangannya, Fransisca istiqamah untuk tetap berikhtiar membangun komunikasi dengan para pemerintah desa. Tak munafik, sebab taman baca miliknya butuh dukungan fasilitas untuk bisa terus bernapas. Sayangnya, komunikasi tersebut tak semudah yang dia bayangkan. “Untuk bisa bertemu dengan kepala desa saja saya masih dipersulit. Akhirnya, hanya bisa bertemu dengan sekdes,” tambahnya.

Kendati sudah bisa bertemu, dukungan berupa buku ataupun akses yang diharapkan tak kunjung turun. Dia pun pasrah mencari alternatif lain untuk bisa menyambung napas taman baca yang dia rintis. “Tidak mudah, tapi pasti ada jalan,” katanya, dengan penuh keyakinan.

Ironisnya, dengan respons pemerintah desa yang demikian, pemerintah daerah melalui Dinas Sosial gencar menghidupkan program literasi di desa-desa. Kecamatan Panti waktu itu menjadi satu dari sekian banyak daerah yang mendapat kucuran dana untuk mendirikan taman baca.

Hingga pada akhirnya, pada 2015, taman baca dari Dinas Sosial berdiri di Dusun Karanganom, Desa Serut, Kecamatan Panti. Fasilitasnya cukup layak. Ketersediaan buku sangat menjamin. Setidaknya terdapat lebih dari 600 buku yang tersedia. Terdiri atas berbagai genre dan berbagai segmen pembaca.

Sayangnya, taman baca ini mati suri. Tak ada peminat yang mendatanginya. “Taman baca ini hanya ada pengunjung pas waktu awal-awal berdiri,” ungkap Sisca.

Nasib taman baca yang tak mampu mendapat sokongan dari pemerintah daerah adalah fenomena yang lumrah terjadi. Lainnya, seperti Taman Baca Pelangi yang terletak di Desa Grenden, juga mengalami hal serupa. Pemiliknya tak bisa bertumpu tangan dari pemerintah daerah. Taman baca yang bernasib serupa seolah menjadi sekolah tandingan bagi sekolah formal dari pemerintah yang separuh hati memberikan pelayanan pendidikan yang manusiawi.

Editor: Lintang Anis Bena Kinanti
Reporter: mg1
Fotografer: Jumai