Harus Menjadi Budaya

MAKIN MARAK: Anak-anak terlihat asyik bersepeda dengan melintasi jalan menanjak dan menurun di Jl Sumatera, Sumbersari.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bersepeda menjadi hobi yang banyak dilakukan masyarakat, akhir-akhir ini. Tak sedikit dari mereka yang awalnya tidak suka bersepeda, kini mulai menaruh perhatian lebih kepada gowes. Bahkan, beberapa di antaranya rela merogoh kocek tinggi hanya demi ikut tren bersepeda.

Namun setidaknya, banyak yang menyambut baik tren bersepeda kali ini. “Pastinya selain sehat, bersepeda juga ramah lingkungan,” ujar ketua asosiasi pecinta alam dari Forum Nahdliyyin untuk Kedaulatan Sumberdaya Daya Alam (FNKSDA) Jember, Nurul Mahmuda Hidayatullah.

Menurutnya, bersepeda selama ini jadi budaya baru. Entah karena masyarakat yang ikut-ikutan, ataupun mereka yang memang menaruh hobi sejak lama. Namun yang jelas, saat ini ada dua hal yang paling diuntungkan dengan tren bersepeda saat ini. Yakni penjual sepeda dan lingkungan.

Pengaruh ke lingkungan, lanjut Muda, selama lock down hingga munculnya tren bersepeda saat ini sudah dianggap berkah bagi alam. “Dari sekian manfaat positif bersepeda, ini harus jadi budaya baru yang didukung dengan ketersediaan trayek sepeda yang lebih banyak, fasilitas pepohonan untuk pesepeda, dan berikut aturannya,” tambahnya.

Sementara itu, pengurus asosiasi sepeda dari Mountain Bike (MTB) Federal Indonesia Cabang Jember, Buang Susanto menilai, munculnya tren bersepeda kali ini tidak lepas karena kebijakan lock down, beberapa pekan lalu. Saat itu, banyak orang merasa jenuh, sehingga pemerintah menganjurkan untuk memulai budaya hidup sehat. Sehingga dipilihlah bersepeda itu. “Karena memang mudah dan murah. Bisa dilakukan semua kalangan usia,” kata Buang, yang juga mengoleksi 23 sepeda dari jenis berbeda.

Sebagai pemerhati sepeda, Pria yang mengaku sudah sejak era 70-an bersepeda itu berharap, bersepeda tidak hanya menjadi tren sementara di masyarakat saat ini. Tapi syukur-syukur bisa menjadi budaya baru yang terus dilestarikan.

Menurut dia, di Jember, lajur sepeda mulai digagas era akhir Bupati MZA Djalal. Saat itu dia mengaku juga terlibat dalam perumusan adanya lajur sepeda di Jember bersama dengan Asosiasi Komunitas Sepeda Tua Indonesia (Kosti) Jember. “Karena dulu Pak Djalal itu suka bersepeda, dia sering mengadakan event bersepeda. Bahkan, di Jatim baru ada tiga kota yang punya jalur sepeda, Surabaya, Kota Blitar, dan Jember,” tambahnya.

Namun, kini dia menyayangkan jalur-jalur bersepeda di Jember kurang begitu dimanfaatkan. Bahkan, cenderung dipakai oleh pengendara motor. “Ini yang selanjutnya perlu jadi catatan,” imbuh ayah dari dua anak itu.

Editor: Lintang Anis Bena Kinanti
Reporter: Maulana
Fotografer: Dwi Siswanto