Butuh Kebersamaan Mengatasi Korona

AJAK MASYARAKAT KOMPAK: Bupati Jember dr Faida MMR menjelaskan tentang penanganan korona seusai melakukan penyemprotan disinfektan di kampus IAIN Jember, baru-baru ini.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Wabah virus korona memang ditetapkan pemerintah sebagai darurat bencana nasional. Akan tetapi, dalam menghadapinya sejak 16 hingga 29 Maret mendatang, dibutuhkan kerja sama dan ketenangan semua pihak. Masyarakat tak perlu panik, tidak ikut membuat dan menyebarkan informasi hoaks, serta mengikuti petunjuk teknis penanganannya.

IKLAN

Satgas Penanganan Virus Korona Jember telah menetapkan teknis layanan untuk mencegah dan mengatasi wabah korona. Di mana, tidak semua orang bisa langsung dirujuk ke rumah sakit (RS) dr Soebandi sebagai RS rujukan. Ada mekanisme dan tahapan sebelum warga dirujuk ke rumah sakit yang berlokasi di Jalan RS dr Soebandi, Kelurahan/Kecamatan Patrang tersebut.

Rapat Satgas Pencegahan Korona, yang dilakukan beberapa kali dengan dipimpin langsung Bupati Jember dr Faida MMR bersama sejumlah pihak, menghasilkan beberapa hal teknis. Yakni pengaturan layanan mengenai penanganan korona mulai sebelum ada gejala. Pengaturan tersebut dimaksudkan agar masyarakat Jember dan kabupaten tetangga tidak salah langkah dan tetap tenang.

Bupati Faida menjelaskan, setiap warga yang mengalami flu, batuk, sesak napas, dan demam bisa langsung mendatangi dan memanfaatkan fasilitas kesehatan (faskes) terdekat. Seperti puskesmas dan rumah sakit nonrujukan. Artinya, warga yang hanya sakit biasa cukup diobati di luar RS dr Soebandi.

Tidak hanya itu, warga yang mengalami gejala flu, batuk, sesak napas, demam, dan diduga mengalami gejala awal korona juga tak perlu dirujuk ke RS dr Soebandi. Dengan kata lain, warga yang masuk kategori orang dalam pemantauan (ODP) kasus korona belum perlu dirujuk ke RS dr Soebandi.

Nah, orang yang harus dirujuk ke RS dr Soebandi adalah pasien dalam pengawasan (PDP) yang mengalami gejala flu, batuk, dan sesak napas lebih parah. Selain itu, warga yang harus dirujuk adalah mereka yang mengalami demam tinggi di atas 37 derajat celsius. “Pasien yang perlu dirujuk yang sudah (kategori, Red) pasien dalam pengawasan,” tegas Faida.

Kendati demikian, riwayat perjalanan pasien juga harus diketahui terlebih dahulu. Apakah mereka baru datang dari luar negeri atau dari daerah-daerah yang menjadi lokasi menyebarnya virus korona. Jember dan sekitarnya, sampai hari ini belum ada kasus positif korona dan diharapkan tetap aman. Pengaturan pencegahannya tetap dilakukan sampai benar-benar dinyatakan bebas korona.

Faida menegaskan, pemerintah tak akan pernah menutupi kasus korona jika ada yang sampai terjangkit. Namun, selama belum ada yang positif korona, masyarakat diimbau tidak membuat dan tidak ikut menyebar informasi hoaks soal korona. “Jika terdapat (warga, Red) positif korona, pemerintah akan menginformasikan secara terbuka kepada masyarakat,” paparnya.

Seluruh masyarakat juga tetap diimbau menjalani hidup sehat, makan makanan dengan gizi seimbang, sering mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, serta sementara waktu tidak mendatangi tempat-tempat ramai. Pemkab Jember juga meminta masyarakat menunda kegiatan-kegiatan besar yang melibatkan banyak orang.

Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jember Dyah Kusworini menyampaikan, Jember hingga saat ini tidak ada yang positif korona. Namun, selama masa pencegahan yang ditetapkan pemerintah hingga 29 Maret nanti, masyarakat diimbau tetap waspada dan mengikuti petunjuk teknis pemerintah.

“Semua pihak diharapkan kerja samanya dan tetap waspada. Apabila ada warga yang mengalami flu, batuk, dan demam agar segera mendatangi puskesmas terdekat. Tim satgas sudah menyiapkan layanan penanganan dengan baik,” jelasnya.

Tim Satgas Korona yang terdiri atas Pemkab Jember, TNI, Polri, PMI, serta sejumlah pihak yang terlibat terus melakukan sosialisasi, edukasi, hingga pengaturan penanganan virus korona. Masyarakat tidak perlu panik, karena selama masa pencegahan sangat dibutuhkan ketenangan.

Reporter : Nur Hariri

Fotografer : Istimewa

Editor : Mahrus Sholih