Harga Jatuh Jelang Subuh

TUNGGU PELANGGAN: Perempuan mangkal di rel kereta api lokasi sawahan Desa Rambigundam, Minggu dini hari.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – MALAM itu sebenarnya tak dingin. Tak perlu jaket atau alat penghangat lain. Tetapi, perempuan mengenakan rok mini yang duduk di samping lelaki beranjak mendatangi nyala api yang mulai meredup. Dia menambahkan robekan kardus dan beberapa barang lain agar semakin terang.

IKLAN

Hanya hitungan detik, lokasi rel kereta api di sekitar Jalan Darmawangsa, Desa Rambigundam, Rambipuji, menjadi cukup terang. Namun sayang, nyala api tersebut tak sampai menembus wajah perempuan yang kembali lagi duduk di samping seorang lelaki. Mereka duduk berdampingan di besi rel.

Samar-samar, wajahnya terlihat tersenyum. Tetapi senyumnya lekas hilang karena tak lagi terpancar oleh nyala api. Saat itu, si Marni (nama samaran, Red) mulai aktif bertanya. Apakah lelaki itu datang sendiri, asal dari mana, dan berbincang banyak hal lainnya. Hingga mereka berbincang-bincang seputar tempat prostitusi sawahan tersebut.

Marni kemudian menyebut, untuk bisa mengajaknya atau perempuan lain di sekitar rel berkencan, dibutuhkan uang Rp 50 ribu saja. “Mainnya ya di sana, di sawah-sawah itu. Bisa di sana, di sana, atau yang sana. Tempat di atas irigasi ada bambu-bambunya,” jelasnya, sembari menunjuk lokasi yang dimaksud.

Menjalani hidup malam seperti itu dia lakukan sudah beberapa tahun terakhir. Meski Marni tak setiap malam mangkal di lokasi itu, namun dia kerap menunggu pria hidung belang hingga larut malam, bahkan subuh.

Setiap kali ada orang lewat, Marni atau perempuan lain yang ada di lokasi ini biasanya langsung bergerak menyalakan api yang redup. Bukan karena mereka dingin. Tetapi, kobaran api itulah yang menjadi salah satu isyarat bahwa di lokasi sekitar ada pekerja seks komersial yang menunggu.

Setiap kali mangkal, bukan berarti langsung banyak yang datang. Ada malam-malam tertentu, tetapi jamnya tak bisa ditentukan. “Pokoknya di atas pukul 22.00 sudah ada,” ucapnya.

Marni sedang duduk di rel terlihat mengambil ponselnya. Saat dibuka, wajahnya kembali terlihat samar-samar. “Kalau tidak mau di sawahan, bisa di ajak ke luar,” jelasnya lagi.

Sapaan dan tawaran seperti itu juga dilakukan sejumlah perempuan lain yang usianya rata-rata sudah di atas 35 tahun. Namun, itu hanya dilakukan pada seorang lelaki yang sedang melintas atau duduk di sampingnya. Termasuk lelaki itu yang ditawari agar membawa perempuan masuk ke areal sawahan.

Terbukanya lokasi esek-esek yang hanya bertabir gelap tersebut, malam itu, terlihat banyak didatangi orang. Ada yang langsung masuk ke sawahan dan ada yang duduk di rel terlebih dahulu. “Di sini tidak pernah ada yang tidak bayar,” ungkapnya.

Perempuan ini kemudian berdiri dan bergeser duduk di sepanjang rel yang lain. Tak lama kemudian, dia tampak berjalan menuju sawah bersama seorang pria. Lelaki yang ditawarinya di awal itu pun pindah lokasi untuk mencari perempuan lain.

Sambil melangkahkan kaki di beton rel, setidaknya terlihat ada empat perempuan di sepanjang perjalanan. Lelaki itu kemudian terus berjalan menuju sebuah warung yang ada di samping rel. Di sana juga ada sekitar lima perempuan.

Untuk bisa mendengar cerita dari mereka, lelaki itu duduk di samping perempuan berbaju merah. Setelah panjang lebar berbincang, Putri (nama samaran) menyampaikan bahwa tak semua perempuan bekerja sampai subuh.

“Tidak semua punya KTP. Jadi, kalau sakit biasanya sulit mau berobat. Tetapi kami tetap rutin periksa kesehatan,” ucapnya.

Putri menyebut, hasil yang diperoleh dari operasi di rel dan sawahan itu tak bisa besar. Sebab, tarifnya hanya Rp 50 ribu. Kadang, saking sepinya, dia pun rela walau diajak dengan tarif Rp 20 ribu saja. “Uangnya buat makan dan keperluan lain,” cetusnya.

Mereka yang mangkal di sawahan sejatinya ingin bisa hidup lebih baik. Namun apalah daya, mereka juga dituntut untuk bisa menghidupi keluarganya. Mayoritas dari warga yang mangkal merupakan janda yang memiliki anak. Alasan ekonomi inilah yang menjadikan mereka sering datang dan mangkal di rel sawahan.

“Kalau ada pekerjaan lebih baik, pastinya kami berhenti seperti ini. Tapi mau kerja apa, kami tidak bisa apa-apa,” ulasnya.

Reporter : Nur Hariri

Fotografer : Nur Hariri

Editor : Mahrus Sholih