Isu Lingkungan Belum Menjadi Prioritas

RADAR JEMBER.ID – Perhatian terhadap lingkungan masih belum menjadi prioritas. Salah satu tolak ukurnya adalah pembangunan ruang terbuka hijau (RTH) yang setengah hati. Padahal, RTH memiliki dampak yang luar biasa pada masyarakat dan kehidupan. Salah satunya  meningkatkan kualitas lingkungan. “Faktanya, bangunan RTH itu tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh masyarakat. Contoh RTH yang belum usai pembangunannya, terbengkalai. Bahkan, ada RTH yang ditolak oleh warga,” kata Nurul Mahmuda Hidayatullah, ketua di Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) Komite Daerah Jember.

IKLAN

Menurut dia, pembangunan pemerintah saat ini atas dasar kepentingan proyek semata. Namun kurang mempertimbangkan faktor lingkungan sekitar. Dia mencontohkan RTH Mangli. Saat awal pembangunannya, RTH tersebut sempat ditolak  warga.

Dia meyakini, alasan warga menolaknya hingga melakukan aksi adalah karena mereka tidak mau arena bermain bola itu dipangkas untuk dijadikan taman. Tak hanya itu, nasib RTH Arjasa yang terbengkalai pun tidak jauh berbeda. Sering kali dijadikan tempat berpacaran pasangan muda-mudi.

Dia menjelaskan, terbengkalainya sejumlah taman kota karena pemerintah memang tidak memprioritaskan isu lingkungan. “Jadi, RTH itu adalah sebuah upaya eksploitasi pemerintah untuk mendulang perekonomian, bukan lantas untuk kearifan dan kemanfaatan alam itu sendiri,” ungkapnya.

Meskipun begitu, pemuda Asal Kelurahan Jumerto, Kecamatan Patrang, ini pun mengakui bahwa ada beberapa RTH yang produktif untuk menggerakkan sektor perekomian bagi pedagang kaki lima (PKL). Seperti di Balung dan Jenggawah. Namun, dari sisi ekologis, hal itu dianggapnya sangat jauh dari harapan.

“Karena pemerintah sendiri bertujuan membangun RTH itu hanya untuk menopang perekonomian. Kondisi taman kota saat ini dalam pembangunannya pun belum usai, apalagi dirawat,” jelasnya.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Aldyan Ismail, Ketua Organisasi Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Palmstar IAIN Jember. Menurutnya, kondisi lingkungan di Jember saat ini masih jauh dari layak, alias belum bersih.

Dia menjelaskan, kondisi tersebut karena kurangnya kesadaran masyarakat tentang arti penting menjaga kelestarian lingkungan. Untuk menguatkan argumennya itu, dia mencontohkan kebiasaan yang sulit hilang dari masyarakat adalah membuang sampah ke sungai.

Hal itu bisa menimbulkan dampak serius bagi masyarakat. Bukan hanya soal banjir, kebiasaan warga sekitar sungai yang mandi cuci kaskus (MCK) di sungai juga berisiko terhadap munculnya penyakit diare atau DBD.

“Di sisi lain, kondisi air juga mengalami pencemaran. Itu juga akan mengganggu keseimbangan ekologis sungai. Bahkan juga akan mengalami pencemaran udara dari sampah tersebut,” ucap mahasiswa Tadris Biologi Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Jember itu.

Dia juga menambahkan, penyebab pencemaran lingkungan dari asap kendaraan bermotor yang begitu banyak membuat polusi udara. Untuk kebutuhan taman kota, dia merekomendasikan Pemkab Jember agar melirik kabupaten atau kota tetangga yang lebih maju dalam melestarikan lingkungan.

Menurutnya, pembangunan taman kota yang tidak selesai dan terbengkalai, seharusnya bisa kembali diprioritaskan. “Pemerintah seharusnya lebih tanggap terhadap isu-isu lingkungan. Karena Jember sekarang tidak imbang, pembangunan gedung begitu banyak, sedangkan taman kota atau RTH masih minim,” imbuh mahasiswa asal Pasuruan itu.

Dia menilai, pemerintah memiliki peran penting dalam menggerakkan masyarakat agar tanggap terhadap isu lingkungan. Percuma jika membuat taman kota ataupun sejenisnya, jika hanya menunggu kesadaran masyarakat. Kesadaran itulah yang perlu digerakkan oleh pemerintah setempat. (*)

Reporter : Maulana

Fotografer : Maulana

Editor : Bagus Supriadi