alexametrics
25.2C
Jember
Tuesday, 9 March 2021
Desktop_AP_Top Banner

Tidak Semua Siswa Membutuhkan Kuota

Efektivitas Subsidi Kuota bagi SLB

Mobile_AP_Top Banner
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Suasana belajar di tengah pandemi sudah berlangsung selama lebih dari dua semester. Siswa dan guru telah dibiasakan untuk melakukan pembelajaran tatap muka. Alokasi subsidi penunjang sistem pembelajaran pun ramai-ramai turun di kalangan pelajar. Tak terkecuali para pelajar sekolah luar biasa (SLB).

Namun, tak semuanya menganggap sistem daring dan subsidi kuota menjadi alternatif yang efektif bagi pembelajaran. Menurut Rahman Hadi, salah satu guru SLB Negeri Jember, paket kuota yang telah disubsidi belum sepenuhnya menjawab masalah anak-anak kebutuhan khusus. Terlebih untuk jenjang sekolah dasar.

Menurut dia, siswa SDLB lebih menguatkan pembelajaran dengan sistem face to face. Dalam satu minggu, murid di sekolah wajib melakukan pertemuan tatap muka. “Paling tidak tiga hari dalam satu pekan,” ujarnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Rahman mengakui bahwa semua muridnya mendapat subsidi kuota internet yang langsung terkirim ke nomor ponsel wali murid. Nah, di sinilah muncul kendala. Tidak sedikit wali murid yang tak memiliki ponsel. Imbasnya, anak-anak pun tidak bisa mengakses pelajaran melalui daring. Selain itu, ada juga ponsel yang dipakai untuk kegiatan belajar mengajar, harus dibawa orang tuanya bekerja.

“Yang lebih penting itu kondisi siswanya. Memang lebih efektif kalau ketemu secara langsung. Bisa mengontrol siswa secara langsung juga. Ini kan siswa berkebutuhan khusus,” lanjut Rahman.

Sementara itu, Ketua Kelompok Kerja Guru Pendidikan Kebutuhan Khusus Choirul Anwar menambahkan bahwa efektivitas kuota internet bergantung pada kebutuhan murid. Menurut dia, di sekolahnya semua murid melakukan sistem pembelajaran secara daring.

Hal ini lebih efektif bagi siswa tunanetra. Sebab, dapat melatih kepekaan pendengaran mereka. Tidak sedikit pula inovasi pembelajaran berbasis audio diciptakan di sana. “Anak-anak tunanetra ini suka ngobrol. Jadi, kalau pakai audio sangat efektif. Mereka hanya perlu mendengar dan merespons,” ungkap Choirul.

Dalam satu bulan, sekolah Choirul memberikan subsidi kuota internet sebesar Rp 50 ribu. Menurut Choirul maupun Rahman, subsidi kuota belajar ini akan habis pada Februari mendatang. “Ini masih rencana, dan katanya. Ya kita tidak tahu ke depan bagaimana,” pungkas Rahman.

- Advertisement -
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Suasana belajar di tengah pandemi sudah berlangsung selama lebih dari dua semester. Siswa dan guru telah dibiasakan untuk melakukan pembelajaran tatap muka. Alokasi subsidi penunjang sistem pembelajaran pun ramai-ramai turun di kalangan pelajar. Tak terkecuali para pelajar sekolah luar biasa (SLB).

Namun, tak semuanya menganggap sistem daring dan subsidi kuota menjadi alternatif yang efektif bagi pembelajaran. Menurut Rahman Hadi, salah satu guru SLB Negeri Jember, paket kuota yang telah disubsidi belum sepenuhnya menjawab masalah anak-anak kebutuhan khusus. Terlebih untuk jenjang sekolah dasar.

Menurut dia, siswa SDLB lebih menguatkan pembelajaran dengan sistem face to face. Dalam satu minggu, murid di sekolah wajib melakukan pertemuan tatap muka. “Paling tidak tiga hari dalam satu pekan,” ujarnya.

Mobile_AP_Half Page

Rahman mengakui bahwa semua muridnya mendapat subsidi kuota internet yang langsung terkirim ke nomor ponsel wali murid. Nah, di sinilah muncul kendala. Tidak sedikit wali murid yang tak memiliki ponsel. Imbasnya, anak-anak pun tidak bisa mengakses pelajaran melalui daring. Selain itu, ada juga ponsel yang dipakai untuk kegiatan belajar mengajar, harus dibawa orang tuanya bekerja.

“Yang lebih penting itu kondisi siswanya. Memang lebih efektif kalau ketemu secara langsung. Bisa mengontrol siswa secara langsung juga. Ini kan siswa berkebutuhan khusus,” lanjut Rahman.

Sementara itu, Ketua Kelompok Kerja Guru Pendidikan Kebutuhan Khusus Choirul Anwar menambahkan bahwa efektivitas kuota internet bergantung pada kebutuhan murid. Menurut dia, di sekolahnya semua murid melakukan sistem pembelajaran secara daring.

Hal ini lebih efektif bagi siswa tunanetra. Sebab, dapat melatih kepekaan pendengaran mereka. Tidak sedikit pula inovasi pembelajaran berbasis audio diciptakan di sana. “Anak-anak tunanetra ini suka ngobrol. Jadi, kalau pakai audio sangat efektif. Mereka hanya perlu mendengar dan merespons,” ungkap Choirul.

Dalam satu bulan, sekolah Choirul memberikan subsidi kuota internet sebesar Rp 50 ribu. Menurut Choirul maupun Rahman, subsidi kuota belajar ini akan habis pada Februari mendatang. “Ini masih rencana, dan katanya. Ya kita tidak tahu ke depan bagaimana,” pungkas Rahman.

Desktop_AP_Leaderboard 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Suasana belajar di tengah pandemi sudah berlangsung selama lebih dari dua semester. Siswa dan guru telah dibiasakan untuk melakukan pembelajaran tatap muka. Alokasi subsidi penunjang sistem pembelajaran pun ramai-ramai turun di kalangan pelajar. Tak terkecuali para pelajar sekolah luar biasa (SLB).

Namun, tak semuanya menganggap sistem daring dan subsidi kuota menjadi alternatif yang efektif bagi pembelajaran. Menurut Rahman Hadi, salah satu guru SLB Negeri Jember, paket kuota yang telah disubsidi belum sepenuhnya menjawab masalah anak-anak kebutuhan khusus. Terlebih untuk jenjang sekolah dasar.

Menurut dia, siswa SDLB lebih menguatkan pembelajaran dengan sistem face to face. Dalam satu minggu, murid di sekolah wajib melakukan pertemuan tatap muka. “Paling tidak tiga hari dalam satu pekan,” ujarnya.

Rahman mengakui bahwa semua muridnya mendapat subsidi kuota internet yang langsung terkirim ke nomor ponsel wali murid. Nah, di sinilah muncul kendala. Tidak sedikit wali murid yang tak memiliki ponsel. Imbasnya, anak-anak pun tidak bisa mengakses pelajaran melalui daring. Selain itu, ada juga ponsel yang dipakai untuk kegiatan belajar mengajar, harus dibawa orang tuanya bekerja.

“Yang lebih penting itu kondisi siswanya. Memang lebih efektif kalau ketemu secara langsung. Bisa mengontrol siswa secara langsung juga. Ini kan siswa berkebutuhan khusus,” lanjut Rahman.

Sementara itu, Ketua Kelompok Kerja Guru Pendidikan Kebutuhan Khusus Choirul Anwar menambahkan bahwa efektivitas kuota internet bergantung pada kebutuhan murid. Menurut dia, di sekolahnya semua murid melakukan sistem pembelajaran secara daring.

Hal ini lebih efektif bagi siswa tunanetra. Sebab, dapat melatih kepekaan pendengaran mereka. Tidak sedikit pula inovasi pembelajaran berbasis audio diciptakan di sana. “Anak-anak tunanetra ini suka ngobrol. Jadi, kalau pakai audio sangat efektif. Mereka hanya perlu mendengar dan merespons,” ungkap Choirul.

Dalam satu bulan, sekolah Choirul memberikan subsidi kuota internet sebesar Rp 50 ribu. Menurut Choirul maupun Rahman, subsidi kuota belajar ini akan habis pada Februari mendatang. “Ini masih rencana, dan katanya. Ya kita tidak tahu ke depan bagaimana,” pungkas Rahman.

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERKINI

Desktop_AP_Half Page

Wajib Dibaca

Desktop_AP_Rectangle 2