Latief Chobir Aminallah, Lebih Setengah Abad Jadi Penulis

Saya Lebih Banyak Menuliskan Pengalaman Hidup

Jika membayangkan karya seorang penulis, yang tergambar dalam benak kita adalah sebuah karya seperti novel, puisi, atau naskah lakon. Bisa juga sebuah karya tulis ilmiah hasil penelitian tertentu. Namun, pernahkah tersirat sebuah catatan hidup atau diari yang ditulis selama berpuluh-puluh tahun?

BERCERITA: A. Latief Chobir Aminallah BA saat menceritakan pengalamannya belum lama ini. Pengalaman tersebut tercatat rapi dan detail di beberapa buku tulis yang dirangkai sejak dia duduk di bangku kelas 4 SD.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Ruang tamu merupakan tempat andalan Latief. Kala itu, dia juga tengah berada di ruang tersebut. Tangan ringkihnya mengayun bebas di atas baris-baris kertas yang siap diberi coretan. Namun tunggu, coretan itu bukan coretan biasa. Atau, coretan basa-basi untuk meluangkan waktu menjelang berbuka puasa.

IKLAN

Coretan tersebut merupakan fakta yang ditulis sebagai bentuk syukur atas nikmat yang dia dapat selama hidup dan juga sebagai bentuk evaluasi diri. “Saya sedang menulis apa yang baru saja terjadi kepada diri saya,” tutur kakek yang memiliki nama lengkap A. Latief Chobir Aminallah BA itu.

Uniknya, pria kelahiran 27 Juli 1943 tersebut memilik hobi menulis sejak berada di bangku kelas 4 SD. Tepatnya pada 1954. “Saya menuliskan pengalaman saya selama hidup,” ungkap warga Dusun Pakem, Desa Kranjingan, Kecamatan Sumbersari, tersebut. “Jadi, saya sudah menulis selama hampir 66 tahun,” imbuhnya.

Tak hanya cerita, melainkan hal detail seperti nama-nama orang dan benda, serta waktu dan kejadian. Pria yang akrab disapa Latief tersebut menulis berbagai hal yang dia temui setiap hari di buku catatan. “Saya termotivasi menulis karena almarhum guru saya,” ujarnya. “Namanya Pak Subari. Warga Desa Karanganyar, Kecamatan Ambulu,” imbuhnya.

“Karena beliau, saya belajar untuk mencatat semua hal yang pernah saya alami,” ujar alumnus IAIN Sunan Ampel Jember pada 1970 itu. Tujuannya untuk mengevaluasi diri sekaligus menjadi sarana pengingat. “Soalnya, sifat manusia itu pelupa. Alangkah lebih baik jika ditulis,” pungkasnya.

Terbukti pada salah satu kejadian saat Latief dinyatakan belum membayar pajak selama beberapa bulan oleh salah satu perusahaan pajak di Jember. “Karena sudah membayar, saya tunjukkan bukti yang saya catat di buku tulis,” tegasnya. Latief menyatakan bahwa pada buku itu sudah tertera tanggal, jam, petugas yang bersangkutan, sekaligus nota pembayaran.

Sampai saat ini, Latief masih melanjutkan bakat tersebut. Selain hobi menulis, dia juga pernah menerbitkan buku berisi kisah hidup sejumlah tokoh agama di Indonesia. Buku itu dia rangkum dari beberapa sumber yang dikumpulkan selama bertahun-tahun.

“Semoga hobi menulis ini dapat bermanfaat dan ditiru banyak orang,” harapnya. Dengan demikian, kita bisa mengevaluasi diri setiap hari, bersyukur dengan apa pun yang pernah kita dapat, sekaligus sebagai bahan pelajaran untuk anak cucu kelak.

Reporter : mg1

Fotografer : mg1

Editor : Hadi Sumarsono