Potensi Batik Tulis Kreasi Kalangan Milenial

Datangkan Alat dan Bahan dari Luar, Corak dan Motif dari Sekolah Sendiri

Kreasi batik yang menjadi salah satu kearifan lokal nusantara kini sudah mulai berkembang, dengan banyaknya sentuhan dari generasi milenial. Kreatornya pun tak hanya orang dewasa, namun juga dari kalangan pelajar. Meskipun dibuat dengan bahan dan alat yang sama, namun berbicara motif, mereka tak takut untuk tampil beda.

KREATIF: Beberapa jenis kerajinan batik hasil kreativitas siswa SMK Baiturrohmah Jombang saat ditampilkan dalam event bazar.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – LIMA menit sebelum bel istirahat berbunyi, para pelajar berseragam batik terlihat sibuk menyiapkan sejumlah perlengkapan. Beberapa siswa laki-laki menyiapkan api yang dihidupkan dari sebuah tumang atau tungku kecil, sedangkan siswa perempuan menyiapkan kain yang sebelumnya mereka simpan serta beberapa alat lainnya. Salah satunya canting dan bahan pewarna. Setelah seluruh bahan dan alat siap, tangan mereka mulai bergerak lincah di atas kain yang telah dibentangkan.

IKLAN

Inilah aktivitas yang tampak di SMK Baiturohmah, Kecamatan Jombang. Meskipun baru belajar, mereka sudah terlihat cukup piawai. Seolah membatik sudah menjadi rutinitas baru mereka yang cukup produktif di tempat belajarnya.

Tak beda jauh dengan proses pembuatan batik pada umumnya, mereka juga menggunakan berbagai bahan pewarna dan alat yang sama. Seperti canting, pewarna, hingga jenis kainnya, semuanya mereka datangkan secara daring online dari luar daerah seperti Solo dan Pekalongan.

Namun meski bahannya didatangkan dari luar Jember, kreasi motifnya adalah orisinal karya para siswa. Aneka motif dan corak yang diciptakan oleh para milenial ini layak diapresiasi. Mereka jarang meniru atau mengadopsi motif dari batik-batik lain, baik dari Jember maupun daerah lain. “Kadang membuat batik tulis, kadang juga batik cap. Kami buat sendiri motifnya,” ujar, Denok Suswati, Kepala Jurusan (Kajur) Kriya Tekstil Batik SMK Baiturohmah.

Motif yang diciptakan umumnya terinspirasi dari lingkungan sekitar mereka. Misalnya dari dedaunan dan tumbuhan seperti buah naga, pepaya, jagung, daun kelor, bambu, dan lain sebagainya. Daun-daun itu sengaja mereka pilih bukan tanpa alasan. Banyak dari mereka yang meyakini, jika diamati, daun-daun di lingkungan sekolah itu memiliki bentuk yang eksotik saat dituangkan. Bahkan, hampir sebagian besar kreasi batik mereka berasal dari daun-daun sekitar tersebut.

Kreasi ini menjadikan karya mereka eksklusif. Sangat sedikit sekali yang menyamai motif-motif kreasi tersebut. Tak hanya untuk batik tulis, motif batik cetak atau cap pun demikian.

SMK Baiturrohmah sempat disebut sebagai satu-satunya SMK yang memiliki Jurusan Kriya Batik. Sejak didirikan pada tahun ajaran 2016-2017 lalu, para siswa telah terlatih membuat batik dan menginovasikan beragam motif dan corak. “Kemampuan anak-anak itu saling melengkapi. Ada mereka yang pandai motif, ada yang mereka pandai nyanting, pandai pewarnaan, dan lainnya,” kata Denok.

Untuk soal kualitas, Denok menegaskan, batik tulis mereka bisa bersaing dengan batik lainnya. Sebab, bahannya dasarnya beragam. Ada yang terbuat dari jenis kain biasa hingga kain khusus. Seperti kain katun, prima, hingga sutra yang memiliki kualitas terbaik.

Meskipun kualitas sudah mumpuni, namun siswa SMK ini masih mengalami kesulitan untuk menaklukkan pasar. Meskipun begitu, yang terpenting bagi mereka bukanlah soal bisnis. Sebab, para pelajar ini masih bertekad mendalami bakatnya dalam urusan membatik. Mereka menyadari, inspirasi motif-motif itu menjadi salah karakteristik yang patut dipertahankan dan tidak boleh hilang.

Harganya pun cukup terjangkau. Batik cap ditawarkan pada kisaran Rp 100-150 ribu per potong dengan ukuran 2 meter x 10 sentimeter. Sedangkan untuk batik tulis, berkisar Rp 100-600 ribu dengan menyesuaikan jenis kain, kombinasi warna, dan tingkat kesulitan motifnya. “Karena kesulitan akses pasar itu, kami lebih banyak mengandalkan bazar, ekspo, dan sejenisnya,” imbuhnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Saat ini, mereka memang memiliki galeri batik tersendiri di sekolahnya. Ke depan, selain mempertahankan motif-motif itu, mereka juga mengembangkan ke arah usaha dan sablon. Hal itu dilakukan untuk mengimbangi pengeluaran pembelanjaan tiap pekannya. “Kita masih perbanyak referensi, dan juga bagaimana sekiranya bisa mengimbangi biaya kebutuhan barang ini. Jadi, tak hanya produksi, tapi juga bisa menjual,” pungkasnya.

Reporter : Maulana

Fotografer : Maulana

Editor : Lintang Anis Bena Kinanti