Usung Isu Kekerasan Seksual hingga Radikalisme

Mahasiswa Bikin Mimbar Bebas, Kritik Kampus

SAMPAIKAN ASPIRASI: Titin Nur Janna, mahasiswa FKIP Unej, dan beberapa mahasiswa dari berbagai fakultas ikut dalam mimbar demokrasi. Mereka juga menempel beberapa poster bertuliskan persoalan di Unej, kemarin (17/1).

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kesetaraan gender hingga kasus pelecehan seksual yang tenggelam begitu saja di lingkungan kampus Universitas Jember (Unej) menjadi salah satu perhatian mahasiswa dari berbagai fakultas yang menggelar mimbar demokrasi di kawasan Patung Triumviraat Unej, kemarin (17/1). Bahkan, mereka juga tak segan menjuluki kampus negeri ternama di Jember tersebut sebagai “kampus misoginis”.

IKLAN

Satu per satu aktivis mahasiswa itu menyampaikan orasi dan harapan mereka terhadap Unej ke depan. Apalagi, tahun ini Unej akan memiliki rektor baru. Mereka menyampaikan beberapa persoalan kampus yang harus diselesaikan secara konkret. Yaitu mulai dari radikalisme agama, kesehatan, persoalan ramah gender, hingga keamanan kampus itu sendiri.

Wisnu Wilian menyampaikan, persoalan kekerasan atau pun pelecehan seksual rasanya tenggelam begitu saja. Kasus-kasus itu disebutnya nyata adanya, meski hingga kini penanganannya dinilai tak berujung. Padahal, kata mahasiswa Fakultas Teknik ini, diskusi dan dialog tentang kekerasan atau pelecehan seksual di lingkungan kampus juga kerap dilakukan. Tapi tetap saja, hasilnya nihil tak ada kejelasan.

Sementara itu, Azhar Adaby, mahasiswa Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) mengutarakan, mimbar demokrasi mahasiswa itu sebagai refleksi akhir kepemimpinan, sehingga mahasiswa menyampaikan beberapa persoalan yang antara satu dengan persoalan lain saling berhubungan. Salah satunya adalah kasus pelecehan seksual yang menurutnya harus segera diatasi. “Mahasiswi perempuan, terutama yang jalan kaki, ada rasa waswas ketika berjalan kaki di kampus. Apalagi jika malam hari,” paparnya.

Pria asal Banyuwangi ini mengaku, perkuliahan sekarang pun juga ada yang sampai malam. Bahkan, kegiatan mahasiswa yang rapat di unit kegiatan mahasiswa (UKM) juga sampai larut. Sayangnya, infrastruktur dan keamanan kampus itu masih minim. “Akhir-akhir ini yang sering terjadi pelecehan seksual adalah adanya begal payudara,” paparnya.

Mahasiswa lainnya, Zulfikar Prawiranegara menyampaikan, karena Unej akan menggelar putaran pemilihan rektor, maka itu perlu ada suara dari mahasiswa. “Karena ruang-ruang komunikasi ini kurang. Semoga lewat kegiatan ini, suara mahasiswa bisa didengar pimpinan Unej,” kata mahasiswa Fakultas Hukum itu.

Persoalan pelecehan seksual di FIB Unej yang melibatkan oknum dosen, sejauh ini menurutnya juga tidak ada solusi konkret dan penyelesaian yang baik. “Sekarang tenggelam. Melalui kegiatan ini kami ingin mengingatkan kembali,” tegasnya.

Kendati Rancangan Undang-Undang tentang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) belum disahkan, setidaknya ada regulasi tersendiri melalui peraturan rektor agar pelecehan seksual tidak terjadi lagi di kampus. Berkaitan dengan persoalan kesetaraan gender, dia juga berharap ada kurikulum tentang hal itu.

Terkait dengan “kampus misoginis”, menurutnya, tidak hanya pelecehan seksual saja. Namun, di kampusnya budaya patriarki dan diskriminasi terhadap salah satu gender belum sepenuhnya hilang. Bahkan, masih mengakar.

Sementara itu, Hasti Fatma, mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial Politik (FISIP), menyatakan, ke depan, Unej harus ada lembaga pengaduan terkait pelaporan pelecehan seksual. Sebab, jika berkaca pada kasus pelecehan seksual, kejahatan itu juga dapat dialami kaum pria. “Kasus Reynhard Sinaga itu adalah cerminan kasus pelecehan seksual yang dialami laki-laki. Artinya, terkait pelecehan seksual, tidak hanya dialami oleh kaum perempuan. Sehingga, pimpinan kita harus perhatian terhadap isu ini,” pungkasnya.

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih