Kisah Qotimah, Lansia yang Hidup di Bawah Jembatan Jarwo

Sejak Muda Menjadi Pemulung dan Pengemis

SEBATANG KARA: Qotimah yang tinggal di bawah Jembatan Jarwo, Jalan Mastrip. Dia hidup sendiri setelah suaminya meninggal dunia dan warga lain di bawah jembatan juga telah tiada.

Hidup puluhan tahun di kolong jembatan bukan hanya ada di sinetron ataupun di kota-kota besar semata. Tapi tengoklah di bawah Jembatan Jarwo, Jalan Mastrip. Bukan di kafe, tapi pada deretan bangunan semi permanen yang berdiri di sana. Ternyata yang tinggal di sana hanya tersisa satu orang, yaitu Qotimah.

DWI SISWANTO, Sumbersari, Radar Jember

JEMBATAN Jarwo yang berada di Jalan Mastrip memang tak begitu terkenal seperti Gladak Kembar ataupun Jembatan Semanggi. Namun, jembatan itu cukup ikonik. Sebab, tepat di bawah jembatan, terdapat sebuah areal yang cukup luas. Inilah yang unik, bahkan dijadikan kafe.

Walau begitu, ada kehidupan lain di bawah Jembatan Jarwo. Ya, dari empat kolong jembatan yang bentuknya setengah lingkaran tersebut, dua di antaranya terdapat rumah semi permanen. Kala memasuki lorong di kolong jembatan tersebut, tampak tak ada kehidupan. Empat pintu rumah semi permanen yang saling berimpitan tersebut tertutup rapat.

Namun, ternyata ada orang di salah satu rumah tersebut. Kala mencoba mengucapkan salam, ternyata ada suara seorang nenek yang menjawab. “Masuk saja, pintunya didorong saja,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Rupanya, seorang lansia yang tinggal di sana. Qotimah namanya. Nenek itu sempat mengungkapkan tidak bisa membuka pintu karena kakinya tengah sakit.

Kala membuka pintu, sontak bau tak sedap mulai tercium. Makin masuk lagi, semakin menyengat. Dengan langkah tergopoh-gopoh, nenek yang bernama Qotimah tersebut mencoba bangun dari ranjangnya dan duduk di kursi plastik. “Sini, masuk saja,” katanya.

Rumah itu tingginya hanya sekitar dua meter. Satu dindingnya mengandalkan tembok dari Jembatan Jarwo. Lampu lima watt menerangi rumah Qotimah. Tidak ada sofa, yang ada hanya kursi plastik.

Setiap ada satu pertanyaan, Qotimah menjawab dengan begitu panjang. “Usia saya sudah tua, sudah nenek-nenek. Ada mungkin kalau 70 tahun. Kalau tepatnya ada di KTP,” tuturnya.

Tanpa banyak pertanyaan dari Jawa Pos Radar Jember, dia banyak cerita beragam hal. Baginya, berjumpa dengan orang yang berkunjung ke kediamannya adalah hal yang sangat istimewa. Maklum saja, Qotimah hidup seorang diri. Tanpa suami, tanpa anak juga. Bahkan, tidak ada tetangga di samping rumahnya.

“Suami saya meninggal tahun kemarin. Sekarang tidak ada lagi yang tinggal di sini (kolong jembatan, Red). Semuanya sudah pergi duluan,” jelasnya. Pergi duluan yang dia maksud bukanlah pindah rumah, melainkan pindah alam, atau dengan kata lain, meninggal dunia. Lantas, rumah-rumah semi permanen tersebut digunakan sebagai gudang para PKL.

Bila kakinya tidak sakit, Qotimah akan pergi beraktivitas sebagai pengemis dan pemulung. Tempat mangkalnya di sekitar Polres Jember. “Biasanya di hotel depan Polres,” jelasnya. Dia juga pernah mangkal di lampu lalu lintas di Jalan PB Sudirman dan daerah padat penduduk lainnya.

Kondisinya kini, kakinya sakit dan tak bisa berjalan, lantaran terjatuh membuat dia terbaring tak berdaya. Waktu-waktunya hanya diisi di rumah kolong jembatan. Untuk makan, dia dibantu oleh warga sekitar. “Kalau makan diberi Bu Haji, rumahnya di sana,” tuturnya, sembari menunjuk ke satu arah.

Dia mengaku sudah tinggal di kolong jembatan semenjak 30 tahun yang lalu. Dulu banyak sekali orang tinggal di bawah jembatan. Mulai dari pengemis, anak jalanan, pemulung, pedagang dari desa, hingga jambret pun tinggal di kolong Jembatan Jarwo.

Di usia senja dan tinggal sebatang kara, sebenarnya Qotimah ingin kembali ke kampung halamannya. Bukan di Jember, melainkan di Surabaya. Ya, dia mengaku berasal dari Surabaya dan merantau ke Jember hingga bertemu suaminya di Jember. “Nggak punya ongkos. Mau ke Surabaya, kaki juga sakit,” tuturnya.

Dia bahkan berharap ada yang mengunjungi rumahnya. Bukan hanya untuk memberi bantuan, namun lebih pada mencari teman untuk berbincang. “Main-main ke sini ya, biar Mbah ada temennya,” ujarnya ketika Jawa Pos Radar Jember hendak beranjak.

Sementara itu, Kustinah, 67, warga RT 1 RW 23 Kelurahan Sumbersari, yang tinggal di bantaran Sungai Bedadung, Jalan Mastrip, tersebut menjelaskan, sebenarnya Qotimah tinggal di bawah Jembatan Jarwo lebih dari 30 tahun. “Kurang lebih 50 tahun. Saya menikah tahun 1970-an itu sudah ada,” jelasnya.

Dia membenarkan bahwa Qotimah tinggal sendirian. “Tinggal satu orang saja yang tinggal di kolong jembatan,” jelasnya. Sebelumnya, ada satu lagi, tapi baru meninggal dunia. “Baru 40 hari meninggal. Nenek yang baru meninggal itu yang merawat Qotimah,” tuturnya.

Editor: Lintang Anis Bena Kinanti
Reporter: Dwi Siswanto
Fotografer: Dwi Siswanto