Bakal Terapkan Protokol Kesehatan saat Mendaki

ADVENTURE: Para pendaki melakukan pendakian di Gunung Raung, sebelum masa pandemi korona. Akibat Covid-19, APGI mulai menyiapkan protap agar pendaki melaksanakan pendakian sesuai prosedur kesehatan.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sektor wisata diprediksi akan melonjak drastis bila pandemi korona ini berakhir. Tak terkecuali wisata pendakian gunung. Walau begitu, Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) mulai menyiapkan langkah agar pendakian aman dari Covid-19. Ini sebagai antisipasi ketika objek wisata diperbolehkan dibuka kembali oleh pemerintah.

IKLAN

Sekretaris Jenderal APGI Rahman Mukhlis mengakui, sektor wisata menjadi yang terpukul sejak adanya pandemi korona, termasuk pendakian. Kendati demikian, APGI menyiapkan beberapa prosedur lebih ketat dan perlu diperhatikan pendaki gunung yang ingin mendaki kembali seusai pandemi. “Pasti akan ada penyesuaian. Karena ini pandemi masih berlangsung di Indonesia. Sementara perkiraan pemerintah, aktivitas outdoor itu baru bisa dimulai Juli,” ucapnya.

Menurutnya, hal yang diperhatikan adalah dari segi kesehatan yang harus dipatuhi para pendaki. APGI saat ini tengah berfokus menyiapkan protokol baru atau standard operating procedure (SOP) terkait wisata gunung setelah pandemi. Protokol itu, kata dia, berisi tentang hal teknis persiapan sebelum mendaki hingga saat turun nanti. Hal teknis yang sama adalah bagaimana mempersiapkan peralatan pendakian.

Tidak hanya peralatan saja, Rahman menambahkan, tapi juga memelihara kesehatan. Selain itu, yang diperhatikan juga adalah transportasi, sampai pada cara pendakian, berkemah, dan turun pendakian. “Itu semua sudah di tahap draft. Target kami Juni bisa di-publish ke masyarakat,” lanjutnya.

Sekjen APGI itu memberikan bocoran prosedur pendakian gunung setelah pandemi. Salah satu aturan wajib yakni mengenakan masker, membawa hand sanitizer, dan pengecekan kesehatan lebih ketat. Selain itu, menyertakan surat bebas Covid-19.

Dia mengaku, tidak akan susah bagi pendaki untuk memakai masker. Sebab, para pendaki sudah biasa memakai masker ataupun buff. Terkait pengecekan kesehatan yang lebih ketat, menurut Rahman, akan terjadi pada saat proses administrasi ketika tiba di base camp pendakian gunung.

Sekadar informasi, para pendaki biasanya akan diperiksa kesehatannya sebelum diizinkan mendaki gunung. Namun, setelah pandemi, akan ada prosedur pengecekan kesehatan yang lebih ketat berkaitan dengan Covid-19. Termasuk pengecekan suhu tubuh dan lainnya.

Rahman mengatakan, pihak wisata gunung atau tour operator akan menegaskan kembali kepada para pendaki yang tidak memenuhi syarat administrasi. Jika tak memenuhi syarat seperti masalah kesehatan yang mengindikasikan gejala Covid-19, maka pendaki tidak akan diizinkan mendaki.

Rahman juga mengakui, surat kesehatan itu rentan dimanipulasi. “Untuk mengakali itu, setelah prosedur kami jadi, perkiraannya awal Juni nanti, kami akan bergerak ke pemerintah. Bisa Kemenparekraf atau KLHK. Itu nanti kebijakannya ada di mereka,” ucapnya.

Dia berharap, pintu masuk pendakian juga disiapkan dokter. APGI juga berharap pada pemerintah agar hal-hal tersebut dapat terlaksana guna kenyamanan wisatawan atau pendaki gunung pada saat pandemi berakhir.

Sementara itu, Pengurus APGI Jatim Nur Hidayat menambahkan, untuk juknisnya, pengurus daerah juga masih menunggu dari APGI pusat. Sepengetahuannya, penanganan protokol kesehatan dalam pendakian akan diprioritaskan ke gunung tinggi di Indonesia yang dikenal seven summits of Indonesia. Ketujuh gunung itu di antaranya, Semeru, Rinjani, Kerinci, Bukit Raya, Rantemari, Binaiya, dan Carstensz.

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih