Peluang Berwirausaha Lebih Besar

“Peluang kerja untuk SMK sebenarnya masih sangat luas, tapi bergantung pada anak itu sendiri. Apakah mereka mau untuk berwiraswasta atau tidak. Sebenarnya jangan takut untuk berusaha.” Hadi Sumarsono, Ketua Kadin Jember.

Lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) dinilai sejumlah pihak lebih siap terjun di dunia kerja dibanding lulusan setingkat lainnya. Banyaknya praktik daripada teori membuat mereka memiliki peluang besar untuk menjalankan apa yang didapat selama di sekolah. Meski demikian, peluang berwirausaha tersebut kembali pada tekad dan kemauan mereka.

IKLAN

Banyaknya lulusan SMK dari tahun ke tahun tak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang tersedia. Untuk itulah, mereka yang banyak praktik dan menguasai, lebih baik berwirausaha. Kecuali bagi lulusan SMK yang masih akan melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.

LAYANI SEPENUH HATI: Siswi SMK sedang melayani konsumen yang membeli tiket di SMKN 3 Jember
COBA HAL BARU: Pelajar SMKN 3 Jember
praktik meracik kopi ala barista.

Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Jember Hadi Sumarsono menjelaskan, lulusan SMK memang memiliki peluang besar. “Peluang kerja untuk SMK sebenarnya masih sangat luas, tapi bergantung pada anak itu sendiri. Apakah mereka mau untuk berwiraswasta atau tidak. Sebenarnya jangan takut untuk berusaha,” jelasnya.

Hadi menyebut, apabila mengandalkan lowongan kerja, maka lowongan kerja sangat terbatas. Sementara, jumlah lulusan SMK tergolong banyak. Untuk itu, lulusan SMK yang tak lagi melanjutkan kuliah harus mampu menciptakan lapangan kerja sendiri. “Kadin Jember saat ini juga fokus membahasnya. Kami akan masuk ke SMK-SMK memberi pencerahan tentang dunia usaha,” paparnya.

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Republik Indonesia (PHRI) Jember Tegoeh Soeprajitno mengungkapkan, hotel dan restoran di Jember setiap tahun pasti menyerap tenaga dari lulusan SMK. Akan tetapi, mereka yang bisa masuk adalah lulusan yang sudah benar-benar menguasai praktiknya saat ada di lembaga pendidikan. “Kalau hotel dan restoran itu lebih banyak pada jurusan pariwisata dan tata boga. Setiap tahun, serapan dari hotel dan restoran yang ada di Jember pasti ada,” ungkapnya.

Meski hotel dan restoran memberi peluang bagi lulusan SMK, namun tidak seluruhnya bisa terserap. Apalagi, jumlah hotel dan restoran juga terbatas. “Persaingan memang semakin ketat, sehingga mereka yang diterima lebih banyak pada lulusan yang juga memiliki sertifikat dari bidang pariwisata,” imbuhnya.

Tegoeh menegaskan, lulusan SMK yang berkaitan dengan hotel dan restoran tentunya tidak mungkin akan masuk ke hotel dan restoran seluruhnya. Untuk itu, lulusan yang sudah banyak melakukan praktik perlu berani menjalankan usaha tanpa harus menunggu lowongan kerja.

Untuk mereka yang sering praktik tata boga, dia menambahkan, bisa memulai usaha di rumahnya. Sebab, saat ini membuka warung atau tempat usaha tidak lagi menjadi syarat utama. Orang yang berwirausaha bisa melakukannya dari rumah dengan model pemasaran daring (online). “Banyak bisnis sudah dijalankan di rumah. Tinggal kemauan para luluasan SMK untuk menjalankan apa yang telah mereka praktikkan,” tuturnya.

Tegoeh menyebut, di era modern seperti sekarang ini, siapa pun memiliki peluang yang sama. Usaha kuliner salah satu contohnya.  Nah, lulusan SMK yang dulunya sudah melakukan praktik justru memiliki peluang besar karena cukup berpengalaman dibanding yang lain. “Zaman sekarang semuanya terbuka. Tinggal rezeki saja yang berbeda. Tapi, selama ada kemauan, maka peluang itu pasti ada,” pungkasnya.

Bagi lulusan SMK di luar jurusan pariwisata dan tata boga, juga tetap memiliki peluang besar untuk berwirausaha. Artinya, mereka bisa memulai hal kecil dengan menciptakan apa yang telah mereka praktikkan, tanpa harus menunggu ada lowongan pekerjaan.

Reporter : Nur Hariri

Fotografer : Nur Hariri

Editor : Mahrus Sholih