Sanggar Bintang Timur, Embrio Seni Can Macanan Kadduk

Rawat Seni lewat Arisan, Ingin Jember Punya Ikon Sendiri

Bintang Timur disebut sebagai sanggar yang menjadi cikal bakal berkembangnya can macanan kadduk. Meski seiring perkembangan zaman, tantangan mengenalkan seni itu ke generasi muda tidaklah mudah. Apalagi, mereka berada di kawasan kota: Tegalboto.

LEGENDARIS: Sanggar Bintang Timur, sanggarnya kesenian can macanan kadduk sekaligus pencak silat yang berada di wilayah Tegalboto.  

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pada zaman penjajahan Jepang di kawasan Tegalboto, Jember Kota, warga membuat sebuah boneka yang menyerupai macan. Tujuannya, mengusir hewan liar yang ingin memangsa di persawahan. Seiring berkembangnya zaman, boneka itu dinamai can-macanan kadduk dan menjadi seni tradisi asli Jember.

IKLAN

Kesenian yang sudah ada 40 tahun lebih itu mengadaptasi gerakan macan yang disertai iringan gamelan Jawa, barongan Osing, serta ragam budaya daerah lain. Perpaduan beragam kebudayaan itu merupakan ciri Pandalungan. Gerakan lincah yang disertai alunan gamelan membuat pertunjukan macan yang ditampilkan minimal dua orang tersebut menjadi sangat atraktif.

Can-macanan kadduk berasal dari bahasa Madura. Can-macanan berarti macan atau harimau tiruan. Sementara itu, kadduk adalah karung goni. Karung disulam dengan tali rafia sehingga menyerupai macan besar yang mengerikan. Bentuk kepala macan terbuat dari kayu yang dihiasi cat minyak dan menggambarkan mimik wajah garang. Satu perangkat kostum macan beratnya bisa mencapai 50 kg.

Karena tak bisa lepas dari pencak silat, penampilan can-macanan kadduk kerap berbarengan dengan pementasan pencak silat. Bahkan, pentas asli can-macanan kadduk pada awal kemunculannya selalu bersama pencak silat.

Meski dalam perkembangannya ada sentuhan lain yang ditujukan menghibur penonton, namun bagi Sanggar Bintang Timur tidak. Sanggar yang  menjadi cikal bakal can-macanan kadduk di Jember ini tetap mempertahankan pakem aslinya. “Sanggar ini mulai eksis sekitar tahun 1987-an dan menyelenggarakan pementasan satu kali per dua minggu,” ucap David Iswanto, Pembina Sanggar Bintang Timur.

Total ada 26 sanggar can-macanan kadduk di Jember yang tersebar di beberapa kecamatan. Mulai dari Sumbersari, Kaliwates, hingga Patrang. Tapi dari sekian sanggar yang ada, nama almarhum Mbah Mis tetap menjadi rujukan. Dia merupakan tokoh can-macanan kadduk, termasuk bagi Sanggar Bintang Timur.

Pada zaman dulu, Mbah Mis merupakan seorang pendekar. Dia memiliki aliran pencak silat Meduroan, sekaligus mendirikan padepokan untuk melatih anak-anak muda pada zamannya. Di sisi lain, Mbah Mis juga memiliki sawah yang ditanami padi. Tanamannya itu terancam diganggu hewan liar, sehingga dirinya membuat boneka menyerupai macan untuk menjaga sawahnya. “Can-macanan ini sebenarnya ada arti yang tersirat. Ada filosofi budi pekertinya, juga simbol macan sebagai pengaman,” tutur David.

Seiring berkembangnya zaman, tantangan can-macanan kadduk untuk mengenalkan ke generasi muda tidaklah mudah. Para pengurus sanggar harus putar otak agar seni tradisi ini bisa tetap eksis di tengah budaya masyarakat yang kian hedon. Terlebih, mereka berada di kawasan kota, yang sekarang banyak dihuni kampus-kampus besar. Sebab, mengajak mahasiswa melestarikan can-macanan kadduk tidaklah gampang.

Kendati begitu, Sanggar Bintang Timur yang bermarkas di lingkungan Tegalboto tak menyerah. Hingga kini, sanggar tersebut tetap rutin menampilkan seni tradisi itu. Bahkan, sejak awal berdiri, mereka tetap ajek menggelar pementasan, yakni dua pekan sekali.

Selain menggalang dukungan dari organisasi masyarakat (ormas) yang concern terhadap seni tradisi itu, pihaknya juga membentuk arisan. Nanti yang mendapat arisan menjadi tempat penampilan can-macanan kadduk. “Anggota kami sudah mencapai 60 orang. Minimal 30 orang tiap kali tampil,” ucap David.

Di tengah semakin maju dan canggihnya zaman, David berharap, kesenian ini bisa terus lestari dan kian digemari masyarakat. Sehingga Jember memiliki ikon kesenian tersendiri. “Selama ini Jember belum punya ikon kesenian. Can-macanan kadduk ini berbeda dengan barongsai atau Singo Ulung Bondowoso. Karena memang seni asli Jember,” tandasnya.

Reporter : Muchammad Ainul Budi

Fotografer : Istimewa

Editor : Mahrus Sholih