Meninggal saat Ritual di Gunung

EVAKUASI KORBAN: Petugas Polsek Ambulu bersama Tim SAR Rimba Laut dan warga melakukan evakuasi jenazah dari puncak Gunung Samboja, tempat korban melakukan ritual.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Niatnya bertapa untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan, namun malah harus meregang nyawa. Inilah yang dialami Sugihartono, 67, warga Jalan Hayam Wuruk Gang Vespa, Kelurahan/Kecamatan Kaliwates. Dia ditemukan meninggal di area pemakaman puncak Gunung Samboja, Dusun Payangan, Desa Sumberejo, Ambulu, Rabu (15/01) sekitar pukul 05.15.

IKLAN

Sebelum meninggal, korban berangkat ke Ambulu bersama Rofik Firdaus Asri, 48, warga Jalan Kartini 48, Desa/Kecamatan Jelbuk, Selasa (14/01) pukul 20.00 malam. Keduanya sempat mampir di rumah Gus Idom di Desa Sumberejo, Ambulu, sebelum akhirnya sekitar pukul 22.30 WIB naik ke Gunung Samboja dan tiba pukul 23.30 WIB. Di area pemakaman di kawasan gunung itulah, korban dan Rofik melakukan ritual hingga pukul 01.30 WIB.

Namun, sekitar pukul 02.30, korban mengeluh sakit perut dan muntah. Keduanya lantas memutuskan istirahat di lokasi itu. Lalu sekitar pukul 05.15, Rofik bangun dan melihat korban masih tidur. Merasa ada yang janggal, Rofik memilih mengabarkan kejadian itu kepada warga. Namun saat diperiksa, ternyata korban diketahui sudah meninggal dunia.

Kejadian itu selanjutnya dilaporkan ke kepala Dusun Payangan dan diteruskan ke polsek setempat. Petugas bersama perangkat desa setempat langsung menuju Gunung Samboja bersama petugas medis dari Puskesmas Sabrang, sekitar pukul 06.30.

Proses evakuasi korban cukup sulit karena posisinya berada di puncak Gunung Samboja. Petugas harus menggunakan tandu untuk bisa membawa jenazah. Apalagi jalan yang dilalui korban ini hanya bisa dilewati dua orang saja.

Kapolsek Ambulu AKP M Sudaryanto menuturkan, kuat dugaan korban meninggal karena terkena serangan jantung. “Menurut keluarga, korban memiliki riwayat sakit jantung. Bahkan, sebelum berangkat menuju lokasi, korban sudah mengeluh sakit dan kelelahan,” ujar Sudaryanto.

Pihaknya juga sudah berinisiatif melakukan otopsi guna mengetahui penyebab pasti kematian korban. Namun, pihak keluarga menolak. “Kita minta keluarga untuk menandatangani surat pernyataan penolakan otopsi dengan disaksikan perangkat desa setempat. Selanjutnya, jenazah kita serahkan untuk segera dimakamkan,” imbuhnya.

Sementara itu, Dwi, 51, istri korban yang datang ke Puskesmas Sabrang, mengaku bahwa suaminya sudah berangkat ke Ambulu sejak Selasa (14/1) malam. “Saya sudah melarang untuk berangkat karena memang mengeluh sakit, tetapi korban tetap nekat berangkat,” ujar Dwi.

Reporter : Jumai

Fotografer : Istimewa

Editor : Lintang Anis Bena Kinanti