Panen Lebih Awal, Waspada Serangan Ulat

DAUN EMAS: Sorang pekerja sedang memanen tembakau di kebun PTPN 10, Desa Kranjingan, Sumbersari.

RADARJEMBER.ID – Panen perdana tembakau di Kabupaten Jember sudah dimulai. Namun, para petani tetap harus mewaspadai serangan hama ulat pada daun tembakau. Karena, jika tak mampu dicegah, serangan itu bakal berdampak terhadap kualitas “daun emas” tersebut. Mutu bahan baku cerutu ini dipastikan menurun dan memengaruhi nilai jualnya.

IKLAN

Salah satu tembakau yang mulai dipanen adalah milik PTPN 10 Kebun Kertosari di Kecamatan Pakusari. Lahannya berlokasi di areal persawahan Desa Kranjingan, Kecamatan Sumbersari. Setidaknya ada sekitar 14 hektare tanaman tembakau di kawasan itu. Ada yang dipanen sejak sepekan lalu dan ada yang baru dilakukan kemarin (13/7).

Kepala Penataran Wirologi Kulon PTPN 10 Wawan Sofwanul Hakim mengatakan, pada musim panen tembakau perdana hama ulat harus menjadi perhatian khusus. Oleh karena itu, pegawainya ada yang secara khusus melakukan pengawasan dan pengendalian hama.

“Kebetulan yang saya tangani ada lima hektare. Untuk mencegah hama penyakit, ada pegawai khusus pembasmi hama. Saat ini hama ulatnya ada. Sehingga setiap hari dilakukan penanganan,” kata Wawan, saat dikunjungi di pondok tempat peristirahatannya di tengah tanaman tembakau.

Hama ulat menurutnya tidak bisa dianggap enteng. Bila sampai menyerang dan menyebar maka akan menjatuhkan harga tembakau. Serangan hama ulat bisa diketahui dengan pandangan mata. “Kalau ulat tembakau sampai menyerang, otomatis butuh pupuk lebih. Nah, oleh pembelinya itu bisa diketahui. Apalagi, tembakau ini untuk cerutu dengan kualitas ekspor,” paparnya.

Kendati serangan ulat harus dicegah, namun upaya pembasmian menggunakan pestisida tak boleh melebihi dosis lebih. Karena menurutnya memengaruhi rasa tembakau itu sendiri. Wawan menyebut, pembeli tembakau berkelas pasti memastikan rasanya.

Bahkan, konsumen tembakau akan memastikan kualitas daun tembakau kering itu secara langsung seperti mencicipi makanan. “Jadi untuk mengetahui tembakaunya bagus atau tidak itu dengan cara dikunyah. Tembakaunya dirasakan langsung seperti mengunyah makanan,” papar Wawan.

Dikatakannya, panen tembakau biasanya dilakukan pada usia tanaman 42 hari. Dalam sehari, dia dan para pegawai hanya memetik antara dua sampai tiga lembar daun. Untuk ukuran tanaman seluas lima hektare tersebut, menurutnya ada sekitar 35 tenaga petik. Tanaman tembakau baru akan selesai dipanen sekitar sebulan ke depan.

Tembakau tersebut, kata dia, akan dibagi menjadi tiga kelompok. Yaitu A1, A2, dan A3. Pengelompokan tersebut dibedakan berdasar kualitas tembakaunya serta ukuran besar kecilnya daun tembakau.

Data yang berhasil dikumpulkan, PTPN melakukan penanaman tembakau tergolong awal. Sehingga masa panennya juga lebih dulu. Sementara di luar usaha PTPN, para petani tembakau misalnya, sebagian besar diprediksi baru akan panen sekitar sepekan hingga dua pekan mendatang.

Reporter : Nur Hariri

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih