Jangan Sampai Jadi Klaster Baru

Perguruan Tinggi Kaji Skenario New Normal

DIPERKETAT: Salah satu pintu masuk Universitas Jember dijaga oleh petugas keamanan kampus. Hal ini dilakukan demi mengurangi potensi penularan korona.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – New Normal menjadi pembahasan yang kian santer di tengah pandemi korona saat ini. Begitu pula di dunia pendidikan, khususnya perguruan tinggi, yang juga mulai mematangkan skenario New Normal dalam berbagai aktivitasnya.

IKLAN

Rektor Universitas Jember (Unej) Iwan Taruna mengungkapkan, dari 31.796 mahasiswa aktif Unej, 76 persen di antaranya berasal dari wilayah Jawa Timur yang statusnya masuk zona merah. Sehingga, jika proses belajar mengajar secara tatap muka dilaksanakan di Kampus Tegalboto, dikhawatirkan kampus akan menjadi episentrum baru penularan Covid-19. “Oleh karena itu, kita sangat berhati-hati dalam memutuskan akan membuka kampus atau meneruskan belajar secara daring,” katanya.

Unej sendiri tengah mematangkan dua skenario menghadapi era New Normal. Skenario pertama adalah blended learning di mana kuliah dilakukan dengan tatap muka dan daring, dengan asumsi pandemi Covid-19 sudah mereda. “Dalam skenario ini mahasiswa akan berada di kampus selama tiga bulan dan melanjutkan belajar secara daring untuk tiga bulan selanjutnya di rumah masing-masing,” ucapnya.

Jika ternyata pandemi Covid-19 belum mereda, maka proses belajar mengajar selama satu semester akan dilakukan full secara daring. “Bagaimanapun keselamatan dan kesehatan warga kampus menjadi yang utama,” tegasnya

Tantangan era New Normal juga disampaikan oleh dalam webinar oleh Dekan FKIP Universitas Jember Prof Dafik. Menurutnya, transfer ilmu pengetahuan dan teknologi mungkin bisa dilakukan secara daring. Namun, kompetensi terkait praktik, sikap dan nilai masih membutuhkan proses pendidikan dengan cara tatap muka.

“Contohnya kami di FKIP, setiap tahun bisa mengirimkan seribuan mahasiswa untuk melaksanakan praktik mengajar di sekolah-sekolah,” jelasnya. Tapi, dengan adanya korona, maka kegiatan itu ditiadakan. Padahal, mahasiswa FKIP sebagai calon guru perlu praktik mengajar di hadapan siswa.

Sementara itu, Direktur Politeknik Negeri Jember (Polije) Saiful Anwar mengatakan, sementara ini Polije bukan menerapkan kebijakan New Normal, tetapi transisi New Normal. “Kami akan melakukan masa transisi New Normal terlebih dahulu sebelum benar-benar memberlakukan New Normal,” jelasnya.

Masa transisi inilah menjadi kunci penting bagaimana jajaran pegawai dan staf itu terbiasa menjalankan kehidupan di kampus, dengan penerapan protokol kesehatan secara ketat. Pada Juli nanti Polije akan mulai membuka akses mahasiswa untuk kembali ke kampus. Diawali oleh mahasiswa semester akhir yang akan menyelesaikan program tugas akhir.

“Ada kalanya mahasiswa akhir itu butuh menyelesaikan tugas akhir dan harus dikerjakan di kampus. Karena laboratorium penelitiannya ada di kampus. Termasuk juga mereka yang butuh konsultasi dengan dosen,” tuturnya.

Tentu saja Polije sebagai kampus vokasi memerlukan ruang praktikum untuk mematangkan teknis praktikum apa yang dilakukan. “Karena kami kampus vokasi, maka skill praktik itu diperlukan. Sehingga, nanti materi kuliah bisa dilakukan daring. Sementara hanya praktikum saja di kampus,” ujarnya.

Di sisi lain, perlunya negara hadir di era New Normal disambut oleh Ketua Dewan Pakar Keluarga Alumni Universitas Jember (Kauje) Prof Siti Zuhro. Pakar politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini menyarankan agar koordinasi dan kerja sama antara pemerintah pusat dengan daerah lebih diperkuat.

Pasalnya, dengan wilayah yang luas, kondisi yang berbeda, maka tidak mungkin menyamaratakan kebijakan penanganan Covid-19 untuk semua daerah di Indonesia. Termasuk dalam mengaplikasikan kebijakan pendidikan.

“Harus ada evaluasi bersama antara pemerintah pusat dan daerah setelah tiga bulan penanganan pandemi Covid-19. Saya usul agar penanganan pandemi Covid-19 bermula dari desa dan kelurahan dengan memperhatikan kondisi masing-masing wilayah,” pungkasnya.

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih