Perjuangan Martono, Pedagang Sapi Asal Kaliwates

Sempat Jualan Door to Door, hingga Menunda Upah Pekerja

Ditutupnya pasar hewan beberapa waktu belakangan ini membuat para pedagang sapi kelimpungan. Salah satunya adalah Martono, pria asal Jalan Cadika, Kelurahan Sempusari, Kaliwates. Bagaimana kisahnya?NUR HARIRI, Sempusari, Kaliwates.

Banting Harga: Martono mengelus sapi dagangannya yang belum laku terjual.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu, sejumlah pedagang hewan datang ke DPRD Jember. Mereka mengadu nasib agar pasar yang ditutup pemerintah bisa segera dibuka. Di antara sekian banyak pedagang, salah satunya adalah Martono. Pedagang ini lebih banyak diam ketimbang beberapa temannya yang saat itu menyampaikan aspirasi.

IKLAN

Martono yang datang membawa dua ekor sapi miliknya tampak sibuk mengurus hewan dagangannya. Sesekali dia terlihat memegang tali kekang sapi dan mengelus-elus wajahnya. “Kapan kamu terjual pi?” demikian batin Martono. Dia terus mengelus muka sapi dagangannya tersebut.

Ayah dua anak ini menjelaskan, dirinya sudah sejak lama menjadi pedagang sapi. Dari menjual satu sapi, dua sapi, hingga merawat belasan sapi. Karena jumlah sapinya setiap tahun mengalami peningkatan, dia pun mengajak beberapa tetangganya untuk turut serta membantunya.

“Dulu, saya hanya jualan satu-dua ekor saja. Saya beli satu, saya jual lagi. Tetapi lama-kelamaan bertambah. Sekarang, sapi saya ada 15 ekor. Sebulan terakhir ini 15 sapi saya itu tidak ada yang terjual. Sementara, setiap hari juga saya harus merawatnya,” kata Martono.

Lantaran sapi dagangannya berjumlah cukup banyak, maka orang-orang yang ikut padanya memiliki tugas masing-masing. Ada yang khusus untuk mencari rumput, membersihkan kandang, hingga rutin memandikan lembu-lembu itu. Selain itu, ada beberapa orang sopir truk dan pikap. Termasuk ada yang membantunya untuk menawarkan penjualan. Seluruhnya ada delapan orang yang ikut bekerja kepadanya.

Sejak pasar ditutup, Martono menyebut, ada serangkaian upaya yang dilakukannya bersama beberapa anak buahnya. Yaitu keliling ke sejumlah lokasi untuk menawarkan sapinya. Akan tetapi, penjualan sapi yang dilakukan layaknya orang mengamen dari rumah ke rumah itu dinilainya tidak efektif. “Saya sempat keliling beberapa hari pakai motor. Masuk ke rumah orang menawarkan sapi dari satu pintu ke pintu. Saya pikir lucu juga. Hasilnya tidak ada sapi yang terjual,” ungkapnya.

Lantaran berjualan sapi dengan cara door to door tidak efektif, dia pun memutar otak untuk mencari cara lain. Beberapa kali dia datang ke pasar, tetapi sepi karena pasarnya ditutup. Menawarkan pada orang di warung-warung juga pernah, tapi hasilnya juga nihil.

Martono bahkan beberapa kali menghubungi pedagang sapi lain antarkecamatan. Ternyata, mereka juga kebingungan mau menjual sapi ke mana. “Sampai-sampai kami bercanda sesama pedagang. Saya yang membeli sapi kamu dan kamu yang membeli sapi saya,” ungkapnya, kemudian terkekeh.

Lantaran penjualan sapi mandek, maka pemasukannya juga terhenti. Dari situ, Martono dihadapkan dengan situasi sulit, yakni harus menanggung upah delapan orang pekerja yang ikut kepadanya. “Dua minggu pertama saya masih bisa pinjam uang. Tetapi setelah itu saya bingung. Sesama pedagang juga sudah tidak punya uang. Jadi, saya sangat bingung ini sapi dijual ke mana,” jelasnya.

Kondisi kantong kering yang dialami Martono semakin menjadi. Hal itu kemudian berimbas pada dana cadangan yang dia pinjam semakin menipis. Akhirnya, Martono meminta maaf kepada delapan pekerjanya bahwa seluruh pekerjaan sejak tiga pekan lalu seluruhnya diutang. “Jadi, orang yang membantu saya ngarit (mencari rumput, Red) saya utang. Padahal kalau ngarit itu ongkosnya diberikan sesuai rumput yang didapat. Tapi mau bagaimana lagi,” ulasnya.

Hampir setiap hari, Martono mengaku cukup sedih. Betapa tidak, beberapa orang yang bekerja bersamanya tidak mendapatkan upah. Martono yang sempat mencoba keliling Jember untuk menjual sapinya lagi-lagi dihadapkan pada hasil yang nihil. Dia pun datang kepada para pekerjanya dengan membawa segenggam harapan agar dimaafkan. “Saya hanya bisa minta maaf karena upahnya saya utang. Kapan mau saya bayar? saat ada sapi terjual,” pungkasnya.

Reporter : Nur Hariri

Fotografer : Nur Hariri

Editor : Mahrus Sholih