Kisah Suryadi, Pembuat Patung Asal Patrang

Perlu Perhatian, 10 Tahun Hidup di Gubuk Derita

Kondisi perekonomian Suryadi jatuh akibat ulahnya sendiri. Rumahnya dirobohkan, sepuluh tahun yang lalu, lantaran ada persoalan. Kini, dia tinggal di tengah puing-puing dan bertahan hidup dengan membuat patung.

DEMI EKONOMI: Suryadi berdiri di antara patung buatannya, di depan rumahnya yang dulu dirobohkan sendiri.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Rumah itu telah runtuh. Panas dan hujan pun telah merapuhkan puing-puing rumah yang ambruk. Seakan mustahil ditempati oleh seorang warga. Akan tetapi, fakta berkata lain. Suryadi tiba-tiba muncul dari sebuah gubuk yang ada di tengah rumah. Dia pun menyapa Jawa Pos Radar Jember yang memanggil-manggil namanya.

“Siapa? Ada apa ya?” kata Suryadi, yang keluar dari dalam gubuk di reruntuhan rumahnya. Dia pun mengulurkan tangan untuk bersalaman. Tanpa kata, Suryadi kemudian menutup sebuah patung yang belum selesai dengan kertas. “Ini belum kering, takut terkena injak,” ucapnya.

Lantaran rumahnya telah ambruk, Jawa Pos Radar Jember dan Suryadi pun sama-sama tetap berdiri dan berbincang. Suryadi tampak kaku, tetapi akhirnya suasana cukup cair. Dia pun menceritakan perjalanan hidupnya hingga menjadi seorang perajin pembuat patung.

Dulu, sekitar 12 tahun yang lalu, Suryadi harus tinggal sendiri di sebuah rumah yang terletak di Jalan Nanas RT 5 RW 18. Hal itu terjadi karena keluarganya lebih memilih untuk pindah ke Madura. Sementara, Suryadi tetap bertahan.

Pada 2011 lalu, pria yang kini berusia 40-an tahun itu mengaku, ada permasalahan yang dihadapinya. Karena permasalahan itulah rumah permanen yang sempat dia tempati, kini hanya tersisa puing-puing. Ya, rumah itu akhirnya dirobohkan. “Saya sendiri yang merobohkan,” ulasnya.

Masalah apa yang dihadapi sehingga rumahnya dibongkar, Suryadi enggan menjelaskan. Yang jelas, kini dirinya harus menatap masa depan. Dia pun bertahan hidup di gubuk yang dibuatnya sendiri. “Sampai sekarang tinggal sendiri, saya belum menikah,” imbuhnya.

Dalam perjalanan hidupnya, tidak semua hal diungkap. Ada banyak hal yang dialaminya selama sepuluh tahun terakhir atau setelah rumahnya dibongkar sendiri. Nah, Suryadi atau siapa pun tentunya tak pernah bercita-cita untuk menjalani hidup yang demikian. Nasi telah menjadi bubur. Untuk bisa melakukan perbaikan, tentu pengalaman pahit masa silam tidak harus menjadi bayang-bayang yang memberatkan perjalanan hidup ke depan.

Terlepas dari pengalaman pahit tersebut. Kini Suryadi telah mulai bangkit. Belum sampai setahun terakhir, dirinya berkarya dengan membuat sebuah patung. Patung andalannya sementara ini yakni patung jenis Bagong dan patung perempuan. Dengan buatannya itulah, dia mendapatkan sedikit penghasilan dari para pembelinya. “Sementara, yang membeli dari Jember saja,” tutur pria yang di depan bekas bangunan rumahnya itu terdapat gambar Presiden Soekarno.

Ditanya apakah ada rencana untuk membangun rumahnya kembali, Suryadi mengaku tidak punya. Pengakuan itu lantaran dari sisi perekonomian sudah tak mendukung. Saat ditanya, bagaimana jika suatu hari nanti ada yang membangunkan rumahnya walau sederhana, Suryadi justru menjawab takut ada masalah. “Saya tidak mau kalau ada masalah,” tegasnya.

Selama berkomunikasi, senyum yang tampak darinya terlihat irit. Suryadi sepertinya memiliki karakter yang cukup keras. Sisi inilah yang tentunya membutuhkan pendampingan serius. Sikap, sifat, dan mungkin kontrol terhadap emosinya sangat membutuhkan pendampingan. Dengan begitu, masa depan yang tak lagi kelam bisa menjauhi Suryadi, si pembuat patung yang tidak memiliki identitas apa pun.

Editor: Lintang Anis Bena Kinanti
Reporter: Nur Hariri
Fotografer: Nur Hariri