Petani Protes Pembelokan Saluran Irigasi

Gelar Demo di Kawasan PT Semen Imasco

TEGAS: Sejumlah petani dan mahasiswa melakukan mediasi di Balai Desa Puger Wetan, kemarin (13/2). Mereka meminta bukti perizinan pembongkaran saluran irigasi yang dilaksanakan pada Selasa (11/2) di selatan Pabrik Semen Puger PT Imasco Asiatic, Desa Puger Wetan, Kecamatan Puger.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejumlah petani bersama beberapa mahasiswa berkumpul di selatan pabrik PT Semen Imasco Asiatic, kemarin (13/2). Mereka menyuarakan aspirasi karena merasa dirugikan akibat saluran irigasi di selatan pabrik kembali dibelokkan. Pengalihan saluran irigasi ini berdampak ke petani, karena tanaman padi yang baru mereka tanam membutuhkan banyak air.

IKLAN

“Permasalahan ini sebenarnya sudah lama,” tutur Nurdiyanto, koordinator petani. Menurutnya, perselisihan antara petani dengan PT Semen Imasco ini terjadi sejak dua tahun lalu. Pabrik semen itu berupaya membelokkan saluran air dengan membuat kanal baru di luar area pabrik. Karena kanal lama melewati kawasan pabrik.

Nurdiyanto mengatakan, selama ini protes yang dilakukan terkesan tak pernah didengar. Dari awal, pihaknya menolak adanya relokasi saluran irigasi. Sebab, menghambat aliran air ke persawahan yang ada di dua desa, Puger Kulon dan Puger Weran. Sebab, saluran yang baru dibangun tersebut melingkar sekitar 400 meter. “Dampaknya terasa sekarang. Meski musim hujan, air tak sampai ke Puger Kulon,” tegasnya.

Pada Selasa (12/2), pihak pengairan membelokkan arah saluran irigasi. Keesokan harinya, Rabu (13/2) kemarin, petani mengumpulkan masa untuk berunjuk rasa. Saat di lokasi, para pengunjuk rasa bermediasi dengan Koordinator Sumber Daya Air (SDA) Balung bernama Agung. Petugas yang berjaga di saluran irigasi tersebut berdalih bahwa pemindahan itu hanya uji coba selama tiga hari. Selanjutnya, akan dikembalikan seperti semula.

Petani tak percaya begitu saja penjelasan Agung. Mereka tetap khawatir apa yang disampaikan petugas pengairan itu tidak dilaksanakan. Karena itu, Nurdiyanto, para petani, dan sejumlah mahasiswa mendesak pengembalian saluran tersebut secepatnya. Mereka berbondong-bondong ke Balai Desa Puger Wetan untuk meminta keterangan mengenai perizinan kegiatan itu. Sayangnya, kades tak ada di tempat.

“Masyarakat tak dilibatkan dalam musyawarah pembongkaran jalur irigasi,” ujar Gandis, koordinator mahasiswa. “Kami akan menunggu sampai besok (Jumat, Red),” sambung aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) tersebut. Dia berharap, pihak pemerintah yang memiliki otoritas mau melibatkan masyarakat secara keseluruhan. Terutama warga yang terdampak akibat pengalihan saluran irigasi tersebut.

Saat ini belum diketahui siapa yang bertanggung jawab atas pemindahan saluran irigasi itu. Meski telah melakukan mediasi dengan pihak pengairan dan perangkat Desa Puger Wetan, oknum yang bersangkutan masih abu-abu. Dugaan sementara, ada keterlibatan pihak PT Imasco Asiatic atas kejadian itu. Sebab, pembelokan saluran irigasi sejauh 400 meter ada di dalam PT Imasco. Rencananya, para pendemo bakal menggerakkan aksi dengan massa yang lebih banyak jika kemarin tak mendapatkan hasil. Upaya konfirmasi terhadap PT Semen Imasco Asiatic sudah dilakukan Jawa Pos Radar Jember, namun belum mendapat respons.

Sementara itu, dampak perubahan saluran irigasi tak hanya dirasakan para petani di Desa Puger Kulon. Para petani di Desa Puger Wetan juga terkena dampak. Mereka harus bekerja sama untuk membersihkan sampah yang ada di saluran irigasi dekat persawahan. Adanya sampah-sampah itu lantaran lebar saluran irigasi di Desa Puger Wetan lebih kecil daripada saluran irigasi ke arah Desa Puger Kulon.

“Sampah ini berasal dari hulu,” ujar Panut, warga Desa Puger Wetan. Tekanan kedua sungai itu melambat setelah saluran irigasi dekat pabrik dibelokkan sekitar dua tahun lalu. Akibatnya, banyak sampah yang menumpuk di bagian hulu. “Nah, Selasa kan dibelokkan lagi,” imbuhnya. Karena itu, sampah-sampah tersebut terbawa arus menuju Desa Puger Wetan.

“Kalau tak dibersihkan ya percuma. Meski air meluap, hilir tetap tak kebagian air,” ungkap Sukirno, warga Desa Puger Wetan. Dia bersama warga lain telah membersihkan sampah sejak pagi sekitar pukul 07.00. Karena jumlah sampah yang tinggi, mereka baru bisa melancarkan aliran air sekitar pukul 11.30.

Reporter : mg1

Fotografer : mg1

Editor : Mahrus Sholih