Aktif di Dunia Hiburan, Sering Menyabet Penghargaan

Nathasya Cherryn Anasthasya Siswoyo, Bermimpi Jadi Putri Indonesia

Memiliki putri cantik dan berprestasi menjadi kebanggaan setiap orang tua. Seperti pasangan Cun Cun Siswoyo dan Ririn Febriani Sandi. Ketelatenan dan ketekunan mereka berhasil mengantarkan Nathasya Cherryn Anasthasya Siswoyo, putri pertamanya, mendulang prestasi di berbagai acara dan kompetisi. Bahkan hingga level nasional.

MULTI TALENTA: Nathasya Cherryn Anasthasya Siswoyo, putri cilik asal Jember yang banyak berkiprah hingga level nasional.

RADAR JEMBER.ID – Usia muda dengan segudang bakat tak terlahir begitu saja. Membutuhkan usaha dan kerja keras untuk mewujudkannya. Begitu pun yang dilakukan oleh kedua orang tua Nathasya. Di usianya yang masih belia, baru 11 tahun, dia mampu menyabet berbagai penghargaan bergengsi di dunia entertainment (hiburan).

IKLAN

Nathasya memiliki ketertarikan di dunia modelling sejak masih di bangku TK. Dari situ, dia terinspirasi ingin memperdalam dan mulai mencoba mengikuti lomba modelling. “Dulu sempat tahu putri cilik, terus kok kayaknya seru. Kemudian belajar ikut modelling dan mulai nyoba-nyoba ikut lomba,” katanya.

Selama masa belajar itu, lanjutnya, berbagai tempat kursus dan latihan dia jajaki. Seperti di Run Way Model School, Syam Modeling, KS Model Management, dan Glamour. Di setiap tempat kursusnya itu, dia mengembangkan bakat yang berbeda. Seperti model, tari, dan bernyanyi.

Berkat usaha dan latihannya yang tekun, hasil yang dicapainya tak main-main. Banyak piagam dan penghargaan tertata rapi di lemari rumahnya di Pesona Regency Blok AC 43 Patrang. Seperti juara 1 lomba menyanyi di Transmart Jember tingkat SD, juara favorit di Situbondo dalam lomba dance, serta duta pelajar tingkat provinsi pada 2016 di Malang.

Tak hanya itu, Natasya juga meraih juara harapan 2 Jember Mathematic Science Olimpiade (JMSO), medali perunggu olimpiade matematika di Malang untuk tingkat provinsi, dan The Winner Festival Fashion Award di Malang tingkat provinsi. Puncak karirnya adalah saat dinobatkan sebagai Puteri Cilik Jawa Timur Lingkungan 2019 dan The Best Photogenic Putri Cilik Indonesia 2019. Di dua ajang itu, dia bersaing dengan sekitar 37 peserta dari Jawa Timur serta 39 peserta dari Jakarta.

Selain di modelling, siswi yang bersekolah di SDN Jember Lor 3 ini juga mengaku menekuni dunia tarik suara. Untuk mengasah kemampuannya, dia mengikuti kursus dan les di Sanggar Pindhank Art yang dipandu oleh Agus Pindhank dan Sintha Andry dari House Music.

Sedangkan untuk dance, dia membentuk group dance dengan Dwi Puspitasari, salah seorang pelatih tari. “Sebenarnya tari sama menyanyi itu dari inisiatif sendiri. Kalau modelling itu sejak kecil sudah pernah ikut, hingga akhirnya seperti ini,” imbuh Nathasya.

Meskipun banyak memiliki bakat, namun yang disukainya adalah dunia fashion atau model. Sebab, bidang itu dinilainya sesuai dengan karakter dan bakat awalnya. Tak hanya di karir, bidang akademik pun sukses diraih gadis 11 tahun itu. Dia tercatat beberapa kali menjadi juara kelas. Bahkan, sudah menjadi langganan setiap tahun. Mulai dari kelas satu hingga kelas empat.

Di usia yang masih sangat belia itu, Nathasya mengaku, ia dituntut terus menjaga prestasi belajarnya. Untuk menyiasatinya, dia memiliki jadwal tersendiri. Mulai dari jadwal sekolah, bimbel, jadwal mengaji, dan jadwal latihan bernyanyi. “Pingin jadi model dan penyanyi profesional. Dan untuk lebih besarnya, cita-cita saya ingin jadi Puteri Indonesia,” ungkapnya, penuh harap.

Prestasinya yang mentereng tak lepas dari dukungan sang ibu. Sebagai orang tua, kiprah Ririn Febriari Sandi memiliki tugas berat menjaga putri pertamanya itu agar mampu menyeimbangkan antara karir dan belajar. “Saya dukung segala bakatnya. Oleh karena itu, saya harus bisa mengatur jadwal dia, antara belajar dan talent harus seimbang,” ungkapnya, saat ditemui Radarjember.id.

Menurutnya, memiliki prestasi di bidang nonakademik itu perlu. Tapi bukan berarti mengesampingkan prestasi seorang anak dalam akademiknya. “Kalau talent-nya dia bagus, tapi belajarnya drop, sebagai orang tua saya tidak mau,” imbuh ibu 34 tahun ini.

Ririn bahkan membuatkan Nathasya jadwal pribadi untuk mengatur segala aktivitasnya. Sebab, hal itu dianggap sangat berpengaruh terhadap capaiannya selama ini. “Dia juga harus belajar mengaji, karena agama itu juga penting. Ilmu tanpa agama, tidak ada gunanya,” tambahnya.

Sebagai orang tua, dia cukup berbangga dengan prestasi anaknya. Meskipun di sisi lain, ada kebiasaan putri kesayangannya itu yang masih sulit dihilangkan. “Saat berada di rumah, kadang bangunnya siang, subuhan itu masih dibangunkan. Kalau waktunya latihan atau belajar, masih menunggu disuruh,” tukasnya, sembari tersenyum. (*)

Reporter : Maulana

Fotografer : Istimewa

Editor : Bagus Supriadi