Mikroorganisme Bisa Mati

Dampak Pembakaran Sisa Padi

POLUSI UDARA: Membakar damen atau sisa hasil panen padi masih dipilih oleh petani Jember. Padahal, aktivitas ini bisa membunuh mikroorganisme di dalam tanah yang membantu menyuburkan tanah.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tidak repot, hemat tenaga, dan cepat. Inilah alasan petani memilih membersihkan jerami padi dengan cara membakarnya. Padahal, cara ini bisa merusak mikroorganisme di dalam tanah yang turut membantu menyuburkan lahan.

IKLAN

Dosen Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Jember Prof Soetriono menjelaskan, saat ini petani tidak mau repot dan memilih jalur singkat untuk membersihkan lahan pertaniannya dari jerami padi yang sudah dipanen. Sehingga, jalur membakar jerami itulah yang mereka pilih. Alasannya, jerami yang dibakar akan menghasilkan humus dan bisa dijadikan pupuk organik.

Menurut Soetriono, hal ini memang bisa diaplikasikan. Tapi karena aktivitas membakar jerami di sawah yang menghasilkan panas di tanah, maka mikroorganisme akan mati juga. “Mikroorganisme yang hidup dalam tanah dan membantu menyuburkan tanah, akan mati juga karena panas yang dihasilkan pembakaran jerami,” jelasnya.

Jika jerami tidak dibakar di sawah, maka lahan pertanian akan tetap subur dengan penambahan humus hasil pembakaran jerami. Namun, kata Soetriono, hal itu masih belum akan dilakukan oleh petani. “Jerami dibawa ke tempat lain untuk dibakar tidak mungkin dilakukan, itu akan menambah biaya dan tenaga,” paparnya.

Tentu saja, cara yang paling tepat agar tanah itu tambah subur setelah panen, maka memakai metode tradisional. Yaitu jerami tidak dibakar, tapi sawah digenangi air dan jerami tersebut dimasukkan ke dalam tanah. Jerami tersebut akan mengalami proses pembusukan dalam tanah, sehingga menghasilkan humus.

Seotriono tak menampik jika proses tradisional tersebut membutuhkan waktu berhari-hari. Tak heran, petani saat ini mulai enggan menerapkan cara tradisional yang sebenarnya cara terbaik untuk memulai pertanian organik. “Sebenarnya juga ada cara tradisional yang cepat, yaitu jerami dibusukkan terlebih dahulu dengan bantuan mikroorganisme seperti menambah cairan EM-4,” jelasnya.

Cairan yang mempercepat proses pembusukan pun mudah didapat di toko pertanian dan harganya juga cukup terjangkau. Bahkan, jerami yang diberi cairan mikroorganisme tersebut tidak perlu disimpan ke tangki tertutup. “Cukup tutup terpal biasa dan diamkan ke sawah selama tiga hari itu sudah cukup,” jelasnya.

Soetriono menjelaskan, metode memasukkan kembali jerami ke tanah juga dipakai dalam studi kaji terap perbaikan tanah kawasan strategis agropolitan. “Kalau di Jember itu berada di daerah Mayang,” jelasnya.

Dengan memanfaatkan mikroba untuk meningkatkan kesuburan tanah, meningkatkan kadar organik, kawasan tersebut bisa beralih ke pertanian organik. “Sekitar 2,5 tahun bisa menjadikan pertanian organik,” pungkasnya.

 

Editor: Lintang Anis Bena Kinanti
Reporter: Dwi Siswanto
Fotografer: Dwi Siswanto