Inspirasi Nenek Penjual Camilan Keliling di Kampus

Nggak Boleh Malas. Kalau Nggak Kerja Malah Sakit

Langkah kaki mungil si nenek melambat lantaran berat dagangan yang dia sunggi. Sejenak, tubuhnya memaksa untuk berhenti dan beristirahat di tepi jalan. Di usianya yang sudah renta, dia masih semangat bekerja. Nyunggi sejumlah kerupuk yang ditaruh di bak mandi, dia kerjakan karena alasan yang luar biasa. 

PERJUANGAN HIDUP: Nanik, warga Kelurahan Bintoro, Kecamatan Patrang, bersemangat menjajakan barang dagangannya di Jalan Karimata, Kecamatan Sumbersari, daerah kampus. 

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Di bawah terik matahari siang itu, Mbah Nanik, warga Kelurahan Bintoro, Kecamatan Patrang, berkeliling di daerah Jalan Karimata, Kecamatan Sumbersari. Dia merupakan penjual camilan di daerah sekitar kampus. Yakni, kerupuk, rengginang, keripik, dan rempeyek.

IKLAN

Dia menggunakan bak mandi sebagai tempat untuk menjual dagangannya. Sebagai alas kepala, dia menggunakan kain yang sudah diatur sedemikian rupa. Tujuannya, supaya kepalanya tidak sakit saat nyunggi bak mandi berisi camilan. Kain tersebut juga berfungsi untuk menyeimbangkan bak yang dia sunggi.

“Saya berjualan mulai sekitar jam 07.00,” kata nenek yang lupa dengan usianya tersebut. Setibanya di daerah kampus, dia berjalan menjajakan dagangannya. Untuk sampai di daerah kampus, dia harus naik lin kuning. “Jualannya ya jalan,” imbuhnya. Karena itu, dia sering berhenti untuk beristirahat lantaran kelelahan. Terlebih, cuaca yang panas membuat dia cepat lelah. Biasanya, dia pulang jam 14.30.

Barang dagangan tersebut bukan hasil tangan ringkihnya itu, melainkan dia dapat dari orang lain. Dengan sistem bagi hasil, dia mendapatkan separuh uang dari hasil camilan yang terjual. “Saya tak berani ambil banyak. Takut tidak habis,” tuturnya. Harganya pun bermacam-macam. Yakni, mulai Rp 3.000 sampai Rp 5.000. Di balik jerih payahnya tersebut, ada hal yang dapat menginsiprasi orang lain.

“Meski saya sudah tua, saya tetap semangat berjualan,” katanya. Dia malu kalau harus meminta belas kasih orang lain. “Karena saya hidup, saya harus bergerak,” sambungnya.

Dia tak ingin menggantungkan hidupnya kepada orang lain. Terlebih, dia percaya bahwa dengan berjualan seperti itu dapat terhindar dari penyakit. Sebab, tubuhnya tidak diam dan selalu beraktivitas. “Itung-itung buat olahraga,” ujarnya sembari tersenyum.

Dia berharap orang lain dapat terinspirasi dengan kerja kerasnya. Terutama kalangan remaja. “Jangan malas, apalagi minta-minta,” harapnya. Dia ingin pemuda-pemudi saat ini mau bekerja keras. “Jangan kalah sama saya yang sudah tua ini,” ucapnya.

Alasan lain, Nanik merasa badannya sakit semua jika tidak beraktivitas. Harapannya, orang lain juga merasakan hal serupa. “Intinya ndak boleh malas,” tandasnya.

Reporter : mg1

Fotografer : mg1

Editor : Hadi Sumarsono