Move On dari Konstruksi Proyek

UMKM Garap Sektor Rumah Tangga

KEMBALI BEKERJA: Nanang Sugiarto, pekerja las listrik tengah melakukan pengecatan finishing di rumah warga daerah Karangrejo, kemarin (11/6). Pekerja yang bisanya mengerjakan konstruksi besar ini memilih kembali ke segmen rumah tangga, lantaran lebih bergairah di tengah pandemi korona.

JEMBER, RADARJEMBER.ID Matahari kian terik tidak menyulutkan semangat Sugianto dan Nanang Sugiarto. Dua rekan kerja tersebut melanjutkan pekerjaannya sebagai tukang las. Ya, di tengah pandemi korona, ada celah para pekerja konstruksi untuk mengais rezeki. Yaitu memilih ke sektor rumah tangga dari pada mengerjakan proyek besar.

IKLAN

Sugianto mengaku, sejak korona menghantam, imbasnya sangat luar biasa. “Sepi, semua sepi,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jember. Dia mengaku, sebagai tukang las, sebenarnya Sugianto banyak berkecimpung mengerjakan konstruksi di proyek besar, tidak mengambil segmen rumah tangga. “Jika tidak ada korona, mungkin lanjut mengerjakan konstruksi di pusat perbelanjaan,” ujarnya.

Proyek tersebut, kata Sugianto, akhirnya berhenti saat Ramadan kemarin. Alasannya bukan perihal pemilik uang enggan meneruskan pekerjaan karena korona. Melainkan, bahan baku konstruksi yang didatangkan dari Surabaya itu tersendat. “Bahan bakunya dari Surabaya itu tutup. Tidak bisa kirim, ya akhirnya proyek mandek,” ungkapnya.

Dia mengaku, banyak rekannya bekerja serabutan untuk mendapatkan uang bagi keluarga. “Ada yang jualan online. Tapi paling banyak jadi kuli bangunan,” paparnya. Sugianto menemukan celah di tengah pandemi korona. Yaitu di sektor rumah tangga, yang tetap ada permintaan memakai jasa tukang las untuk memenuhi kebutuhan konstruksi di rumah.

Sementara itu, bagi Nanang Sugiarto, pada saat ini terpenting adalah bekerja dan tidak boleh mengeluh. Dia juga merasa bersyukur mendapatkan Bantuan Tunai Langsung (BLT) dari pemerintah.

Berdasarkan katalog Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jember dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jember. Sektor konstruksi menempati urutan keempat dalam distribusi persentase PDRB di Jember, yaitu sebesar 8,32 persen pada 2019 kemarin. Pada tahun 2019, kontribusi kategori konstruksi mencapai 6.424.981,7 juta rupiah atau sebesar 8,32 persen terhadap total perekonomian Kabupaten Jember.

Kontribusi kategori ini relatif sama selama periode 2015-2019 yaitu berkisar 7 hingga 8 persen. Dengan penghitungan atas dasar harga konstan 2010, laju pertumbuhan konstruksi di Kabupaten Jember relatif stabil yaitu sekitar 7 persen setiap tahunnya, dan di tahun 2019 mencapai 8,93 persen.

Menteri Koperasi dan UMKM Teten Masduki, seperti dilansir jawapos.com (8/2), mengatakan, telah mempersiapkan langkah-langkah strategis untuk menstimulus sektor UMKM kembali bangkit. Sebab, sektor inilah yang menjadi penopang utama kebangkitan ekonomi Indonesia.

Teten menambahkan, kebijakan yang disiapkan kementeriannya meliputi lima skema perlindungan dan pemulihan. Salah satunya UMKM miskin dan rentan sebagai penerima bantuan sosial, insentif pajak bagi UMKM dengan omset kurang dari Rp 4,8 miliar per tahun, relaksasi dan restrukturisasi kredit bagi UMKM, perluasan pembiayaan modal kerja UMKM dan kementerian, BUMN dan pemerintah daerah sebagai penyangga produk koperasi dan UMKM.

Sementara itu, Ketua Jember Ekonomi Kreatif (Jeka) Heri Purnomo mengaku, selama krisis ekonomi sebelum korona, UMKM di Indonesia selalu menjadi penopang. Sehingga krisis ekonomi dunia tidak begitu terasa imbasnya di Indonesia, termasuk di Jember. “Krisis ekonomi dirasakan masyarakat Jember sebelum korona ya krisis moneter pada 1998-1999. Padahal setelah itu ada beberapa krisis di dunia,” terangnya.

Sehingga, dia berharap UMKM jadi perhatian pemerintah untuk kembali menggairahkan. Dia mengaku, relaksasi kredit yang menjadi langkah untuk meringankan ekonomi UMKM tidak begitu menyentuh seluruhnya. Sebab, ada UMKM yang tidak meminjam uang di bank karena tidak memiliki anggunan.

Kini UMKM di Jember juga mulai paham dan mencari celah bagaimana mendapatkan penghasilan. “Hebatnya UMKM itu hari ini kerja A, besok bisa kerja B, bisa kerja C. Karena mengandalkan skill, tidak bergantung pada mesin-mesin besar seperti industri besar,” pungkasnya. (dwi/c2/lin)

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Lintang Anis Bena Kinanti