Warga Masih Krisis Air Bersih

Dampak Ambruknya Pertokoan Jompo

ANTRE: Warga Jalan Ahmad Yani berbondong-bondong mengambil air bersih dari tangki PDAM. Sejak ambruknya pertokoan Jompo, pipa PDAM terputus dan berdampak hingga ke pelanggan di wilayah Kepatihan.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Ini bukan musim kemarau, tapi sejumlah warga mengalami kelangkaan air bersih. Inilah yang terjadi di perkampungan Jalan Ahmad Yani. Mereka harus berduyun-duyun ambil baskom berukuran jumbo untuk mendapatkan air bersih dari mobil tangki PDAM.

IKLAN

Kondisi kesulitan air bersih di daerah Kota Jember tak lain lantaran ambruknya pertokoan Jompo yang terjadi awal Maret kemarin. Ahmad Fauzi, warga Jalan Ahmad Yani Gang IV, misalnya. Dirinya mulai kesulitan air bersih lantaran air dari PDAM tidak mengalir lagi. “Dulu memang sempat air PDAM itu tersendat, tapi tidak seperti ini, tidak ada sama sekali,” terangnya.

Nyatanya, kata dia, penyebabnya adalah jaringan PDAM itu terputus lantaran ambruknya pertokoan Jompo. Pria 44 tahun ini mau tidak mau hanya mengandalkan kiriman air bersih dari PDAM lewat mobil tangki.

“Kalau rumah daerah bawah dekat sungai, masih punya sumur. Tapi yang di atas tidak punya sumur. Jika tidak ada kiriman air PDAM dan stok air di rumah habis, maka terpaksa harus menampung air hujan,” katanya.

Dia pun berharap ada kepastian kapan air PDAM itu bisa mengalir lagi. “Sampai kapan seperti ini terus?” tanyanya.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, warga Gang 4 Jalan Ahmad Yani mulai berkumpul di depan gang. Semua peralatan rumah tangga yang bisa menampung air mereka bawa. Tak hanya ember dan jeriken, namun panci berukuran jumbo juga dikeluarkan oleh warga. Semua umur, mulai dari orang dewasa, kakek-nenek, hingga anak-anak turut membantu membawakan air bersih.

Suparman, salah satu pengemudi mobil tangki air PDAM, mengatakan, dalam satu hari mobil yang berisi lima ribu liter air tersebut menuju ke enam hingga delapan titik. “Mobil seperti ini ada empat. Setiap mobil rata-rata menuju ke enam sampai delapan lokasi setiap hari,” terangnya.

Bila dihitung, PDAM Jember mengirim air bersih sebanyak 160 ribu liter per harinya. Suparman mengaku, dampak jaringan pipa PDAM yang terputus tersebut juga berimbas di daerah dekat alun-alun, termasuk Jalan Ahmad Yani. Beruntunglah, tempat penting seperti Pemkab Jember dan sejumlah kantor-kantor tidak mengandalkan PDAM untuk sumber air. “Kalau kantor pemkab dan kantor lainnya, rata-rata punya sumur sendiri-sendiri,” jelasnya.

Suparman menjelaskan, pelanggan PDAM yang paling merasakan dampaknya adalah warga di Jalan Samanhudi. “Daerah Samanhudi paling parah,” terangnya.

Sementara itu, proses penggalian pipa PDAM di depan pertokoan Jompo sudah menunjukkan hasil positif. Pipa sudah terpendam dalam tanah, tapi masih belum selesai lantaran ada beberapa tempat masih penggalian. Dirut PDAM Ady Setiawan mengaku, saat pertokoan Jompo ambruk, saluran PDAM juga ikut terputus. Sehingga, ada tiga ribu pelanggan yang tidak bisa teraliri air PDAM.

Namun, kata dia, setelah kejadian tersebut, PDAM mulai berupaya agar kebutuhan air pelanggan terpenuhi. “Sekarang tinggal seribu pelanggan terdampak,” jelasnya.

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Lintang Anis Bena Kinanti