Tokoh Agama Kompak Dukung Penanganan Covid 19

PERAN ULAMA: Para narasumber dan peserta Webinar seri-2 yang digelar pengurus AIPI Cabang Jember, Kamis (11/6). Dalam diskusi virtual ini, ulama atau tokoh agama punya andil besar dalam membantu menangani pandemi Covid 19.

KALIWATES.RADARJEMBER.ID– Para ulama atau tokoh agama punya andil besar dalam membantu menangani pandemi Covid 19. Di antaranya memberi arahan dengan mengajak umat agar patuh terhadap protokol kesehatan. Termasuk juga meminta masyarakat supaya menaati kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Seruan atau fatwa lisan itu dilakukan secara pribadi maupun tertulis melalui surat keputusan resmi yang dikeluarkan lembaga keagamaan.

IKLAN

Demikian kesimpulan yang mengemuka dari agenda Webinar seri-2 yang digelar pengurus Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI) Cabang Jember, Kamis (11/6). Tiga narasumber dari kalangan akademisi ditampilkan sebagai pembicara untuk mengupas topik Agama sebagai Modal Sosial Masyarakat Menghadapi Covid 19. Masing-masing Rosnida Sari, Ph.D (dosen Universitas Jember), Dr. Linda Dwi Erianti, MA (dosen Universitas Jember) dan H. Fauzan, M.Si (dosen IAIN Jember).

“Secara umum tokoh-tokoh agama di Indonesia sepakat dalam melakukan reformasi cara beragama dan berkebudayaan. Khususnya dalam menghadapi pandemi Covid 19,” papar Linda Dwi Eriyanti yang juga dosen Hubungan Internasional FISIP Unej.

Kekompakan para tokoh agama itu bisa dilihat dari dukungan yang saling menguatkan terhadap kebijakan pemerintah dalam penanganan Covid 19. Baik mereka yang berada di lembaga Majelis Ulama Indonesia (MUI), ormas keagamaan Islam maupun non-Islam. Misalnya soal fatwa MUI No. 14/2020 tentang tata cara beribadah dan anjuran moral saat pandemi, tokoh agama NU dan Muhammadiyah sama-sama mendukungnya.

Di antaranya dalam hal menerapkan menjaga jarak sosial. Cara mengurus mayat korban virus korona. Menghindari salat Jumat di masjid untuk wilayah terdampak pandemi. Juga ajakan kepada umat Islam untuk beribadah di rumah selama Ramadan maupun salat Idul Fitri. “Semuanya kompak saling mendukung dan menguatkan,” papar Linda yang juga aktivis gender.

Demikian pula dengan tokoh-tokoh agama dari kalangan Kristen dan Hindu, mereka juga menunjukkan dukungan dalam membantu mencegah meluasnya Covid 19. Misalnya ketika hari raya Nyepi, tokoh-tokoh Hindu mengimbau umatnya untuk meniadakan pawai Ogoh-Ogoh. Termasuk pelaksanaan ritual penyucian diri Melasti berupa mandi di pantai supaya tidak diikuti oleh banyak orang.

Hal yang sama juga dilakukan oleh umat Kristiani dalam merayakan Paskah. Para tokoh agama Nasrani meneruskan imbauan Paus Fransiskus dari Vatikan. Seperti pesan yang menekankan urgensi solidaritas antar umat manusia. “Termasuk kegiatan misa dan berburu telurpun dilakukan secara virtual. Bahkan, perjamuan kudus pun diminta supaya banyak dilakukan di rumah,” tambah Linda.

Sementara itu, Rosnida Sari lebih banyak mengungkap mengenai peran ulama dalam menangani pandemi Covid 19 di Aceh. Menurut dosen Sosiologi ini, Provinsi Aceh termasuk wilayah yang paling minim terdampak Covid 19. Data terakhir, korban yang meninggal akibat terdampak virus korana hanya satu orang. Itupun meninggalnya pada 23 Maret 2020 lalu setelah yang bersangkutan melakukan perjalanan keluar Aceh. Sementara terdampak lain yang masuk kategori orang dalam pemantauan (ODP) ada 2.041 jiwa dan pasien dalam pengawasan (PDP) 106 jiwa.

Minimnya korban pandemi covid di Aceh, tak bisa dilepaskan dari peran ulama. Mengingat, ulama Aceh ikut menentukan pembuatan kebijakan daerah bersama umara (pemerintah), dan itu didukung oleh undang-undang. Ditambah lagi kepatuhan warga Aceh sangat tinggi terhadap para ulamanya.

“Di antaranya kebijakan terkait dengan penanganan pasien covid tertuang dalam tausiah Permusyawaratan Ulama Aceh (PUA) No. 3/2020. Salah satu isinya korban wabah covid yang meninggal wajib dilakukan fardu kifayah (disalati),” papar Rosnida yang juga berasal dari Aceh.

Di sesi terakhir, dosen IAIN Jember Fauzan, M.Si lebih banyak mengupas penanganan covid di pondok pesantren. Dia banyak menukil beberapa imbauan penangan covid yang dikeluarkan oleh Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI), asosiasi pondok pesantren di bawah naungan ormas NU. Di antaranya, para santri diimbau untuk membaca qunut nazilah, selawat thibbil qulub dan doa tolak bala.

“Itu semua sebagai ikhtiar kepada Allah agar pesantren dan seluruh bangsa Indonesia terselamatkan dari virus dan bencana korona,” jelas Fauzan. (*)

Reporter :

Fotografer : Istimewa

Editor : Mahrus Sholih