Cerita Abang Becak di Tengah Wabah Korona

Kondisi Semakin Terimpit, Terbantu Donasi Para Dermawan

Para tukang becak juga terimbas pandemi. Mereka kerap tak mendapat penumpang meski telah mangkal seharian. Beruntung, ada saja kaum dermawan yang tiba-tiba menyerahkan bantuan. Aksi filantropi ini dirasa sangat membantu kehidupan mereka.

BERKAH RAMADAN: Ahmadi tersenyum seusai menerima makanan berbuka dari seseorang yang tak dikenal. Selama Ramadan, dirinya kerap mendapat makanan untuk berbuka saat mangkal di jalan.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dua mobil MPV warna putih dan hitam itu bergerak lambat di jalan utama menuju Jember. Jl Hayam Wuruk – Jl Gajah Mada hingga Jl Sultan Agung. Setiap ada tukang becak yang menanti penumpang di pinggir jalan, mereka panggil untuk diberikan nasi bungkus. Ada juga yang memberikan sembako.

IKLAN

Sikap memberi tanpa pamrih itu juga ditunjukkan para pengemudi mobil itu. Mereka enggan untuk difoto dan dipublikasikan. “Gak usah difoto-foto. Mending abang becaknya saja difoto. Mohon maaf ya,” ucap pengemudi mobil MPV warna hitam tersebut.

Senyum bahagia ditunjukkan abang becak setelah menerima bantuan secara mendadak tersebut. Bahkan, tukang becak yang tak ada niatan ngetem mencari penumpang pun juga dapat rezeki yang sama. “Alhamdulliah. Saya itu nggak niat cari penumpang, tapi mau mandi di sumber,” ucap Ahmadi, salah seorang tukang becak.

Nasi bungkus yang dia terima diletakkan di tempat duduk penumpang, kemudian ditutup selimut dan kardus. Dalam tempat duduk penumpang tersebut juga ada paket sembako, mi instan, beras, dan minyak goreng. Paket sembako itu dia dapatkan saat di Alun-Alun Jember, beberapa waktu sebelumnya.

Melihat isi becak Ahmadi, cocok dinamakan becak campervan. Jika ada mobil campervan yang berisi perlengkapan rumah tangga yang siap bertualang, maka becak Ahmadi juga begitu. Sebab, Ahmadi juga membawa perlengkapan mandi, seperti pasta gigi, sabun, dan sampo. Termasuk juga ada pakaian ganti, serta perlengkapan ibadah. “Ini becak serba guna. Bisa cari uang, bisa jadi lemari, sekaligus tempat tidur,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Jember, yang disusul gelak tawa darinya.

Semua memang ada di becaknya. Ini lantaran Ahmadi setiap hari memang tinggal di becak. Maklum saja, dia adalah perantauan dari Kalibaru, Banyuwangi. Setiap malam, Ahmadi mulai menepi di pertokoan yang sudah tutup. Beberapa perlengkapan tidurnya pun disiapkan. “Kalau tidur gampang. Cari toko yang sudah tutup di jalan yang sepi,” jelasnya. Terkadang dia tidur di becak, tapi Ahmadi lebih suka tidur di bawah dengan becak sebagai penutupnya.

Sebelum azan subuh berkumandang, Ahmadi harus bangun dan lanjut mencari penumpang di Pasar Tanjung. Begitulah rutinitas setiap harinya. Tapi untuk saat ini kondisi begitu seret. “Sepi penumpang. Orang takut mau keluar, itu gara-gara korona,” ucapnya.

Walau sehari hanya bisa dapat penumpang satu sampai tiga saja, Ahmadi juga serba repot. “Maunya pulang. Tapi susah pulang ke Banyuwangi itu,” paparnya. Sebab, sangat sulit mendapatkan transportasi umum menuju Banyuwangi. Belum lagi ada pemeriksaan. Ahmadi terpaksa bertahan di Jember. Menikmati bulan puasa di tanah perantauan.

Waktu semakin sore, Ahmadi pun berpamitan untuk mandi ke sumber. “Sudah sore, saya ke sumber dulu. Ini dekat di Condro,” pungkasnya.

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih