Keuletan Zainul Kirom hingga Sukses Tekuni Hidroponik

Selama Sekolah Jadi Kuli, Kuliah Berjualan Es Cappuccino

Proses tak mengkhianati hasil. Inilah yang menggambarkan Zainul Kirom. Bekerja keras sejak SMP hingga menempuh pendidikan tinggi, kini dirinya sukses menggeluti usaha hidroponik. Berkat keuletannya, pemuda tersebut berhasil mengelola usahanya hingga beromzet jutaan rupiah per bulan.

PEMUDA INSPIRATIF: Zainul Kirom, 27, pengusaha muda yang memulai kerja keras sejak usia sekolah. Kini dia merintis usaha tanaman hidroponik dan mulai berkembang.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pagi menjadi waktu bagi Zainul Kirom untuk mengecek kondisi tanaman seladanya yang diletakkan di belakang rumah. Tepatnya di Jalan Ambulu, Desa Balung Kidul, Kecamatan Balung. Meski sekadar melihat-lihat, ia bisa menghabiskan waktu cukup lama untuk aktivitas sederhana itu. Seolah, ada kepuasan tersendiri saat melihat karyanya yang ia gagas mandiri sejak setahun belakangan ini.

IKLAN

Kirom, sapaan akrabnya, tak memiliki aktivitas lain selain mengurus tanaman-tanaman itu. Sebab, hanya selada hidroponik inilah yang menjadi satu-satunya kesibukan dia selama di rumah. “Ini satu-satunya ladang rezeki saya,” katanya, membuka pembicaraan dengan Jawa Pos Radar Jember.

Sepintas, hidroponik seladanya itu tampak sederhana. Dia hanya butuh lahan sekitar 5×6 meter persegi untuk seribuan lubang tanaman yang terbuat dari bahan paralon atau PVC. Dari lubang-lubang itulah, Kirom mengisinya dengan tanaman selada dengan sistem hidroponik. Dari lahan ini, dirinya bisa memanen selada hingga 10 kilogram dengan harga Rp 20 ribu per kilogram.

Kirom mengaku, selada hidroponiknya cukup laris. Bahkan, dirinya tak sampai memasarkan tanaman hidroponik itu. Tapi setiap hari selalu ada orang atau pemilik rumah makan, restoran, dan kafe yang datang mengambil selada ini langsung di kebunnya. Ada juga yang berasal dari pedagang pasar yang kerap membeli untuk dijual kembali.

Pemuda 27 tahun itu cukup percaya diri. Ia dikenal sebagai pemuda yang ulet dan mandiri. Sebab, sejak masa sekolah SMP hingga SMA, Kirom sudah bekerja layaknya orang dewasa. “Selama sekolah itu saya masih bekerja buat genting di kampung saya sebelumnya, Dusun Gumuk Rase, Desa Kemuningsari Kidul, Jenggawah,” jelasnya.

Kala itu, upah yang dia dapat memang tak seberapa, namun bagi dia, yang berharga adalah pengalamannya. Meski ia sekolah sambil bekerja, tapi urusan prestasi di sekolah, dia tak mau kalah. Terbukti, setelah lulus dari sekolahnya, MA Wahid Hasyim Balung, ia berhasil lulus dalam seleksi beasiswa Bidikmisi pada 2014 lalu.

Selama kuliah di Jurusan Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat II, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Kirom belum bisa menghilangkan kebiasaan lamanya. Dirinya tetap bekerja seperti masa sekolah dulu. “Kalau ngandalkan Bidikmisi, ndak bisa makan. Karena uang Bidikmisi hanya keluar tiga bulan sekali,” tuturnya.

Di tempat kuliahnya itu, Kirom berjualan es cappuccino. Tanpa rasa malu dan gengsi, kadang ia keliling dan mangkal di sekitar kampusnya. Karena keuletannya itu, dirinya sempat menjadi perhatian beberapa dosen yang sempat mengampu mata kuliahnya. “Di internal alumni sekolah, saya juga sempat jadi pembicaraan,” sahutnya.

Usai menempuh pendidikan tinggi, Kirom memutuskan kembali ke Jember dan mulai mencoba membuat tanaman hidroponik. “Awalnya cuma 200 lubang dari 10 paralon sebagai coba-coba dan latihan. Kalau sekarang alhamdulillah, omzetnya sudah lumayan,” tambahnya.

Berkat usahanya itu pula, ia dikenal oleh tetangga, alumni sekolahnya, hingga masyarakat luas. Bahkan, Kirom sendiri kerap diundang ke sekolah-sekolah dan komunitas belajar untuk memberikan pelatihan pembuatan tanaman hidropronik. “Hanya berbagi ilmu saja. Karena yang saya tekuni ini sebenarnya murah dan mudah. Hanya butuh keuletan saja,” ungkapnya.

Kini, dengan ditemani istrinya, Kirom menyiapkan target-target ke depan yang hendak dicapainya untuk mengembangkan usahanya itu. Baginya, saat menekuni wirausaha tersebut tidaklah harus menghasilkan banyak. Tapi sedikit-sedikit asal berkelanjutan. “Menurut saya itu lebih baik,” tandasnya.

Reporter : Maulana

Fotografer : Istimewa

Editor : Mahrus Sholih