Diterjang Air Bah, Alhamdulillah!

Berkah Banjir bagi Penambang Pasir

MELIMPAH: Seorang penambang pasir sedang mengeruk dasar sungai menggunakan sekop. Cara manual inilah yang dilakukan para penambang di Sungai Gileh. Mereka mengaku panen besar setelah banjir menerjang kawasan itu, akhir pekan kemarin.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Samsul, warga Dusun Paluombo, Desa Sumbersalak, Ledokombo, berkacak pinggang. Kepalanya geleng-geleng kala melihat tumpukan pasir yang ia tambang dari Sungai Gileh lenyap tersapu banjir. Padahal, tumpukan pasir itu adalah hasilnya menambang selama dua hari. Lelaki 45 tahun ini urung mendapatkan uang akibat banjir bandang keburu datang. Dia pun harus kembali mengeruk pasir dari dasar sungai itu.

IKLAN

Rupanya, banjir bandang itu tak selalu membuatnya nestapa. Sebab, Samsul mengaku, meski kehilangan pasir hasil penambangannya pascabanjir, Tapi, kata dia, setelah banjir surut, dirinya justru gampang mendapatkan material bahan bangunan itu. Sebab, lokasi yang semula dia tambang cerukannya penuh dengan pasir baru yang terbawa banjir dari hulu. “Pasirnya banyak lagi, meski sebelumnya lubang galian di dasar sungai sudah dalam,” katanya, kemarin (10/2).

Bagi kebanyakan orang, banjir bandang memang identik dengan bencana yang kerap menimbulkan korban. Baik nyawa maupun harta benda. Sehingga warga selalu cemas ketika mendengar bencana itu. Tapi hal itu tidak berlaku bagi Samsul dan sebagian warga lain Dusun Paluombo, Desa Sumbersalak. “Akhir pekan kemarin banjir bandang sempat melanda kampung kami. Air yang bercampur lumpur sampai meluap ke jalan,” tuturnya.

Banjir bercampur lumpur di Sungai Gileh yang melintas di kawasan setempat memang sempat membuat warga ketar-katir. Tapi, setelah banjir usai, justru dianggap mendatangkan rezeki bagi sebagian warga. Sebab, banjir itu juga membawa material pasir yang kualitasnya cukup baik.

Puluhan warga yang melakukan penambangan pasir secara manual di sungai malah senang saat banjir bandang datang. Ini semua karena banjir itu juga membawa material pasir dari hulu sungai. “Dibanding sebelumnya, pascabanjir kami lebih cepat mendapatkan pasir. Apalagi ketika musim kemarau, kami harus mencari lokasi baru untuk ditambang,” ujarnya.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, di Sungai Gileh ada puluhan penambang yang membetulkan lokasi penambangan yang rusak akibat diterjang banjir. Karena biasanya, warga memasang batu besar di lokasi penambangan. Batu ini sebagai tanda bahwa di kawasan tersebut merupakan area penambangan sehingga tak sampai dijamah oleh orang lain, dan dapat membahayakan warga. “Selain batu, biasanya kami juga memasang bambu. Tapi akibat banjir, kami harus membangun kembali,” tutur Samsul.

Tak hanya warga penambang pasir saja yang ketiban berkah banjir, sebagian warga yang menambang batu juga bernasib sama. Mereka juga mudah mendapatkan batu sebagai bahan bangunan itu pascabanjir menerjang wilayahnya. “Tiap tahun memang begini. Kalau sudah musim banjir, warga diuntungkan karena bisa mendapatkan pasir atau batu sungai,” pungkasnya.

Reporter : Jumai

Fotografer : Jumai

Editor : Mahrus Sholih