Saksi Tak Harus ke Jakarta, Operator Stand By Sebulan

Cerita di Balik Video Conference Sidang PHPU MK

Kecanggihan teknologi sudah diterapkan Mahkamah Konstitusi (MK) dalam menjalankan siding. Seperti video conference bagi para saksi. Namun, di balik itu ada perjuangan tim operator yang harus stand by selama sebulan penuh.

LANGSUNG: Dosen Hukum Tata Negara, Fenny Tria Yunita dan operator video conference sidang MK Agus Basuki mengambil peralatan sidang di FH Unej. (NUR HARIRI/RADAR JEMBER)

RADAR JEMBER.ID – Suasana ruangan video conference sidang perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) tampak sepi. Orang-orang yang bersengketa pada urusan pemilu 17 April 2019 lalu juga telah bubar. Mulai dari perwakilan partai politik, komisioner KPU Jember, dan sejumlah mahasiswa juga sudah meninggalkan lantai tiga Fakultas Hukum Universitas Jember (Unej).

IKLAN

Puluhan orang yang biasa datang ke lokasi ini, malam itu hanya tersisa dua orang. Ya, keduanya adalah orang yang menyiapkan segala kerumitan sidang jarak jauh Jakarta-Jember. Satu Dosen Hukum Tata Negara FH Unej dan pengelola video conference. Yakni Fenny Tria Yunita dan operatornya, Agus Basuki.

Kedua orang ini setidaknya sebulan terakhir harus menjaga ruangan khusus yang dijadikan bagian dari ruang sidang MK. Sebab, kelangsungan PHPU yang terjadi di Jember, Banyuwangi, Bondowoso, dan Situbondo harus dituntaskan di dalam ruangan tersebut. Alhasil, mereka pun stand by selama sebulan, kecuali hari libur.

“Kalau sidang PHPU presiden kan hanya menonton, itu hanya dua minggu dan tidak ada yang susah, karena nonton saja. Tetapi yang harus benar-benar kami jaga adalah sidang sengketa yang melibatkan KPU Jember dan sekitarnya. Itu lamanya satu bulan. Alhamdulillah, semuanya lancar sampai sidang selesai,” jelas Fenny.

Fenny menyebut, hingga sidang selesai, tidak ada kendala serius. Akan tetapi, saat ada jadwal sidang, dirinya dan beberapa operator harus selalu ada di dalam ruangan tersebut. Paling sulit yaitu menunggu waktu kapan sidang untuk Jember dilakukan. “Waktunya saja, karena yang sidang kan banyak. Jadi, harus siap selalu, karena jadwal sidang PHPU Jember juga bergilir dan jamnya menyesuaikan MK,” jelasnya.

Secara teknis, Agus Basuki menjelaskan, penyiapan video conference Jakarta-Jember memang tak begitu susah. Dirinya hanya menjaga server agar selalu terhubung dengan MK. “Pernah sekali jaringannya hilang, sehingga kami mengatur ulang jaringannya agar bisa digunakan untuk video conference,” jelas pria yang akrab dipanggil Abas tersebut.

Abas mengurai, saat sidang berlangsung, tidak ada bedanya dengan sidang pada umumnya. Hanya saja, ruang tersebut digunakan untuk pengambilan sumpah serta keterangan sejumlah saksi. Pada momen itu tidak boleh ada kendala, karena bisa berpengaruh fatal pada jalannya sidang MK.

Demi menjaga agar tidak ada kendala saat sidang jarak jauh berlangsung, pihaknya berkoordinasi dengan PLN agar tidak ada pemadaman. Begitu pula dengan jaringan internet, agar tidak terjadi gangguan yang membuat video conference terputus. “Berkat kerja sama dengan semua pihak, video conference berjalan lancar,” akunya.

Di sudut ruangan tersebut, Abas mengaku, sempat khawatir bila terjadi gangguan saat video conference dilakukan. Bagaimana tidak, seorang saksi dari Jember, Banyuwangi, Situbondo, dan Bondowoso pasti hadir saat jadwal sidang PHPU pengambilan keterangan saksi. Sementara itu, waktu kesaksian yang mengharuskan video berfungsi tidak bisa dipastikan. “Jadwal sidangnya banyak. Jadi, Jawa Timur dapat giliran. Maka sejak pagi kami sudah harus siap menjaganya. Sementara sidang pemeriksaan saksi bisa dilaksanakan siang atau pun malam,” tambahnya.

Berkat kegigihan sejumlah operator, mereka pun sukses membuat bagian ruang sidang MK untuk para saksi yang berasal dari Tapal Kuda. “Untungnya, jaringan yang terputus tidak pada saat pemeriksaan saksi. Karena saksinya disumpah hakim dari Jakarta melalui video, sementara saksi dan juru sumpahnya ada di sini. Kalau saat penyumpahan dan pemeriksaan saksi videonya terputus, bisa jadi masalah,” ulasnya.

Sidang melalui video conference, menurut Abas, memberi pengalaman tersendiri bagi para operator. Sebab, tanpa ada video conference tersebut, maka sejumlah saksi harus berangkat ke MK di Jakarta. “Kami senang bisa memfasilitasi sidang MK sekalipun sekadar pemeriksaan saksi. Yang jelas, video conference seperti ini bisa diterapkan pada kegiatan yang lain. Sidang Jakarta-Jember menjadi bukti bahwa kecanggihan teknologi bisa dimanfaatkan dengan baik,” pungkasnya. (*)

Reporter : Nur Hariri

Fotografer : Nur Hariri

Editor : Bagus Supriadi