Bernilai Ekonomi, Juga Konservasi

Sektor Daur Ulang Sampah Perlu Perhatian Khusus

BELUM OPTIMAL: Para pemulung mencari limbah yang bisa didaur ulang di TPA Pakusari. Perkembangan sektor daur ulang masih stagnan. Padahal, sektor ini tak hanya bernilai ekonomi, tapi juga pelestarian lingkungan.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sampah dan limbah rumah tangga bisa menjadi nilai tambah jika tergarap dengan baik. Hanya saja, sektor pengolahan sampah dengan konsep daur ulang di Jember masih belum tergarap serius. Ini bisa dilihat dari minimnya kontribusi terhadap perekonomian. Bahkan, angka dari tahun ke tahun, sektor pengolahan limbah tergolong stagnan. Padahal, sektor ini tak hanya bernilai ekonomi, tapi juga konservasi.

IKLAN

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jember Arif Joko Sutejo menjelaskan, sebenarnya laju pertumbuhan perekonomian di Jember dari tahun ke tahun menunjukkan kenaikan. Berdasarkan harga konstan 2010, angka pendapatan domestik regional bruto (PDRB) juga mengalami kenaikan. Dari Rp 44 juta lebih pada tahun 2015 menjadi Rp 54 juta lebih pada tahun 2019.

“Hal ini menunjukkan, selama tahun 2019 Kabupaten Jember mengalami pertumbuhan ekonomi sekitar 5,31 persen. Meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 5,23 persen,” ucapnya, saat melakukan publikasi PDRB Jember menurut lapangan usaha. Kenaikan PDRB ini, kata dia, murni disebabkan oleh meningkatnya produksi di seluruh lapangan usaha tidak dipengaruhi inflasi.

PDRB menurut lapangan usaha juga diperinci ke dalam 17 kategori. Tertinggi tetap didominasi oleh sektor pertanian, perikanan, perkebunan, dan kehutanan sebesar 26,39 persen. Berikutnya, industri pengolahan 20,46 persen. Sedangkan yang terendah adalah pengadaan listrik dan gas 0,05 persen. Disusul pengadaan air, pengolahan sampah, limbah, dan daur ulang 0,07 persen yang menempati peringkat kedua terendah PDRB.

Sektor pengadaan air, pengolahan sampah, limbah, dan daur ulang adalah kategori yang mencakup kegiatan ekonomi yang berhubungan dengan pengelolaan berbagai bentuk limbah. Seperti limbah padat atau bukan, baik rumah tangga maupun industri yang dapat mencemari lingkungan.

Menurutnya, peranan kategori ini terhadap perekonomian Jember selama 2019 relatif kecil, hanya Rp 51 juta atau sebesar 0,07 persen. Dengan pertumbuhan yang relatif tidak berubah tersebut, bisa dikatakan sektor ini stagnan jika dibandingkan tahun sebelumnya.

Menggapai hal ini, Ketua Mahapena Fakultas Ekonomi Universitas Jember Ahmad Munandar mengatakan, sampah dan limbah akan terus berdampingan sepanjang ada kehidupan manusia. “Setiap manusia itu menghasilkan limbah juga menghasilkan sampah. Itu tidak bisa dihapuskan dan selalu ada,” ujarnya.

Persoalannya, dia berkata, adalah sampah dan limbah itu kerap menjadi persoalan dan beragam dampaknya terhadap lingkungan. Karena itu, harus ada upaya untuk pengurangan dampaknya juga pemanfaatannya lewat daur ulang.

Sebagai mahasiswa pecinta alam yang juga terdaftar sebagai anggota organisasi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), tentu saja dirinya memandang sampah dan limbah tidak hanya dari sudut konservasi saja. Tapi juga secara ekonomi. Kendati selama ini, negara-negara yang kebijakannya pro lingkungan biasanya adalah negara mapan.

Dia lantas mengkritik, kenapa data PDRB dari BPS untuk sektor pengadaan air, pengolahan sampah, limbah, dan daur ulang, tidak dibikin spesifik. “Mengapa sektor ini tidak dijabarkan satu-satu. Sementara sektor lainya, seperti pertanian, dijabarkan,” ungkapnya.

Padahal, pengolahan air yang dikelola PDAM tentu saja berbeda jauh dengan pengolahan sampah, termasuk daur ulang. Bahkan, Ahmad menuturkan, jika daur ulang bisa disajikan dengan data khusus kontribusinya terhadap PDRB, hal itu bisa menjadi acuan bagi pemerintah daerah untuk lebih memperhatikan sektor tersebut. “Semisal daur ulang itu skornya kecil hanya satu. Tapi kontribusi terhadap kehidupan bisa lebih. Bahkan nilainya sama dengan sepuluh,” jelasnya.

Sebab, dia menegaskan, daur ulang adalah kegiatan konservasi yang mengurangi sampah. Jika daur ulang itu sukses, maka ada efek dominonya tak hanya dirasakan bidang lingkungan, tapi juga berkontribusi ekonomi. Contoh sederhananya, biaya pengeluaran untuk pengolahan sampah dan limbah yang dialokasikan pemerintah akan jauh berkurang.

Tak hanya itu, kegiatan ekonomi ibu rumah tangga lewat daur ulang lambat laun juga akan terbentuk. Sehingga menambah pendapatan keluarga. Oleh karenanya, Ahmad mendorong agar pemerintah lebih serius menggarap sektor ini. Terlebih, sepengetahuannya, di Jember ini belum ada perusahaan daur ulang. “Jember hanya menjadi tempat mencari bahan baku daur ulang. Jika ada, hanya dilakukan oleh kelompok kecil saja. Dan ini menjadi peluang,” pungkasnya.

Editor: Mahrus Sholih
Reporter: Dwi Siswanto
Fotografer: Dwi Siswanto