Pecatur Cilik Muazzam Bilal Wicaksana

Warisi Bakat Sang Kakek, Pernah Nangis saat Kalah di Malaysia

Namanya juga bocah, kalau kalah bertanding lalu menangis itu wajar. Bahkan, saat di kejuaraan internasional sekalipun. Inilah yang dialami Bilal Wicaksana, pecatur cilik berbakat asal Jember. Seperti apa kisahnya?

PUNYA POTENSI: Muazzam Bilal ditemani sang ayah, ketika sebelum bertanding pada kejuaraan Asia Tenggara di Malaysia pada 2018 lalu.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Usianya baru 10 tahun. Nama lengkapnya Muazzam Bilal Wicaksana. Sekilas, putra kedua dari dua bersaudara ini tidak tampak jika dia seorang atlet. Tapi begitu dia memegang bidak catur, maka orang yang melihat akan percaya jika putra pasangan Dwi Putranta Agung Wicaksana dan Diah Ayu Lestari tersebut, memiliki bakat luar bisa. Bahkan sejak usia dini.

IKLAN

Bilal mulai gemar bermain catur sejak masuk TK Besar. Menurut Agung, ayahnya, Bilal sempat diajari oleh kakeknya. “Dulu bapak yang ngajari. Akhirnya sama kakaknya Iqbal Wicaksana sama-sama main catur. Tapi kakaknya mandek tahun 2017. Bilal ini lanjut terus,” ungkap Agung.

Atlet cilik yang sekarang sekolah di SD Al-Furqon ini, sempat dilatih oleh beberapa pelatih. Mulai dari Billah, Bakti, hingga sekarang Basofi. Sejak usia dini, Bilal rutin mengikuti beberapa kejuaraan. Mulai dari tingkat kabupaten, provinsi, nasional, bahkan puncaknya internasional.

Prestasi tertinggi Bilal diraih pada 2018 lalu. Atlet kelahiran 22 Januari 2010 ini, berhasil menjadi juara pertama catur classic U-17 Kejuaraan Nasional (Kejurnas) di Cipayung Bogor. “Alhamdulilah Bilal dapat juara satu. Para juara di berbagai usia itu akhirnya dikirim mewakili Indonesia ke Malaysia. Ikut Kejuaraan tingkat Asia Tenggara,” lanjut Agung.

Bilal bersama sang ayah, berangkat ke negeri jiran. Di Malaysia, dia bergabung dengan atlet-atlet muda Indonesia, peraih juara di Kejurnas Bogor sebelumnya. “Di Malaysia Bilal main di catur classic usia delapan tahun. Tapi, hanya finish di peringkat keempat saja,” tutur Agung.

Lebih lanjut, kenang Agung, Bilal sebenarnya memiliki peluang besar untuk meraih podium. Sayang, anaknya salah perhitungan di langkah terakhir. Padahal, dalam permainan, Bilal sebenarnya sudah unggul bidak catur pion dan para perwira. Seperti raja, ratu, benteng, kuda dan menteri. “Pertandingan terakhir waktu itu. Pertandingan penentuan untuk bisa juara. Tapi salah langkah, akhirnya kena skak sekali langsung mati,” ceritanya.

Setelah pertandingan, layaknya anak kecil dengan penuh penyesalan, Bilal tak bisa menahan air mata. Pipinya basah lantaran tak kuasa menahan tangis. “Paling nemen nangisnya di Malaysia ini. Partai terakhir salah langkah. Seharusnya bisa jadi juara, malah terlempar ke peringkat keempat,” tutur Agung.

Namun, pertandingan Bilal di Malaysia ini menjadi pengalaman pertamanya di kejuaraan tingkat internasional, sekaligus mendapat pengalaman berharga. “Nangisnya sampai satu jam,” imbuhnya, sembari tertawa.

Selain cerita dari Malaysia itu, Agung juga terus memberi kiat-kiat khusus kepada Bilal. Seperti wajib melakoni pemanasan sebelum bertanding. Dia mencontohkan, apabila pertandingan pertama digelar pukul 09.00, maka satu jam sebelumnya, Bilal wajib pemanasan dengan bermain catur. Entah itu melalui kuis catur dari HP atau bermain permainan catur daring. “Dulu pernah tidak pemanasan, hasilnya berbeda,” kata pria asli Ponorogo ini.

Agung juga memiliki cara tersendiri menyegarkan kembali otak putranya tersebut agar lebih tenang dan enjoy sebelum turun suatu pertandingan dengan durasi yang cukup lama. Rata-rata waktu permainan catur classic, memakan satu jam setengah sampai dua jam. “Subuh dia saya ajak jalan ke Masjid untuk salat subuh. Setelah itu lanjut persiapan dan pemanasan sebelum bertanding,” tandasnya.

Reporter : Muchammad Ainul Budi

Fotografer : Istimewa

Editor : Mahrus Sholih