Asah Seni Peran Lewat Video

MENGHAYATI: Potret pementasan Teater Tiang pada Maret tahun lalu. Kini tak ada pementasan lagi lantaran wabah korona. Tapi mereka tetap mengasah kemampuan dengan berlatih secara daring.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Teater merupakan salah satu kesenian yang kompleks. Sebab, penggiat seni tersebut harus bertatap muka untuk membangun sebuah lakon tertentu. Sayang, kesenian kampus seperti berjalan di tempat, karena semua mahasiswa dirumahkan akibat korona. Namun di tengah situasi sulit ini, ada yang berinisiatif untuk terus menggerakkan nadi seni peran itu. Salah satunya adalah Teater Tiang Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universtias Jember (Unej).

IKLAN

“Kami membuat latihan teater via daring,” tutur Firda Yuli Safitri, Ketua Umum Teater Tiang. Dia menjelaskan, banyak pementasan yang ditunda karena wabah korona. Jadi, dirinya harus tetap menggerakkan roda organisasi dengan latihan secara berkala untuk merawat semangat anggota baru.

Firda memaparkan, sebenarnya latihan teater via daring itu cukup mudah. Semua anggota hanya diimbau untuk melihat pementasan lakon dari berbagai macam sumber. “Salah satunya, Youtube. Video itu hanya sebagai contoh saja,” ujar mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Unej angkatan 2017 tersebut.

Selanjutnya, dia menambahkan, para anggota diberi naskah fragmen monolog melalui grup WhatApp. Mereka diwajibkan menghafal naskah itu. Lalu, mengirimkan video ke grup WhatApp satu per satu. “Tujuannya untuk melatih ekspresi, artikulasi, dan gesture para anggota baru,” ucap warga kelahiran Banyuwangi, 28 Juli 1998, itu.

Firda menuturkan, tiga aspek tersebut merupakan bagian dari latihan keaktoran. Hasil latihan dalam bentuk video itu lalu dievaluasi oleh penggurus dan demisioner satu demi satu. Jadi, Firda menyatakan kegiatan itu sekaligus menjadi ajang sharing antar anggota.

Selain melatih keaktoran, Firda memaparkan, kegiatan tersebut juga digunakan untuk mengembangkan bakat lain. Yakni, editing video. “Video berdurasi lima sampai sepuluh menit itu harus diedit sekreatif mungkin dengan ilustrasi yang pas,” pungkas gadis asal Ketapang, Banyuwangi, tersebut.

Reporter : mg1

Fotografer : Istimewa

Editor : Mahrus Sholih