Jika Dibutuhkan, Siap Bantu Warga Tangkap Ular

Keberadaan ular, apapun jenisnya, masih sering membuat orang takut. Kadang-kadang, ada di dapur, di balik lemari, atau di dalam rumah. Sejauh ini, ular memang membutuhkan penanganan secara khusus. Jika tidak, bisa mengancam orang yang digigitnya.

HUMANIS: Salah satu kegiatan pecinta ular yakni menangkap ular yang masuk ke rumah warga.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Munculnya ular yang akhir-akhir ini marak di Jember menurut anak-anak muda yang tergabung dalam Komunitas X Kompas Jember ada banyak alasan. Ada yang karena alam, ada yang karena rumah warga dekat dengan semak-semak, dan ada pula ular yang mencari tempat aman.

IKLAN

“Ular itu juga sama dengan binatang lain, juga butuh aman. Nah, ular yang masuk ke rumah warga juga butuh aman,” kata Koordinator X Kompas Jember, Moch Yusuf Rifki.

Pria yang akrap dipanggil Ucup ini datang berdiskusi di Radar Jember, bersama beberapa teman lainnya seperti Rifal, Venom, Tiara, Meme, Jampal, Pram, Radit, dan Inun.

Ucup menjelaskan, X Kompas Jember lahir sejak 2015 lalu. Perkumpulan pecinta ular ini pun berkumpul dan membentuk organisasi termasuk ada AD/ART-nya. “Kami pecinta ular ini hadir sejatinya untuk membantu warga dari hewan liar,” ucap Ucup.

Sejak 2015 itu, Ucup pun kerap dipanggil warga untuk menangkap ular yang masuk ke rumah-rumah. Menurutnya, ular hanya akan aman saat sudah ditangkap. “Ingat, ular itu tidak takut dengan garam. Sehingga, kalau ada ular di rumah, sebaiknya ditangkap,” ucapnya.

Guna menangkap ular, membutuhkan keahlian khusus. Di situlah, kelebihan para pecinta ular. Selain mereka merawat ular yang sudah “jinak”, mereka juga mampu menangkap ular liar yang belum pernah disentuh manusia sekalipun.

“Ada teknik khusus untuk bisa menangkap ular. Akan tetapi, kalau tidak pengalaman sebaiknya jangan melakukan sendiri. Kami pun siap dipanggil karena tujuan kami membantu. Kami tidak pernah minta bayaran, karena kami pecinta ular,” ulasnya.

Khusus ular yang benar-benar liar dan mengamuk, menurutnya disarankan untuk dibunuh. Hal itu harus menjadi pilihan dari pada mengancam nyawa manusia. “Kecuali ularnya diam di dalam rumah. Itu bisa dipanggilkan yang ahli untuk ditangkap,” timpal Rival anggota lainnya.

Berkat hobi dan cintanya mereka pada ular, kini komunitas itu memiliki 70 anggota. Mereka berasal dari pelajar, mahasiswa, hingga warga umum. “Kalau yang aktif, dipanggil bisa datang, itu ada sekitar 35 orang. Rata-rata susah bisa menangkap ular. Jadi kami hadir ini bukan hanya cinta saja pada ular, tetapi kami juga hadir untuk membantu warga Jember,” jelas Ucup.

Saat bertandang ke kantor Jawa Pos Radar Jember, para pecinta ular ini pun menunjukkan sejumlah ular yang mereka rawat. Di antaranya ular jenis reticulatus phyton aldy dan ular boa atau dikenal ball phyton. Bahkan mereka juga sempat atraksi menangkap ular yang masih liar.

”Lahirnya pecinta ular di Jember ini kemudian banyak mengundang ketertarikan dari sejumlah kabupaten kota lain. Bahkan, beberapa orang harus datang ke Jember untuk belajar menjadi penakluk ular,” pungkasnya.

Waspada, Meski Tampak Jinak

Pada sebuah acara pameran atau kegiatan-kegiatan tertentu, acap kali kita menyaksikan atraksi orang bermain ular. Ada yang dikalungkan di leher, melilit tubuh, bahkan atraksi yang mencium ular. Nah, ular-ular yang demikian itu, bukan berarti jinak 100 persen.

Koordinator X Kompas Jember, Moch Yusuf Rifki mengungkapkan, ular memang ada yang berbisa dan dan tidak. Untuk ular berbisa pun memiliki tingkatan racun yang berbeda-beda. Ada yang ganas dan cepat mematikan, ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama. Apabila salah penanganan, maka korban yang digigit ular berbisa bisa tak bernyawa.

“Ular itu seperti kucing, kalau diganggu ya marah. Kalau kucing dengan mencakar, tetapi ular dengan menggigit. Jadi, ular yang menggigit, itu karena ularnya merasa terganggu dan terdesak,” kata pria yang akrap dipanggil Ucup itu.

Merawat ular menurutnya memiliki teknik khusus. Merawat ular yang masih kecil akan lebih sulit dan berbahaya dibanding ular yang besar. Alasannya, gigitan ular yang mengeluarkan racun berbisa hanya dapat dikontrol oleh ular yang sudah besar.

“Saat menggigit, ular yang kecil tidak bisa mengontrol, sehingga bisa racun yang dikeluarkan juga tidak terkontrol. Padahal, bisa racun itu penting untuk ketahanan tubuh ular dan pencernaan makannya,” urainya.

Merawat ular, menurutnya, tidak akan bisa jinak 100 persen. Para pecinta ular yang ada di X Kompas Jember, kerap menjadi korban gigitan ular. Namun, karena mereka mengetahui teknik penyembuhannya, maka merekapun tidak sampai masuk rumah sakit.

“Penyembuhannya cukup ekstrem, maka kami menyarankan agar warga yang tergigit ular berbisa sebaiknya dibawa ke rumah sakit. Itu saran kami karena racun ular berbisa berbahaya,” jelas pria yang kerap mendapat penghargaan dan menjadi juri di sejumlah tempat ini.

Berbicara bisa ular, Ucup menjelaskan ada tingkatannya tersendiri. Ular berbisa yang masuk kategori ganas yakni ular King Cobra. “Ular hijau, kobra, dan beberapa jenis lain di Indonesia tingkat ganasnya racun masih ada di bawah King Cobra,” tuturnya.

Nah, saat seseorang digigit ular di semak-semak, di sawah atau di lokasi lain, sebaiknya langsung dibawa ke rumah sakit. “Kecuali tahu kalau yang menggigit itu ular yang tidak berbisa,” ulasnya.

Dia mencontohkan, salah satu teknik penyembuhan ular kobra yang menyemprotkan racun berbisa ke mata yakni hanya dengan dialiri dengan air bersih. Namun, karena masyarakat tidak banyak tahu, mereka pun mengucek mata hingga membengkak dan butuh beberapa hari penyembuhan. “Tetapi tetap kami sarankan agar ke rumah sakit. Kecuali orang tersebut memahami teknik penyembuhannya sendiri,” saran Ucup.

Hal itu menurutnya yang menjadi salah satu alasan, mengapa ular tak 100 persen jinak. Saat diajak bermain, ular kadang tenang, tetapi saat ular dimandikan kadang-kadang menggigit yang memandikan.

“Kalau ular itu lapar, pasti lebih aktif. Untuk porsi pakan ular bervariasi melihat ukuran besar kecilnya. Ular kecil rata-rata tahan tidak makan satu minggu, tetapi yang sudah bisa tak makan sampai satu bulan. Porsi makannya pun berbeda,” pungkasnya.

Editor: Hadi Sumarsono
Reporter: Nur Hariri
Fotografer: Istimewa