Makin Mudah Temukan Pasar berkat Perdagangan Elektronik

Inovasi Mahasiswa Manfaatkan Daun Kelor Jadi Masker

Berkat teknologi, berbagai inovasi bisa ditemukan. Seperti yang dilakukan mahasiswa FTP Unej ini. Mereka memanfaatkan daun kelor menjadi masker, lalu dijual dengan memanfaatkan  e-commerce.

ENTREPRENEUR: Mahasiswa FTP Unej memanfaatkan daun menjadi kelor masker, lalu dijual di e-commerce dan menembus pasar di Indonesia.

RADAR JEMBER.ID – Daunnya kecil dan berbentuk bulat, itulah kelor.  Tanaman ini banyak dikenal berkaitan dengan hal yang mistis. Sebab, ada kepercayaan bahwa daun kelor itu mampu merontokkan jimat ataupun susuk. Bahkan, tak sedikit orang menanam kelor di pekarangan rumahnya, karena takut dianggap dukun.

IKLAN

Walau dianggap mistis, daun kelor itu berada di ruang laboratorium Fakultas Teknik Pertanian (TP) Universitas Jember. Bukan untuk sarana pengobatan hal mistik, justru daun kelor itu dijadikan sarana kecantikan oleh empat mahasiswa. Yakni Meyda Cahyaning Putri, Yoga Lintang Permana, Wiwik Rahayu W, dan Putri Sekaring.

Dipadukan dengan kunyit dan beras, daun kelor yang biasanya hanya diolah sebagai sayuran itu bisa jadi produk masker. “Nama produknya Merem, kepanjangannya dari masker kelor rempah,” ujar Meyda.

Setelah melakukan penelitian lebih dari tiga bulan, Meyda dan kawan-kawannya berhasil mengombinasikan daun kelor yang kaya antioksidan, kunyit, dan beras untuk meremajakan kulit tanpa bahan kimia. “Berdasarkan kajian yang kami lakukan, perawatan secara tradisional merupakan cara yang efektif dalam perawatan kulit wajah agar tetap halus dan sehat. Tentunya dengan menggunakan kosmetik tradisional yang dibuat dari bahan alami tanpa penambahan bahan kimia berbahaya,” jelasnya.

Meyda mengaku sudah memahami sejak lama bahwa kandungan kelor itu sangat baik. “Kelor ini termasuk tanaman yang ajaib. Karena mengandung vitamin A sepuluh kali lebih banyak dari wortel, kalsium 17 kali susu, protein 9 kali yogurt, Fe 25 kali bayam, dan vitamin C,” ujarnya.

Namun, kata dia, tak semua masyarakat familiar untuk mengonsumsi kelor. Apalagi untuk masker wajah. “Karena kelor dianggap sebagai hal mistis. Meskipun juga ada yang konsumsi kelor sebagai sayuran, tapi itu jarang,” tuturnya.

Karena memiliki ilmu dan teknologi, dia beserta rekan-rekannya percaya diri untuk membuat masker kelor sebagai usaha. Yakni sebagai produk kecantikan yang alami. Produknya itu makin dicari seiring pemahaman masyarakat yang ingin kembali ke alam atau back to nature. “Kalau masker daya tahannya lama. Apalagi sekarang untuk berjualan semakin mudah karena ada perdagangan elektronik seperti Blibli dan lainnya,” tuturnya.

Dengan menambah formulasi kunyit, kandungan vitamin A, B, E dan protein semakin banyak. Serta tersapat antioksidan yang mampu mengurangi keriput pada wajah dan peremajaan kulit. “Kunyit mengandung antoksidan, antiaging, dan kurkuminoid sebagai antibakteri yang sangat bagus buat kulit terutama wajah,” tambahnya.

Meida pun patut berbangga, karena idenya membuat masker kelor mendapatkan apresiasi dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).  Meida dan kawan-kawan berhasil mendapatkan pendanaan melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K) Kemenristekdikti.

Meida menjelaskan, selama ini proses produksi masih dilakukan di rumah produksi salah satu tim. Namun, untuk proses pengujian masker dilakukan di Laboratorium FTP. Selama bulan Maret hingga bulan Juli 2019, dirinya sudah mampu menjual sebanyak tiga ribu bungkus dengan harga per bungkusnya 4.000 rupiah untuk kemasan 15 gram.

Bahkan, produknya tidak hanya laku di pasar Jember saja, melainkan sudah ke penjuru di Indonesia. “Lewat online semua bisa,” katanya. Menurut dia, inovasi itu sangat diperlukan untuk mengembangkan usaha.

Tapi sebaik-baiknya inovasi, tanpa memperhatikan pasar, kurang tepat. Dia mengakui, lewat perdagangan elektronik atau e-commerce, banyak peluang untuk berwirausaha. “Semakin banyak berwirausaha, inovasi juga akan bermunculan,” pungkasnya. (*)

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Bagus Supriadi