Buntut Pembatalan Suntikan Modal Rp 5,8 Miliar

Buruh PDP Geruduk Kantor Bappekab

HADIAH KEJUTAN: Ketua FK-PAK Dwiagus Budiyanto menyerahkan dua pakaian dalam perempuan kepada pegawai Bappekab Jember. Hadiah ini dinilai sebagai simbol bahwa pimpinan OPD tersebut banci, karena tak menemui perwakilan buruh.

RADAR JEMBER.ID – Puluhan buruh Perusahaan Daerah Perkebunan (PDP) Kahyangan yang tergabung dalam Forum Komunikasi Pekerja Antar Kebun (FK-PAK) mendatangi Kantor Badan Perencanaan Pembangunan Kabupaten (Bappekab) Jember, kemarin (8/8). Mereka meminta klarifikasi, karena organisasi perangkat daerah (OPD) ini dituding bertanggung jawab atas pembatalan suntikan modal sebesar Rp 5,8 miliar untuk PDP.

IKLAN

Saat puluhan massa memenuhi kantor Bappekab, suasana sempat memanas. Teriakan buruh dan tanggapan dingin sejumlah pegawai membuat pekerja kebun itu mengamuk. Bahkan, ada yang sampai memukul kayu pembatas kantor hingga mengagetkan para pegawai. “Kami ingin bertemu langsung dengan Kepala Bappekab. Cepat hubungi! Kalau tidak, kami akan bertahan di kantor ini sampai yang bersangkutan datang,” pekik Dwiagus Budiyanto, Ketua FK-PAK yang sekaligus koordinator massa.

Dia mengatakan, puluhan buruh yang datang merupakan perwakilan pekerja di lima kebun yang dikelola PDP. Mereka rela tak bekerja hanya demi mendapat penjelasan dari Kepala Bappekab Achmad Imam Fauzi. Sebab, buruh menganggap, dia yang paling tahu soal alasan penghapusan usulan itu. Untuk itu, mereka meminta klarifikasi, karena organisasi perangkat daerah (OPD) inilah yang dituding bertanggung jawab atas pembatalan suntikan modal tersebut.

Menurutnya, pembatalan penyertaan modal bakal berdampak terhadap ribuan buruh, karena perusahaan mengalami defisit. Akibatnya, perusahaan tak bisa menggaji sekitar 2.400-an pekerja, karena anggaran yang seharusnya untuk upah dialihkan untuk membayar perpanjangan hak guna usaha (HGU) di empat kebun yang masa kontraknya habis pada 2020 mendatang. “Kenapa saat pencoretan kondisi ini tidak dipikirkan. Ini urusan perut. Seharusnya jadi pertimbangan,” kesalnya.

Hingga beberapa saat, buruh tetap bertahan di dalam kantor untuk menanti kehadiran Fauzi. Mereka meminta para pegawai cepat-cepat mendatangkan pimpinan mereka. Namun, karena tak kunjung datang, beberapa buruh terlihat emosi. Mereka menuding, para abdi negara ini tak peduli dengan nasib ribuan pekerja dan keluarganya. “Kalian enak di sini. Duduk-duduk dibayar. Kami harus berkeringat dulu di kebun dan di hutan,” ucapnya.

Di tengah suasana yang memanas, Darwis, seorang pegawai honorer, menemui para buruh. Dia berupaya menenangkan situasi. Pegawai di bagian perencanaan ini mengatakan, sejak Januari 2019, memang ada kekosongan kepemimpinan di bagian yang dia tempati. Sehingga dirinya menyebut, tak ada yang paham soal usulan maupun penghapusan anggaran penyertaan modal bagi PDP. “Karena itu memang dibahas di tingkat pimpinan,” ujarnya.

Suasana mulai mereda kala Darwis menyanggupi permintaan buruh agar menjemput Kepala Bappekab yang sedang mengikuti rapat badan anggaran di DPRD Jember. Para pekerja kebun itu keluar ruangan dan menanti kehadiran pejabat yang mereka cari. Namun, lebih 30 menit berselang, orang yang ditunggu tak kunjung datang. Kondisi ini memantik reaksi buruh. Mereka kembali memasuki ruangan untuk meminta kejelasan. “Kami jangan dipingpong. Kalau memang tak bisa menghadirkan ke sini, kami yang akan meluruk ke DPRD,” kata Dwiagus.

Di luar dugaan, Dwiagus mengeluarkan pakaian dalam perempuan, berupa celana dalam dan BH. Pakaian yang diserahkan ke salah seorang pegawai Bappekab ini karena buruh menilai OPD yang membidangi perencanaan pembangunan tersebut banci dan tak mau memperjuangkan nasib mereka. “Ini adalah simbol, kalau pimpinan Bappekab itu pengecut dan pecundang. Kami akan menyusul ke gedung dewan,” ujarnya.

Seusai itu, ada salah seorang buruh yang kembali menggebrak kayu penyekat kantor saat meninggalkan ruangan. Kerasnya suara gebrakan mengakibatkan salah seorang pegawai Bappekab syok hingga pingsan. Pegawai yang diketahui bernama Laili Hidayati tersebut dibopong oleh sejumlah orang untuk dibawa ke rumah sakit terdekat. (*)

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih