Menengok Kegigihan Warga Perum GMI

Ngecor Musala Pasca-Tadarus, Dilanjut Sahur Bersama

Bulan suci Ramadan tak menyurutkan semangat warga untuk bergotong royong membangun tempat ibadah. Tapi, lantaran siangnya berpuasa, pekerjaannya dilakukan tengah malam setelah tadarus hingga tembus waktu sahur.

GOTONG ROYONG: Sejumlah warga bahu-membahu melakukan pengecoran musala Al-Ikhlas di Perum GMI, Mangli.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Angin malam itu terasa sepoi-sepoi. Keringat belasan warga yang mengecor atap depan musala Al-Ikhlas, seakan dikeringkan oleh embusan angin. Rasa lega pun terlihat di wajah mereka yang saat itu sedang bekerja menaikkan adonan pasir dan semen ke atap musala.

IKLAN

Gerakan tangan warga yang berbaris terlihat semakin cepat saat bahan cor ditumpahkan dari dalam molen. Gelak tawa dan celotehan penyemangat terdengar cukup nyaring malam itu. Maklum, sumber suara di sekitar Perumahan Griya Mangli Indah (GMI) seakan didominasi dari ruang terbuka hijau depan musala tersebut.

Tak lama kemudian, beberapa orang turun dan sebagian duduk. Mereka beristirahat sebelum melanjutkan pengecoran atap. Suasana gotong royong malam itu semakin cair begitu kopi hangat yang disiapkan warga disajikan. “Ayo kopinya diminum dulu,” kata salah seorang warga.

Di sela-sela pengecoran tersebut, takmir Musala Al-Ikhlas, Amsori menjelaskan, kekompakan warga GMI patut dijaga sehingga pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya sosial dan keagamaan bisa cepat diselesaikan. Jika tidak, maka kekompakan itu bisa saja sirna.

Amsori mengaku, pengecoran atap musala sengaja dilakukan malam hari. Tepatnya setelah tadarus yang dilakukan di musala setempat. “Tadarus hanya sampai sekitar pukul 22.00. Setelah itu baru gotong royong melakukan pengecoran ini. Alhamdulillah, warga di sini sangat kompak,” ucapnya.

Selama pengecoran berlangsung, warga yang melakukan gotong royong pun tak kebingungan untuk menikmati konsumsi. Maklum, beberapa warga malam itu ada yang memberi kue, termasuk minuman yang sudah familier bagi orang Indonesia, yaitu teh dan kopi.

Ditambahkan, pengecoran saat bulan puasa cukup pas dilakukan. Sekali pun tidak bisa siang hari, tetapi kehadiran warga malam itu benar-benar membuat pekerjaan cepat selesai. “Karena siangnya semua warga berpuasa, maka kami sengaja menjadwal pengecoran malam. Jadi, warga sekitar kompak membantunya,” imbuhnya.

Amsari menyebut, pengecoran musala akan terus dilakukan hingga selesai. Malam itu, sekitar pukul 00.00, pengecoran pun tuntas dilakukan. Nah, karena waktunya sudah cukup larut, warga yang gotong royong kemudian diminta untuk melakukan sahur bersama. “Dengan begini, semoga guyubnya warga tetap terjaga. Jadi, setelah mengecor sekalian sahur bersama walau pun belum menjelang imsak,” bebernya.

Sebagai takmir musala, Amsori berpesan agar gotong royong yang demikian tidak sebatas membangun tambahan atap musala itu saja. Akan tetapi, ke depan harus terus tumbuh sehingga kegiatan keagamaan dan kegiatan sosial lainnya bisa tetap dilakukan secara bersama-sama.

Reporter : Nur Hariri

Fotografer : Nur Hariri

Editor : Mahrus Sholih