Tidak Punya Biaya, Bocah Bibir Sumbing Dibantu Kapolres

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Chandra Dwi Sadewa, 2, anak dari pasangan Muayin, 22 dengan Agustinus Arifin (alm), 27, warga Dusun Karangkebon, Desa Sumberlesung, Kecamatan Ledokombo yang tidak sangggup membayar biaya operasi bibir sumbing, akhirnya dibantu langsung oleh Kapolres Jember. Bantuan ini dibawakan oleh Kasubag Bin Ops Polres Jember, AKP Mahroby Hasan yang datang ke rumah Chandra bersama dr Lukman Hakim dari RS Kaliwates dan Dorkes Polres Jember, Kamis (9/4) kemarin.

IKLAN

Kedatangan rombongan dokter dan dorkes Polres Jember diterima Junaedi, kakek Chandra. Karena Agustinus Arifin ayahnya meninggal dunia tiga bulan lalu akibat kecelakaan di luar Jawa.

Kedatangan dokter ke rumah Chandra ini untuk melihat secara langsung kondisi balita tersebut. Sejak lahir, Chandra sudah mengalami bibir sumbing. “Nantinya setelah kita melihat langsung akan berkonsultasi dengan dokter ahli,” ujar Mahroby.

Untuk sementara, pihaknya tidak membawa Chandrake luar rumah, terlebih lagi dalam kondisi maraknya virus korona. “Mungkin kita menunggu dari hasil konsultasi antara dr Lukman Hakim dari RS Kaliwates dengan dokter ahlinya,” lanjut Mahroby.

Pihaknya menindaklanjuti laporan dari warga kalau ada balita yatim yang masih berumur 2 tahun yang mengalami bibir sumbing sejak lahir. Kapolres Jember AKBP Aris Supriyono langsung berinisiatif membantu untuk biaya operasi anak tersebut. “Karena mereka tidak mampu, dengan harapan nantinya setelah dilakukan operasi bisa normal kembali,” tegasnya.

Sementara itu dr Lukman Hakim menerangkan, kedatangannya kemarin untuk melakukan pengecekan sebelum operasi. Setelah ini dirinya harus berkonsultasi dulu dengan dokter ahlinya.

Junaidi, 40, mengaku sampai saat ini tetap bermimpi ingin kesembuhan untuk cucu tercinta. Meskipun dengan kondisi yang serba kekurangan

Diakui Junaidi, sebelumnya Chandra pernah dibawa oleh petugas medis untuk diperiksakan ke salah satu rumah sakit swasta di Jember.”Kata sopir ambulansnya, disuruh nunggu bulan April ini. Tapi sampai hari ini, belum ada kabar untuk tindak lanjutnya,” ujar Junaidi.

Yang menjadi bebannya saat ini adalah pihaknya diminta oleh salah seseorang yang membantunya, untuk menyiapkan uang Rp 1 juta. Bagi Junaidi yang hidupnya serba kekurangan, uang sebesar itu sangatlah menjadi beban berat baginya. Sehingga, dirinya memilih pasrah. “Katanya uang Rp 1 juta untuk biaya kamarnya. Jangankan satu juta, buat makan dan beli susu Chandra saja kami susah,” ujar Junaidi didampingi Muayyin, ibu Chandra.

Sementara Muayyin sendiri, mengaku sudah mencoba mengusahakan pengurusan jaminan kesehatan lewat BPJS Kesehatan dengan dibantu kepala dusun setempat.

Reporter : Jumai

Fotografer : Jumai

Editor : Lintang Anis Bena Kinanti