Kekhawatiran Warga yang Tinggal di Sempadan Sungai

Waswas saat Hujan Deras, Setengah Rumah Pernah Terendam Air

Setelah panas berkepanjangan, hujan lebat kerap melanda Kabupaten Jember beberapa waktu ini. Akibatnya, banyak warga yang waswas, terutama warga yang tinggal di sekitar bantaran sungai. Seperti warga yang tinggal di sempadan sungai Dusun Bedengan, Desa Tegalsari, Kecamatan Ambulu.

HAFAL: Sulasmi, warga Dusun Bedengan, Desa Tegalsari, saat menunjukkan sungai di belakang rumahnya, beberapa waktu lalu. Sungai tersebut sering meluap ketika turun hujan lebat berkepanjangan.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tanah di sekitar rumah yang mereka pijak tidak keras seperti lahan rumah orang biasanya. Teksturnya seperti lumpur. Warga yang tinggal di sana sering kali harus melangkah dengan hati-hati supaya tak terpeleset.

IKLAN

Inilah dampak yang terjadi karena banjir, yang kerap melanda salah satu permukiman di Dusun Bedengan, Desa Tegalsari, Kecamatan Ambulu, itu. Bahkan, konstruksi beberapa pintu rumah warga diberi penutup supaya air tak masuk ke dalam rumah. Meski demikian, rumah-rumah itu tetap terendam jika volume air berlebihan.

Seperti rumah milik Sulasmi. Dirinya bersama Sumirah dan Sholeh, warga yang tinggal di sebelah-sebelahnya, selalu deg-degan ketika hujan deras datang. “Ada tiga rumah di sini, yakni rumah milik saya, Sumirah, dan Sholeh,” tuturnya.

Sholeh merupakan warga yang baru sepekan lalu tertimpa musibah. Rumahnya roboh diterjang hujan selama tiga hari. Sementara itu, Sumirah tinggal sendirian, pintu rumahnya ditutup semen dan batu bata sekitar 30 sentimeter untuk mencegah air masuk ke rumah.

Beruntung, rumah Sulasmi tergolong lebih aman daripada kedua tetangganya itu, karena lebih tinggi. Sebab, jika banjir datang, rumah Sholeh dan Sumirah yang tenggelam. “Kedatangan banjir juga tak bisa diprediksi. Jadi, kami selalu waswas saat musim hujan deras,” ungkap warga kelahiran 1969 itu.

Maklum saja, kedua rumah itu hanya berjarak sekitar sepuluh meter dari bibir sungai. Ketika air meluap, otomatis rumah mereka ikut terendam karena debit air meningkat dan permukaan air naik cukup tinggi. Nah, lantaran kewaspadaan itu, Sulasmi memaparkan bahwa Sholeh, istri, dan kelima anaknya selamat dari maut. Sebab, mereka pindah tempat saat hujan lebat menerjang Desa Ambulu selama tiga hari.

Yang dia khawatirkan justru Sumirah. Sebab, keadaan fisik nenek berusia 65 tahun tersebut sangat memprihatinkan. Pandangannya sudah kabur, sedangkan pendengarannya juga berkurang. Terlebih, Sumirah tinggal sendirian. “Kalau hujan deras, dia saya suruh menginap di rumah. Kalau banjir datang saat dia tidur, kan bisa bahaya,” tegasnya.

Sulasmi menjelaskan bahwa dirinya menempati tempat tersebut sekitar awal 1990. Hal yang cukup mengejutkan, Sulasmi dan sejumlah warga menempati lahan milik pemerintah. “Tanah ini milik Dinas Pengairan Jember. Kami bebas menempati tempat ini, asalkan dimanfaatkan dengan baik dan tak diperjualbelikan,” ucapnya.

Reporter : mg1

Fotografer : mg1

Editor : Lintang Anis Bena Kinanti