Nestapa Pasutri Selamat Meski Atap Rumahnya Roboh

Karena Hujan Terus, Keluarga Saya Tidur di Pondasi Rumah Tetangga

Kejadian tragis dialami Sholeh, warga Dusun Bedengan, Desa Tegalsari, Kecamatan Ambulu, ini. Dia dan keluarganya selamat dari maut lantaran atap rumahnya roboh. Karena trauma dan cuaca yang tak menentu, dia ngungsi sementara waktu.

TETAP TEGAR: Potret Sholeh saat dikunjungi Jawa Pos Radar Jember kemarin (7/3). Dia tetap menunjukkan wajah ceria meski rumahnya roboh akhir pekan lalu (1/3).

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jika mendongak ke atas, tak ada susunan genting yang biasa kita lihat di rumah masing-masing saat berkunjung di kediaman Sholeh, warga Dusun Bedengan, Desa Tegalsari, Kecamatan Ambulu. Rumahnya kini tinggal tembok tak beratap. Bahkan, rumah bagian belakang sudah rata dengan tanah. Tembok tersebut ikut runtuh bersamaan dengan atap rumah.

IKLAN

Sementara itu, sebagian barang milik Sholeh dan keluarganya ditumpuk di depan rumah. Untungnya, ada pondasi bangunan milik tetangga yang bisa dimanfaatkan untuk menaruh barang serta tenda darurat yang dia buat dari kain bekas. Terlebih, barang-barang miliknya berjubel dengan sampah plastik yang terkumpul dan belum laku terjual. Terlebih, banyak barang bekas lain yang tempat itu makin kumuh.

“Rumah saya roboh pada Minggu (1/3) malam sekitar pukul 11.30,” tutur pria yang berprofesi menjadi tukang sapu dan pengumpul sampah tersebut.

Untungnya, tak ada korban. Akhirnya dia dan keluarganya tak menempati rumah tersebut lantaran hujan yang terus mengguyur Desa Ambulu selama tiga hari. “Karena hujan terus, saya meminta istri dan kelima anak saya untuk tidur di pondasi rumah tetangga sementara waktu,” imbuhnya. Tepatnya sejak Jumat (28/2) lalu.

Sholeh lantas menceritakan petaka yang menimpanya. Saat itu,  dia bersama keluarganya sontak terbangun pada Minggu malam. ”Kratak-kratak. Saya kaget,” katanya. Ternyata, ada atap yang roboh.

Terlebih, saat itu sedang hujan deras. “Kami tidak bisa apa-apa. Soalnya hujan lebat,” ujar pria kelahiran Tempurejo tersebut. “Jadi, kami baru bersih-bersih saat pagi hari, toh tidak ada apa-apa di dalam rumah. Hanya tumpukkan sampah,” ucap pria kelahiran 1975 itu.

Meski rumahnya hancur, dia tak berkecil hati. Dia mengaku bersyukur lantaran istri dan kelima anaknya selamat dari maut. Saat berita ini dimuat, Sholeh memaparkan sudah ada beberapa pihak yang membantu keluarganya. Diantaranya, pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember dan Kecamatan Ambulu.

“Mereka memberi bahan bangunan seperti genting, pasir, gamping, semen, dan batu bata,” sambungnya. Namun, yang sudah tiba di rumahnya masih tumpukkan genting.

Bantuan lain juga dia dapat dari beberapa warga. “Untuk sementara waktu, saya dan keluarga diizinkan untuk tinggal di rumah salah satu warga Dusun Bedengan,” kata pria yang berusia 45 itu.

Dia menyatakan bahwa bisa tinggal di sana sampai rumahnya selesai dibangun. Kemarin, juga ada warga desa lain yang memberikan bantuan beras setengah karung. “Untuk pembangunan sendiri, saya masih belum tahu akan dibangun kapan. Soalnya belum ada biaya,” lanjutnya.

Untuk sementara waktu, dia dan keluarganya bakal menginap di rumah salah satu warga sampai rumahnya selesai diperbaiki. “Semoga ada bantuan lain, kalau mengandalkan hasil kerja jelas tidak cukup,” tegasnya.

Reporter : mg1

Fotografer : mg1

Editor : Hadi Sumarsono