The Power of Emak-Emak Bertahan dari Pandemi

Bikin Keripik Pisang Bertema Keberagaman

Berlatar belakang berbeda tapi bernasib sama: terdampak pandemi. Hal ini mendorong perhatian sejumlah ibu rumah tangga di Desa Sukoreno, Kecamatan Umbulsari. Mereka kompak membentuk kelompok dengan misi khusus meringankan beban suami mereka, dengan cara berwirausaha.

TIDAK HANYA BERKUMPUL: Sejumlah ibu-ibu di Desa Sukoreno, Umbulsari, saat mengolah pisang menjadi produk bernilai ekonomis. Aktivitas ini sudah mereka lakukan sejak pandemi merebak.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Wanita memang serba bisa. Mereka seperti tak kehabisan akal dan memiliki berbagai cara saat situasi sulit. Seperti pada momen pandemi belakangan ini, yang membuat para suami yang memiliki pekerjaan serabutan atau buruh, harus kelimpungan memenuhi perekonomian keluarga.

Salah satunya adalah para wanita tangguh di Desa Sukoreno, Kecamatan Umbulsari. Mereka tak lantas berdiam diri. Justru sebaliknya, mereka kompak secara bahu-membahu menambal penghasilan suami dengan berwirausaha, yakni membuat keripik pisang.

Para ibu rumah tangga itu mengaku memang tidak memiliki kesibukan lain selain mengurus rumah tangga, anak, atau suami mereka. Biasanya mereka memiliki jadwal rutin bertemu tiap seminggu sekali di hari Rabu untuk membuat keripik pisang.

Dalam sebuah dapur milik Wagimah, warga Dusun Krajan Kidul, Desa Sukoreno, mereka terlihat sibuk. Di sana sini bertebaran buah-buah pisang dari berbagai jenis. Ada yang sudah dikupas, ada yang sedang digoreng, juga ada yang sudah dikemas.

Pisang yang biasa tumbuh di pekarangan dan pelataran milik warga sekitar itu tidak dibiarkan begitu saja oleh wanita-wanita tangguh tersebut. Mereka membelinya, lalu diolah untuk meningkatkan nilai jualnya. Lumayan, bisa untuk penghasilan tambahan keluarga.

Aksi para ibu itu bukan kali pertama, namun sudah diawali sejak Juli lalu. Hasilnya mungkin tak seberapa. Namun bagi mereka, yang penting berkelanjutan dan bisa sama-sama bersinergi dengan ibu-ibu lainnya. “Target kita kan ingin memberdayakan dan membantu perekonomian keluarga ibu-ibu di sini,” kata Wagimah, koordinator ibu-ibu pembuat keripik pisang itu.

Menurut Wagimah, aksi para ibu ini sebenarnya didasari karena faktor penghasilan suami mereka. Sejak Maret lalu, penghasilan suami yang rata-rata buruh dan pekerja kasar itu dinilai tidak menentu. Bahkan cenderung minus. Mereka seolah ogah berdiam diri.

Kegiatan mereka itu juga didorong Institut Kapal Perempuan, sebuah komunitas penggalang solidaritas sosial untuk pandemi yang berjaringan internasional. Kebetulan, Wagimah bersama sembilan anggotanya diberikan modal tanpa harus mengembalikannya, dan diberdayakan agar bisa membangun kemandirian ekonomi keluarga.

Meskipun kripik-kripik itu baru dijual di sekitar tempat tinggal mereka, namun hal itu sudah dianggap cukup. Sebab, bagi Wagimah dan ibu-ibu lainnya, yang penting berkelanjutan. “Kalau tidak seperti ini, dapur kita sulit ngebul. Harapannya, ini bisa seterusnya, berlanjut,” imbuhnya.

Sementara itu, Koordinator Resource Center dari Kapal Perempuan, Indri Sri Sembadra menambahkan, ibu-ibu yang ada di Desa Sukoreno itu turut sangat merasakan dampak dari pandemi belakangan. Terlebih, program bantuan solidaritas dari donatur itu juga disambut baik oleh warga.

Selain itu, tambah dia, ibu-ibu di Desa Sukoreno berasal latar belakang yang berbeda secara agamanya. “Sehingga program pemberdayaan ibu-ibu juga tidak hanya berdasar karena dampak pandemi, tetapi memang pemberdayaan perspektif gender, plus merawat kerukunan antarmasyarakat yang berbeda-beda itu,” terangnya.

Tak heran, sejak dinobatkan sebagai Desa Pancasila oleh Pemkab Jember 2017 lalu, Desa Sukoreno memang terbilang unik. Adanya program pemberdayaan ibu-ibu pembuat keripik pisang itu dinilai langkah tepat dan memiliki manfaat jangka panjang. Indri menyebut, sekitar 10-12 juta bantuan diberikan untuk ibu-ibu pembuat keripik pisang tersebut. “Mereka diharapkan bisa lebih terbangun kemandirian. Syukur-syukur, bisa menambal kebutuhan perekonomian keluarga hingga berkembang ke skala yang lebih besar,” pungkasnya.

Editor: Lintang Anis Bena Kinanti
Reporter: Maulana
Fotografer: Istimewa